nyeri kronik


  1. Definisi Nyeri kronis

Nyeri kronis adalah Perasaan dan pengalaman emosional yang tidak menyenangkan yang timbul dari kerusakan jaringan yang aktual dan potensial. atau gambaran adanya kerusakan. Hal ini dapat timbul secara tiba-tiba atau lambat, intensitasnya dari ringan atau berat. Secara konstan atau hilang timbul, tanpa prediksi waktu kesembuhan, dan lebih dari 6 bulan.

Adalah nyeri yang tetap ada setelah suatu luka disembuhkan. Nyeri ini disebabkan oleh respon tubuh ke nyeri akut. Nyeri kronis bisa intermiten atau berkelanjutan karena suatu luka jaringan yang terus berlanjut atau menjadi buruk, hal ini menyebabkan turunya berat badan, insomnia, kelelahan dan gejala-gejala lain tekanan.

 

  1. 2.      Patofisiologi Nyeri

Reseptor nyeri yang jumlahnya jutaan di tubuh, menerima sensasi yang kemudian dibawa ke spinal cord yaitu pada daerah kelabu dilanjutkan ke traktus spinothalamikus selanjutnya ke korteks serebral. Mekanismenya sebagai berikut:

  • Alur nyeri dari tangan yang terbakar mengeluarkan zat kimia bradykinin, prostaglandin kemudian merangsang ujung reseptor saraf yang kemudian membantu transmisi nyeri dari tangan yang terbakar ke otak.
  • Impuls disampaikan ke otak melalui nervus ke kornu dorsalis pada spinal cord.
  • Pesan diterima oleh thalamus sebagai pusat sensori pada otak.
  • Impuls dikirim ke corteks dimana intensitas dan lokasi nyeri dirasakan.
  • Penurunan nyeri dimulai sebagai signal dari otak, turun melalui spinal cord.
  • Pada kornu dorsalis zat kimia seperti endorfin dikeluarkan untuk menurunkan nyeri.

 

Patofisiologi nyeri kronis yang menyebabkan depresi (Suharjanti,2008) adalah :

  1. Nyeri menahun second pain. Rangsangan-rangsangan yang lebih hebat mengativasi nosiseptor polimodal dan mengakibatkan rasa difus, tak menyenangkan dan rasa terbakar terus menerus yang berlangsung lebih dari rangsangan nyeri akut dan permulaannya agak lambat. Second pain hubungan dengan aspek afektif-motivasional dan terdapat terutama waktu nyeri menahun dan nyeri berasal dari rongga perut.
  2. Nyeri waktu inflamasi disebabkan karena sensitisasi sentral dan penambahan input noksius perifer. Selain merangsang sensitisasi dari aferen primer, sel inflamasi pada trauma atau infeksi dapat juga memproduksi tanda kimiawi yang masuk ke dalam darah dan susunan saraf pusat untuk menghasilkan interleukin-1b (IL-1-b) dan cyclooxidase (COX) expression di susunan saraf pusat. PGE2 yang dihasilkan sebagian oleh aktivasi COX, dilepaskan tak hanya pada sisi trauma akan tetapi juga setelah induksi, melalui seluruh susunan saraf pusat. Selain itu sintetis dari PGE2 oleh COX2 dapat ikut serta dalam gejala nyeri yang lebih umum seperti depresi.
  3. Selain perubahan perifer dan segmental terdapat ikut sertanya otak depan pada respon patofisiologi terhadap nyeri. Reseptor NMDA pada korteks anterior cingulated cortex (ACC) dan korteks insular menambah respon kronis menetap terhadap trauma jaringan dan inflamasi tanpa mengenal nosiseptor akut di sumsum tulang.
  4. Terdapat ekspresi c-fos bertambah pada ACC, korteks insular dan daerah otak lain, akan tetapi tidak di batang otak atau sumsum tulang. Reseptor NMDA NR2B selektif di otak depan terlibat mekanisme alodinia dan depresi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. 3.      Meinhart & McCaffery mendiskripsikan 3 fase pengalaman nyeri:
    1. Fase antisipasi (terjadi sebelum nyeri diterima)

Fase ini mungkin bukan merupakan fase yg paling penting, karena fase ini bisa mempengaruhi dua fase lain. Pada fase ini memungkinkan seseorang belajar tentang nyeri dan upaya untuk menghilangkan nyeri tersebut. Peran perawat dalam fase ini sangat penting, terutama dalam memberikan informasi pada klien.

  1. Fase sensasi (terjadi saat nyeri terasa)

Fase ini terjadi ketika klien merasakan nyeri. karena nyeri itu bersifat subyektif, maka tiap orang dalam menyikapi nyeri juga berbeda-beda. Toleraransi terhadap nyeri juga akan berbeda antara satu orang dengan orang lain. orang yang mempunyai tingkat toleransi tinggi terhadap nyeri tidak akan mengeluh nyeri dengan stimulus kecil, sebaliknya orang yang toleransi terhadap nyerinya rendah akan mudah merasa nyeri dengan stimulus nyeri kecil. Klien dengan tingkat toleransi tinggi terhadap nyeri mampu menahan nyeri tanpa bantuan, sebaliknya orang yang toleransi terhadap nyerinya rendah sudah mencari upaya mencegah nyeri, sebelum nyeri datang.

Keberadaan enkefalin dan endorfin membantu menjelaskan bagaimana orang yang berbeda merasakan tingkat nyeri dari stimulus yang sama. Kadar endorfin berbeda tiap individu, individu dengan endorfin tinggi sedikit merasakan nyeri dan individu dengan sedikit endorfin merasakan nyeri lebih besar.

Klien bisa mengungkapkan nyerinya dengan berbagai jalan, mulai dari ekspresi wajah, vokalisasi dan gerakan tubuh. Ekspresi yang ditunjukan klien itulah yang digunakan perawat untuk mengenali pola perilaku yang menunjukkan nyeri. Perawat harus melakukan pengkajian secara teliti apabila klien sedikit mengekspresikan nyerinya, karena belum tentu orang yang tidak mengekspresikan nyeri itu tidak mengalami nyeri. Kasus-kasus seperti itu tentunya membutuhkan bantuan perawat untuk membantu klien mengkomunikasikan nyeri secara efektif.

  1. Fase akibat (terjadi ketika nyeri berkurang atau berhenti)

Fase ini terjadi saat nyeri sudah berkurang atau hilang. Pada fase ini klien masih membutuhkan kontrol dari perawat, karena nyeri bersifat krisis, sehingga dimungkinkan klien mengalami gejala sisa pasca nyeri. Apabila klien mengalami episode nyeri berulang, maka respon akibat (aftermath) dapat menjadi masalah kesehatan yang berat. Perawat berperan dalam membantu memperoleh kontrol diri untuk meminimalkan rasa takut akan kemungkinan nyeri berulang.

 

  1. 4.      Teori-teori tentang nyeri
    1. Teori spesifikasi

Teori yang mengemukakan bahwa reseptor dikhususkan untuk menerima suatu stimulus yang spesifik, yang selanjutnya dihantarkan melalui serabut A delta dan serabut C di perifer dan traktus spinothalamikus anterolateralis di medulla spinalis menuju ke pusat nyeri di thalamus. Teori ini tidak mengemukakan komponen psikologis.
Serat nyeri memasuki medula spinalis melalui radiks dorsalis, naik turun satu sampai dua segmen, lalu berakhir pada neuron didalam kornu dorsalis substansia grisea medula spinalis, serat tipe Aᵟ didalam lamina I dan V serta serat tipe C didalam lamina II-III, suatu area yang juga dinamai substansia gelatinosa. Kemudian bagian terbesar dari isyarat ini melintasi satu atau lebih neuron tambahan berserat pendek, akhirnya memasuki serat panjang yang segera menyeberang ke sisi medula spinalis berlawanan dan naik ke otak melalu traktus spinothalamikus anterolateralis. Ketika lintasan nyeri masuk kedalam otak, mereka terpisah menjadi dua lintasan tersendiri; lintasan nyeri tusuk hampir seluruhnya terdiri atas serabut kecil jenis A delta dan lintasan nyeri terbakar hampir seluruhnya terdiri atas serabut C yang lambat.

  1. Teori pola

Teori ini menyatakan bahwa elemen utama pada nyeri adalah pola informasi sensoris. Pola aksi potensial yang timbul oleh adanya suatu stimulus timbul pada tingkat saraf perifer dan stimulus tertentu menimbulkan pola aksi potensial tertentu. Pola aksi potensial untuk nyeri berbeda dengan pola untuk rasa sentuhan.
Impuls nyeri disalurkan ke susunan saraf pusat oleh dua sistem serat. Satu sistem nosiseptor terbentuk oleh serat-serat Aᵟ kecil bermielin, yang satunya terdiri atas serat C tak bermielin. Kedua kelompok serat ini berakhir ditanduk dorsal; serat A berakhir di neuro-neuron lamina I dan V sementara serat C akar dorsal berakhir di neuron di lamina I dan II. Sebagian akson neuron tanduk dorsal berakhir di medula spinalis dan batang otak, yang lain masuk ke sistem anterolateral, termasuk traktus spinothalamikus lateral. Rangsang nyeri mengaktifkan 3 daerah korteks: SI, SII dan girus singuli di sisi korteks yang berlawanan dengan rangsangan. Girus singuli berperan dalam emosi dan girektomi singuli dilaporkan mengurangi stres yang timbul karena nyeri kronik.

Serat sensorik Aβ yang menyalurkan impuls dari reseptor sentuh ke susunan saraf pusat, dan sebagian impuls sentuh juga dihantarkan melalui serat C. Informasi rasa sentuh disalurkan baik melaui jalur lemniskus maupun jalur anterolateral, sehingga hanya lesi yang sangat luas saja yang dapat menghilangkan sama sekali sensasi sentuh. Namun terdapat perbedaan jenis informasi sentuh yang disalurkan di kedua sistem tersebut. Apabila kolumna dorsalis dirusak, sensasi getaran dan propriosepsi berkurang, ambang rasa sentuh meningkat dan jumlah daerah peka sentuh dikulit berkurang, selain itu lokalisasi sensasi sentuh terganggu.

  1. Teori kontrol pintu gerbang (gate control)

Teori gate control menurut Melzack and Wall tahun 1965, mengusulkan bahwa impuls nyeri dapat diatur atau bahkan dihambat oleh mekanisme pertahanan disepanjang sistem saraf pusat. Mekanisme pertahanan dapat ditemukan di sel-sel gelatinosa substansia didalam kornu dorsalis pada medula spinalis thalamus dan sistem limbik (Clancy dan Mc Vicar, 1992 dalam Potter and Perry 1997).

Konsep dasarnya menggabungkan teori spesifik dan teori pola ditambah dengan interaksi antara aferen perifer dan sistem modulasi yang berbeda di medulla spinalis (subtansia gelatinosa). Selain itu juga mengemukakan sistem modulasi desenden (dari pusat ke perifer). Menurut teori ini, aferen terdiri dari dua kelompok serabut, yaitu kelompok yang berdiameter besar (Aβ) dan serabut berdiameter kecil (Aᵟ dan C). Kedua kelompok aferen ini berinteraksi dengan substansia gelatinosa ini berfungsi sebagai modulator (gerbang kontrol) terhadap Aβ, Aᵟ dan C. Apabila substansia gelatinosa (SG) aktif, gerbang akan menutup. Sebaliknya apabila SG menurun aktivitasnya, gerbang membuka. Aktif dan tidaknya SG tergantung pada kelompok aferen mana yang terangsang. Apabila serabut berdiameter besar terangsang, SG menjadi aktif dan gerbang menutup. Ini berarti bahwa rangsang yang menuju pusat melalui transitting cell (T-cell) terhenti atau menurun. Serabut Aᵟ adalah penghantar rangsang non-nosiseptif (bukan nyeri) misalnya sentuhan, proprioseptif. Apabila kelompok berdiameter kecil (Aᵟ, C) terangsang, SG akan menurun aktivitasnya sehingga gerbang membuka. Aᵟ dan C adalah serabut pembawa rangsang nosiseptif, sehingga kalau serabut ini terangsang, gerbang akan membuka dan rangsang nyeri akan diteruskan ke pusat.

  1. 5.      Proses Noisepsi

Antara kerusakan jaringan (sebagai sumber stimuli nyeri) sampai dirasakan sebagai persepsi nyeri terdapat suatu rangkaian proses elektrofisiologik yang secara kolektif disebut sebagai nosisepsi (nociception). Ada empat proses yang jelas yang terjadi pada suatu nosisepsi (kerusakan jaringan yang nyata), yakni ;

  1. Proses Transduksi (Transduction), merupakan proses dimana suatu stimuli nyeri (noxious stimuli) di rubah menjadi suatu aktifitas listrik yang akan diterima ujung-ujung saraf (nerve ending). Stimuli ini dapat berupa stimuli fisik (tekanan), suhu (panas) atau kimia (substansi nyeri).
  2. Proses Transmisi (Transmison), dimaksudkan sebagai penyaluran impuls melalui saraf sensoris menyusul proses transduksi. Impuls ini akan disalurkan oleh serabut saraf A delta dan serabut C sebagai neuron pertama, dari perifer ke medulla spinalis dimana impuls tersebut mengalami modulasi sebelum diteruskan ke thalamus oleh traktus sphinotalamikus sebagai neuron kedua. Dari thalamus selanjutnya impuls disalurkan ke daerah somato sensoris di korteks serebri melalui neuron ketiga, dimana impuls tersebut diterjemahkan dan dirasakan sebagai persepsi nyeri.
  3. Proses Modulasi (Modulation), adalah proses dimana terjadi interaksi antara sistem analgesik endogen yang dihasilkan oleh tubuh kita dengan imput nyeri yang masuk ke kornu posterior medulla spinalis. Jadi merupakan proses acendern yang di kontrol oleh otak. Sistem analgesik endogen ini meliputi enkefalin, endorfin, serotonin, dan noradrenalin memiliki efek yang dapat menekan impuls nyeri pada kornu posterior medulla spinalis. Kornu posterior ini dapat diiabaratkan sebagai pintu yang dapat tertetutup atau terbukanya pintu  nyeri tersebut diperankan oleh sistem analgesik endogen tersebut di atas. Proses modulasi inilah yang menyebabkan persepsi nyeri menjadi sangat subyektif orang per orang.
  4.  Persepsi (perception),  adalah hasil akhir dari proses interaksi yang kompleks dan unik yang dimulai dari proses transduksi, transmisi, dan modulasi yang pada gilirannya menghasilkan suatu perasaan yang subyektif yang dikenal sebagai persepsi nyeri
  5. 6.      Penyebab timbulnya rasa nyeri :

Adanya rangsangan-rangsangan mekanis/kimiawi ( kalor/listrik ) yang          dapat menimbulkan kerusakan-kerusakan pada jaringan dan melepaskan zat-zat   tertentu yang disebut mediator-mediator nyeri.

Mediator nyeri antara lain : histamin, serotonin, plasmakinin-plasmakinin,    prostaglandin-prostaglandin, ion-ion kalium. Zat-zat ini merangsang reseptor-  reseptor nyeri pada ujung saraf bebas di kulit, selaput lendir,dan jaringan, lalu      dialirkan melalui saraf sensoris ke susunan syaraf pusat ( SSP ) melalui sumsum       tulang belakang ke talamus dan ke pusat nyeri di otak besar ( rangsangan sebagai nyeri ).

 

Gambar 1: Mekanisme Nyeri dan Jalurnya

  1. 7.       Penggolongan Nyeri

Umumnya  nyeri digolongkan menjadi 2 jenis:

1.   Nyeri akut : nyeri yang tidak berlangsung lama. Berdasarkan sumber nyeri,   umumnya nyeri ini dibagi menjadi 3:

◦         Nyeri permukaan: sumbernya adalah luka luar, iritasi bahan kimia, dan rangsangan termal, yang hanya  permukaan kulit saja.

◦         Nyeri somatis dalam: biasanya bersumber dari luka/iritasi dari dalam tubuh, seperti karena injeksi atau dari ischemia

◦         Nyeri viseral: nyeri ini berasal dari organ-organ besar dalam tubuh, seperti hati, paru-paru, usus, dll

 

2.   Nyeri kronis: nyeri ini berlangsung sangat lama, bisa menahun, yang kadang sumbernya tidak diketahui. Nyeri kronis sering diasosiasikan dengan penyakit kanker dan arthritis. Salah satu tipe nyeri akut adalah neuropathic pain yang disebabkan oleh suatu kelainan di sepanjang suatu jalur saraf. Suatu kelainan akan mengganggu sinyal saraf, yang kemudian akan diartikan secara salah oleh otak. Nyeri neuropatik bisa menyebabkan suatu sakit dalam atau rasa terbakar dan rasa lainnya (misalnya hipersensitivitas terhadap sentuhan). Beberapa sumber yang dapat menyebabkan nyeri neuropati ini adalah  herpes zoster, dan phantom limb pain, dimana seseorang yang lengan atau tungkainya telah diamputasi merasakan nyeri pada lengan atau tungkai yang sudah tidak ada.

Chronic pain is often associated with diseases such as cancer and arthritis.

 

  1. 8.       Pemberantasan rasa nyeri

Merintangi pembentukan rangsangan dalam reseptor nyeri perifer, oleh analgetika perifer atau anestetika lokal.Merintangi penyaluran rangsangan nyeri dalam syaraf-syaraf sensoris oleh anestetika lokal.Blokade pusat nyeri pada SSP dengan analgetika sentral ( narkotika ) atau anestetika umum

  1. 9.      Fisiologi Nyeri

Suatu luka insisi melalui berbagai jaringan termasuk ujung saraf dan mengaktifkan nosiseptor spesifik (reseptor nyeri). Nosiseptor adalah aferen-aferen primer yang berespons terhadap stimulus yang berbahaya dan intens. Melalui sistem spinal dan berbagai sistem intersegmental, informasi tersebut mengakses pusat supraspinal di batang otak dan talamus. (29)

Neuron-neuron sensorik pada akar dorsal ganglia mempunyai ujung tunggal yang bercabang ke akson-akson perifer dan sentral. Akson sensorik (aferen nosiseptif) tersebar luas di seluruh tubuh – baik di kulit, otot, persendian, visera, meningen – dan terdiri dari 3 macam serabut saraf, yakni A-b, A-d dan C. (29)

Nyeri muncul dari aktivasi atau sensitisasi langsung dari neuron aferen primer, terutama nosiseptor polimodal serat C yang merupakan proses dinamis. Suatu stimulus ringan berupa goresan kulit memicu inflamasi perifer yang menurunkan ambang terhadap respons dari nosiseptor terhadap stimulasi sensorik. Dengan menurunnya ambang nyeri, stimulus yang dalam kondisi normal tidak terasa nyeri, sekarang menjadi menyakitkan. (30)

Secara klinis, fenomena ini dimanifestasikan sebagai hiperalgesia, yang merupakan amplifikasi sinyal rasa nyeri. Sinyal-sinyal nyeri ini ditransmisikan ke kornu dorsalis medula spinalis dengan cara amplifikasi dan meningkatkan durasi. Informasi nosiseptor ditransmisikan melalui serabut A-d (bermyelin) dan serat C (tidak bermyelin). (31) Sinyal dari perifer memasuki sistem saraf pusat (SSP) akan meningkat baik dalam amplitudomaupun durasi. Fenomena ini disebut “wind up” atau sensitisasi sentral. (26)

 

 

Gambar 1. Sensitisasi perifer. Nosiseptor ambang tinggi dapat dimodifikasi di perifer oleh kombinasi mediator kimis. Kerusakan jaringan dan pelepasan mediator sel inflamasi dilengkapi pelepasan neuropeptida dan katekolamin dari nosiseptif aferen dan ujung eferen simpatis.Sumber: Hudspith MJ, Siddall PJ, Munglani R. 2006. (32)

Tahap molekular dari sensitisasi sentral diawali dengan influks Ca2+ ke dalam sel neuron post sinaps melalui reseptor N-methyl-D-aspartate (NMDA) dan voltage-gated calcium channel. Ca2+ mengaktivasi Ca2+-kinase yang memfosforilasi reseptor NMDA dan hipereksitabilitas post sinaps. Hipereksitabilitas post sinaps memperbanyak pelepasan transmitter (NO dan Asam arakhidonat) yang merangsang pelepasan glutamat dari neuron pre sinaps. Di dalam sel post sinaps terjadi aktivasi protein kinase yang mengarah terjadinya transkripsi gen, perubahan fenotipe neuronal dan morfologi sinaps, dan akhirnya kematian sel. (32), (33)

 

Gambar 2. Mekanisme sensitisasi sentral dan nyeri kronik di kornu dorsalis medulla spinalis.

Sumber: Hudspith MJ, Siddall PJ, Munglani R. 2006. (32)

 

 

 

 

  1. 10.  Penggolongan Analgetik

Berdasarkan aksinya, obat-abat analgetik dibagi menjadi 2 golongan :

  1. Analgesik nonopioid, dan
  2. Analgesik opioid.

Kedua jenis analgetik ini berbeda dalam hal mekanisme dan target aksinya.

1.          Analgesik Nonopioid/Perifer (NON-OPIOID ANALGESICS)

Obat-obatan dalam kelompok ini memiliki target aksi pada enzim, yaitu enzim siklooksigenase (COX). COX berperan dalam sintesis mediator nyeri, salah satunya adalah prostaglandin. Mekanisme umum dari analgetik jenis ini adalah mengeblok pembentukan prostaglandin dengan jalan menginhibisi enzim COX  pada daerah yang terluka dengan demikian mengurangi pembentukan mediator nyeri . Mekanismenya tidak berbeda dengan NSAID dan COX-2 inhibitors.

Efek samping yang paling umum dari golongan obat ini adalah gangguan lambung usus, kerusakan darah, kerusakan hati dan ginjal serta reaksi alergi di kulit. Efek samping biasanya disebabkan oleh penggunaan dalam jangka waktu lama dan dosis besar.

 

Gambar 2.1 : Origin and effects of prostaglandins

 

Gambar 2.2 : Penghambatan oleh obat-obat Analgesik Nonopioid

Obat- obat Nonopioid Analgesics ( Generic name )

Acetaminophen, Aspirin, Celecoxib ,Diclofenac ,Etodolac ,Fenoprofen ,Flurbiprofen Ibuprofen ,Indomethacin ,Ketoprofen ,Ketorolac ,Meclofenamate ,Mefanamic acid Nabumetone ,Naproxen ,Oxaprozin ,Oxyphenbutazone ,Phenylbutazone ,Piroxicam Rofecoxib ,Sulindac ,Tolmetin.

Deskripsi Obat  Analgesik Non-opioid

a.         Salicylates

Contoh Obatnya : Aspirin, mempunyai kemampuan menghambat    biosintesis prostaglandin. Kerjanya menghambat enzim siklooksigenase secara     ireversibel, pada dosis yang tepat,obat ini akan menurunkan pembentukan   prostaglandin maupun             tromboksan A2 , pada dosis yang biasa efek sampingnya        adalah gangguan lambung( intoleransi ).Efek ini dapat diperkecil dengan      penyangga yang cocok ( minum aspirin bersama makanan yang diikuti oleh       segelas air atau antasid).

b.         p-Aminophenol Derivatives

Contoh Obatnya : Acetaminophen (Tylenoladalah metabolit dari

fenasetin. Obat ini menghambat prostaglandin yang lemah pada jaringan perifer       dan tidak memiliki efek anti-inflamasi yang bermakna.Obat ini berguna untuk            nyeri ringan sampai sedang seperti nyeri kepala,mialgia,nyeri pasca persalinan dan       keadaan lain.efek samping kadang-kadang timbul peningkatan ringan enzim hati.

Pada dosis besar dapat menimbulkan pusing,mudah terangsang, dan disorientasi.

c.         Indoles and Related Compounds

Contoh Obatnya : Indomethacin (Indocin), obat ini lebih efektif   daripada aspirin, merupakan obat penghambat prostaglandin terkuat. Efek         samping menimbulkan efek terhadap saluran cerna seperti nyeri             abdomen,diare, pendarahan saluran cerna,dan pankreatitis.serta        menimbulkan nyeri kepala, dan jarang terjadi kelainan hati.

d.         Fenamates

Contoh Obatnya : Meclofenamate (Meclomen) ,merupakan turunan         asam fenamat ,mempunyai waktu paruh pendek,efek samping yang serupa           dengan obat-obat AINS baru yang lain dan tak ada keuntungan lain yang          melebihinya.obat ini meningkatkan efek antikoagulan oral. dikontraindikasikan        pada kehamilan.

e.         Arylpropionic Acid Derivatives

Contoh Obatnya : Ibuprofen (Advil),Tersedia bebas dalam dosis rendah     dengan berbagai nama dagang.obat ini dikontraindikasikan pada mereka yang           menderita polip hidung ,angioedema, dan reaktivitas bronkospastik terhadap           aspirin.Efek samping,gejala saluran cerna.

f.          Pyrazolone Derivatives

Contoh Obatnya : Phenylbutazone (Butazolidin) untuk pengobatan

artristis rmatoid,dan berbagai kelainan otot rangka.obat ini mempunya efek anti-

inflamasi yang kuat. tetapi memiliki efek samping yang serius seperti            agranulositosis, anemia aplastik,anemia hemolitik,dan nekrosis tubulus ginjal.

g.         Oxicam Derivatives

Contoh Obatnya : Piroxicam (Feldene), obat AINS dengan struktur          baru.waktu paruhnya panjang untuk pengobatan artristis rmatoid,dan berbagai       kelainan otot rangka.efek sampingnya meliputi tinitus ,nyeri kepala,dan rash.

h.         Acetic Acid Derivatives

Contoh Obatnya : Diclofenac (Voltaren),obat ini adalah penghambat         siklooksigenase yang kuat dengan efek antiinflamasi,analgetik, dan antipiretik.   waktu parunya pendek. dianjurkan untuk pengobatan artristis rmatoid,dan     berbagai kelainan otot rangka.efek sampingnya distres saluran cerna, perdarahan      saluran cerna,dan tukak lambung.

i.          Miscellaneous Agents

Contoh Obatnya : Oxaprozin (Daypro), obat ini mempunyai waktu           paruh yang panjang.obat ini memiliki beberapa keuntungan dan resiko yang     berkaitan dengan obat AINS lain.

2.         Analgetik opioid

Analgetik opiad merupakan golongan obat yang memiliki sifat seperti opium/morfin. Sifat dari analgesik opiad yaitu menimbulkan adiksi: habituasi dan ketergantungan fisik. Oleh karena itu, diperlukan usaha untuk mendapatkan analgesik ideal:

  1. Potensi analgesik yg sama kuat dengan morfin
  2. Tanpa bahaya adiksi

-         Obat yang berasal dari opium-morfin

-         Senyawa semisintetik morfin

-         Senyawa sintetik yang berefek seperti morfin

Analgetik opiad mempunyai daya penghalang nyeri yang sangat kuat dengan titik kerja yang terletak di susunan syaraf pusat (SSP). Umumnya dapat mengurangi kesadaran dan  menimbulkan perasaan nyaman (euforia).. Analgetik opioid ini merupakan pereda nyeri yang paling kuat dan sangat efektif untuk mengatasi nyeri yang hebat.

Tubuh sebenarnya memiliki sistem penghambat nyeri tubuh sendiri (endogen), terutama dalam batang otak dan sumsum tulang belakang yang mempersulit penerusan impuls nyeri. Dengan sistem ini dapat dimengerti mengapa nyeri dalam situasi tertekan, misalnya luka pada kecelakaan lalu lintas mula-mula tidak terasa dan baru disadari beberapa saat kemudian. Senyawa-senyawa yang dikeluarkan oleh sistem endogen ini disebut opioid endogen. Beberapa senyawa yang termasuk dalam penghambat nyeri endogen antara lain: enkefalin, endorfin, dan dinorfin.

Opioid endogen ini berhubungan dengan beberapa fungsi penting tubuh seperti fluktuasi hormonal, produksi analgesia, termoregulasi, mediasi stress dan kegelisahan, dan pengembangan toleransi dan ketergantungan opioid. Opioid endogen mengatur homeostatis, mengaplifikasi sinyal dari permukaan tubuk ke otak, dan bertindak juga sebagai neuromodulator dari respon tubuh terhadap rangsang eksternal.

Baik opioid endogen dan analgesik opioid bekerja pada reseptor opioid, berbeda dengan analgesik nonopioid yang target aksinya pada enzim.

Ada beberapa jenis Reseptor opioid  yang telah diketahui dan diteliti, yaitu reseptor opioid μ, κ, σ, δ, ε.  (dan yang terbaru ditemukan adalah N/OFQ receptor, initially called the opioid-receptor-like 1 (ORL-1) receptor or “orphan” opioid receptor dan e-receptor, namum belum jelas fungsinya).

Reseptor μ memediasi efek analgesik dan euforia dari opioid, dan ketergantungan fisik dari opioid. Sedangkan reseptor μ 2 memediasi efek depresan pernafasan.

Reseptor δ yang sekurangnya memiliki 2 subtipe berperan dalam memediasi efek analgesik dan berhubungan dengan toleransi terhadap μ  opioid. reseptor κ telah diketahui dan berperan dalam efek analgesik, miosis, sedatif, dan diuresis. Reseptor opioid ini tersebar dalam otak dan sumsum tulang belakang. Reseptor δ dan reseptor κ menunjukan selektifitas untuk ekekfalin dan dinorfin, sedangkan reseptor  μ selektif untuk opioid analgesic.

Mekanisme umumnya  :

Terikatnya opioid pada reseptor menghasilkan pengurangan masuknya ion Ca2+ ke dalam sel, selain itu mengakibatkan pula hiperpolarisasi dengan meningkatkan masuknya ion K+ke dalam sel. Hasil dari berkurangnya kadar ion kalsium dalam sel adalah terjadinya pengurangan terlepasnya dopamin, serotonin, dan peptida penghantar nyeri, seperti contohnya substansi P, dan mengakibatkan transmisi rangsang nyeri terhambat.

Efek-efek yang ditimbulkan dari perangsangan reseptor opioid diantaranya:

  • Analgesik
  • medullary effect
  • Miosis
  • immune function and Histamine
  • Antitussive effect
  • Hypothalamic effect
  • GI effect

Efek samping  yang dapat  terjadi:

  • Toleransi dan ketergantungan
  • Depresi pernafasan
  • Hipotensi
  • dll

Atas dasar kerjanya pada reseptor opioid, analgetik opioid dibagi menjadi:

  1. Agonis opioid menyerupai morfin (pd reseptor μ, κ). Contoh: Morfin, fentanil
  2. Antagonis opioid. Contoh: Nalokson
  3. Menurunkan ambang nyeri pd pasien yg ambang nyerinya tinggi
  4. Opioid dengan kerja campur. Contoh: Nalorfin, pentazosin, buprenorfin, malbufin, butorfanol

Obat-obat Opioid Analgesics ( Generic name )

Alfentanil ,Benzonatate ,Buprenorphine ,Butorphanol ,Codeine ,Dextromethorphan

Dezocine ,Difenoxin ,Dihydrocodeine ,Diphenoxylate ,Fentanyl ,Heroin Hydrocodone ,Hydromorphone ,LAAM, Levopropoxyphene ,Levorphanol Loperamide ,Meperidine,

Methadone ,Morphine ,Nalbuphine ,Nalmefene ,Naloxone ,Naltrexone, Noscapine Oxycodone, Oxymorphone, Pentazocine ,Propoxyphene ,Sufentanil

Deskripsi Obat  Analgesik opioid

1. Agonis Kuat

a. Fenantren

Morfin, Hidromorfin ,dan oksimorfon merupakan agonis kuat yang bermanfaat dalam pengobatan nyeri hebat. Heroin adalah agonis yang kuat dan bekerja cepat .

b. Fenilheptilamin

Metadon mempunyai profil sama dengan morfin tetapi masa kerjanya sedikit lebih panjang. Dalam keadaan nyeri akut,potensi analgesik dan efikasinya paling tidak sebanding dengan morfin

Levometadil asetat merupakan Turunan Metadon yang mempunyai waktu paruh lebih panjang daripada metadon

c. Fenilpiperidin

Meperidin dan Fentanil adalah yang paling luas digunakan diantara opioid sintetik yang ada ,mempunyai efek antimuskarinik.subgrup fentanil yang sekarang terdiri dari sufentanil dan alventanil.

d. Morfinan

Levorfanol adalah preparat analgesik opioid sintetik yang kerjanya mirip dengan morfin namun manfaatnya tidak menguntungkan dari morfin.

2.         Agonis Ringan sampai sedang

a. Fenantren

Kodein,Oksikodoa,dihidrokodein, dan hidrokodon,semuanya mem-

punyai efikasi yang kurang dibanding morfin,atau efek sampingnya membatasi  dosis maksimum yang dapat diberikan untuk memperoleh efek analgesik yang sebanding dengan morfin,penggunaan dengan kombinasi dalam formulasi-formulasi yang mengandung aspirin atau asetaminofen dan obat-obat lain.

b. Fenilheptilamin

Propoksifen aktivitas analgesiknya rendah,misalnya 120 mg propoksifen = 60 mg kodein

c. Fenilpiperidin

Difenoksilat dan metabolitnya,difenoksin digunakan sebagai obat diare dan tidak untuk analgesik,digunakan sebagai kombinasi dengan atropin.

Loperamid adalah turunan fenilpiperidin yang digunakan untuk mengontrol diare.Potensi disalahgunakan rendah karena kemampuannya rendah untuk masuk ke dalam otak.

3.         Mixed Opioid Agonist–Antagonists or Partial Agonists

a. Fenantren

Nalbufin adalah agonis kuat reseptor kapa dan antagonis reseptor mu.

pada dosis tinggi terjadi depresi pernafasan

Buprenorfin adalah turunan fenantren yang kuat dan bekerja lama dan

merupakan suatu agonis parsial reseptor mu.Penggunaan klinik lebih banyak

menyerupai nalbufin,mendetoksifikasi dan mempertahankan penderita

penyalahgunaan heroin.

b. Morfinan

Butorfanol efek analgesik ekivalen dengan nalbufin dan buprenorfin,

tetapi menghasilkan efek sedasi pada dosis ekivalen ,merupakan suatu agonis

reseptor kapa.

c. Benzomorfan

Pentazosin adalah agonis reseptor kapa dengan sifat-sifat antagonis

reseptor mu yang lemah.Obat ini merupakan preparat campuran agonis-antagonis

yang tertua.

Dezosin adalah senyawa yang struktur kimianya berhubungan dengan

pentazosin, mempunyai aktivitas yang kuat terhadap reseptor mu dan kurang

bereaksi dengan reseptor kappa,mempunyai efikasi yang ekivalen dengan morfin.

4.         Antagonis Opioid

Nalokson dan Naltrekson merupakan turunan morfin dengan gugusan

pengganti pada posisi N,mempunyai afinitas tinggi untuk berikatan dengan   reseptor mu,dan afinitasnya kurang berikatan dengan reseptor lain.Penggunan       utama nalokson adalah untuk pengubatan keracunan akut opioid,masa kerja        nalokson relatif singkat, Sedangkan naltrekson masa kerjanya panjang,untuk            program pengobatan penderita pecandu .individu yang mengalami depresi akut          akibat kelebihan dosis suatu opioid ,antagonis akan efektif menormalkan pernapasan,tingkat kesadaran, ukuran pupil aktivitas usus,dan lain-lain.

5.         Drugs Used Predominantly as Antitussives

Analgesic opioid adalah obat yang paling efektif dari semua analgesic yang ada untuk menekan batuk.Efek ini dicapai pada dosis dibawah dari dosis yang diperlukan untuk menghasilkan efek analgesik. Contoh obatnya adalah Dekstrometrofan,Kodein, Levopropoksifen.

mau yang lebih lengkap tolongdong komennya ya agan agan semuanye makasih