gadar gigitan serangga


2.1 Defisini

Menurut Smetlzer and Bare Luka gigitan atau vulnus biasanya ditimbulkan akibat binatang seperti kucing, anjing, ular dan lain- lain.

Definisi lainnya luka gigitan adalah cedera yang disebabkan oleh mulut dan gigi hewan. Hewan mungkin menggigit untuk mempertahankan dirinya, dan pada kesempatan khusus untuk mencari makanan

Gigitan dan sengatan serangga adalah gigitan yang diakibatkan karena serangga atau binatang yang menyengat atau menggigit seseorang.

Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulakan gigitan dan sengatan serangga adalah gigitan atau sengatan dari binatang atau serangga yang dapat menyebabkan luka gigitan atau vulnus dimana binatang ataupun serangga yang menggigit tersebut menggigit untuk mempertahankan dirinya.

 

2.2 Macam – macam gigitan dan penanganannya

1. Gigitan Binatang Darat

a)      Gigitan  anjing, kucing, kera dan kelelawar.

Kasus Gigitan anjing merupakan kasus tertinggi yang paling sering terjadi. Dimana anjing merupakan salah satu penyebab atau vektor dari penyakit rabies. Rabies atau dikenal juga dengan istilah penyakit anjing gila adalah penyakit infeksi yang bersifat akut pada susunan saraf pusat yang disebabkan oleh virus rabies.

Penyebab Rabies:

Adapun vektor dalam penularan penyakit ini adalah anjing, kucing dan binatang-binatang liar seperti kera, kelelawar, rakun, serta rubah.

Cara Penularan Rabies:

Virus rabies ditemukan dalam jumlah banyak pada air liur hewan yang menderita rabies. Virus ini akan ditularkan ke hewan lain atau ke manusia terutama melalui :

  • Luka gigitan
  • Jilatan pada luka / kulit yang tidak utuh
  • Jilatan pada selaput mukosa yang utuh
  •  Menghirup udara yang tercemar virus rabies ( meskipun sangat jarang terjadi namun telah dilaporkan 2 kasus yang menimpa penjelajah yang menghirup udara di dalam goa yang terdapat banyak kelelawar )

Masa Inkubasi:

Masa inkubasi adalah waktu antara penggigitan sampai timbulnya gejala penyakit . Masa inkubasi penyakit rabies pada anjing dan kucing kurang lebih 2 minggu (10 hari – 14 hari). Pada manusia 2-3 minggu dan paling lama 1 tahun. Masa inkubasi tergantung dari :

  • Lokasi gigitan, biasanya paling pendek pada orang yang digigit di daerah kepala, tempat yang tertutup celana pendek
  • Bila gigitan terdapat di banyak tempat
  • Umur
  • Virulensi (banyaknya virus yang masuk melalui gigitan / jilatan)

 

Gejala Rabies:

Penyakit rabies dibedakan dalam 2 bentuk , yaitu bentuk diam (Dumb Rabies)   dan bentuk ganas (Furious Rabies).

Tanda – tanda Rabies Bentuk Diam (Dumb Rabies) :

  • Air liur menetes berlebihan, rahang bawah tidak dapat dikatupkan dan hewan tidak dapat mengunyah dan menelan makanan.
  • Tidak ada keinginan pada hewan untuk menyerang atau menggigit
  • Seluruh bagian tubuh mengalami kelumpuhan
  • Hewan akan mati dalam beberapa jam

Tanda – tanda Rabies Bentuk Ganas (Furious Rabies) :

  • Hewan menjadi agresif dan tidak lagi mengenal pemiliknya
  • Menyerang orang, hewan, dan benda-benda yang bergerak.
  • Bila berdiri sikapnya kaku, ekor dilipat diantara kedua paha belakangnya.
  • Pada anak anjing akan menjadi lebih lincah dan suka bermain , tetapi akan menggigit bila dipegang dan akan menjadi ganas dalam beberapa jam

Gejala Rabies Pada Manusia :

  • Diawali dengan demam ringan atau sedang, sakit kepala, nafsu makan menurun, badan terasa lemah, mual, muntah dan perasaan yang abnormal pada daerah sekitar gigitan (rasa panas, nyeri berdenyut)
  • Rasa takut yang sangat pada air, dan peka terhadap cahaya, udara, dan suara
  • Air liur dan air mata keluar berlebihan
  • Pupil mata membesar
  • Bicara tidak karuan, selalu ingin bergerak dan nampak kesakitan
  • Selanjutnya ditandai dengan kejang-kejang lalu lumpuh dan akhirnya meninggal dunia

Penatalaksaan :

-          Amankan diri dari lingkungan sekitar

-          Nilai keadaan dari status ABC pasien

-          Cuci luka pada air mengalir dan sabun atau larutan deterjen selama 10 – 15 menit

-          Imobilisasi bagian yang digigit

-          Berikan serum anti rabies

-          Bila dapat lakukan penangkapan binatang yang menggigit untuk identifikasi

-          Segera rujuk penderita untuk mendapatkan pertolongan lebih lanjut.

b)      Gigitan lintah

Ludah lintah mengandung zat anti pembekuan darah. Darah akan terus mengalir ke luar dan masuk ke perut lintah. Pada orang yang peka terhadap zat tersebut, gigitan lintah akan menyebabkan reaksi yang berupa pembengkakan, gatal dan kemerahan. Penatalaksaan :

Tindakan pertolongan yang dapat dilakukan adalah dengan hati – hati lepaskanlah dari tempat ia menggigit. Menyiram minyak atau air tembakau ke tubuh lintah akan membantu mempercepat usaha melepaskan gigitan liintah. Apabila ada tanda – tanda reaksi seperti yang disebutkan di atas, cukup digosok dengan obat atau salep antihistamin atau anti gatal.

c)      Gigitan ular

Luka akibat gigitan ular dapat berasal dari gigitan ular yang berbisa ataupun gigitan ular yang tida berbisa.Pada umumnya ular menggigit pada saat ia sangat aktif, yaitu pada senja hari atau fajar.ebagai akibat dari 1 jenis toksin saja. Bisa ular ( venom ) terduiri dari 20 atau lebih komponen sehingga pengaruhnya tidak dapat diinterpretasikan. Untuk menduga jenis ular yang menggigit adalah ular yang berbisa atau tidak dapat dipakai rambu – rambu bertolak dari bentuk kepala dan luka bekas gigitan sebagai berikut :

  • Ciri – ciri ular berbisa = bentuk kepala segi empat panjang, gigi taring kecil, bekas gigitan ular halus berbentuk lengkungan
  • Ciri – ciri ular tidak berbisa = kepala segitiga, terdapatt 2 gigi taring besar di atas rahang, 2 luka gigitan utama akibat gigi taring

Tetapi untuk identifikasi yang lebih pasti, lebih baik apabila ularnya dapat dibunuh. Identifikasi ini penting untuk mengenali jenis bisa yang telah dimasukkannya bersama bisa. Bisa ular ada yang dapat merusak dinding pembuluh darah, dan ada yang bersifat merusak jaringan saraf.

Gejala atau gambaran klinis yang dapat terjadi antara lain :

  1. Gejala lokal : edema, nyeri tekan pada luka gigitan, ekimosis ( dalam 30 menit – 24 jam )
  2. Gejala sistemik : hipotensi, kelemahan otot, berkeringat, menggigil, mual, hipersalivasi, muntah, nyeri kepala dan pandangan kabur.
  3. Gejala khusus gigitan ular berbisa antara lain :
  • Hematotoksik : pendarahan di tempat gigitan, paru, jantung, ginjal, peritonium, otak, gusi, hematemesis dan melena, pendarahan kulit ( petekie dan ekimosis ), hematuria.
  • Neurotoksik : hipertonik, fasikulasi, paresis, paralisis pernafasan, oftalmoplegi, paralisis otot laring,  reflek abnormal, kejang dan koma ( akibatnya pada saraf tepi dan saraf pusat )
  • Kardiotoksik : hipotensi, henti jantung, koma ( kerusakan otot jantung )
  • Haematotoksin : akibatnya pada sistem peredaran darah
  • Cytotoksin : gangguan pada jantung dan pembuluh darah
  • Cytolytik : peradangan serta kematian jaringan
  • Sindrom kompartment : edema tungkai dengan tanda – tanda 5 P ( Pain, pallor, paresthesia, paralysis, pulselesness )

 

 

 

 

 

 

Menurut Schwartz ( Depkes, 2001 ), gigitan ular dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

Derajat Vanerasi Luka Nyeri Edema / eritema Sistemik
0 0 + +/- <3 cm / 12 jam 0
I +/- + - 3-12 cm / 12 jam 0
II + + +++ >12-25cm/ 12 jam +

Neurotoksik, mual, pusing, syok

III + + +++ >25 cm / 12 jam ++

Ptekhieae, syok, ekimosis

IV +++ + +++ >ekstremitas ++

Gagal ginjal akut, pendarahan, koma

 

Kepada setiap kasus gigitan ular perlu dilakukan :

  • Anamnase lengkap : identitas, waktu dan tempat kejadian, jenis dan ukuran ular, riwayat penyakit sebelumnya.
  • Pemeriksaan fisik : status umum dan lokal serta perkembangannya setiap 12 jam.

Penatalaksaan :

Tujuan penatalaksaan pada kasus gigitan ular berbisa adalah :

  • Menghalangi atau memperlambat absorpsi bisa ular
  • Menetralkan bisa ular yang sudah masuk ke dalam sirkulasi darah
  • Mengatasi efek lokal dan sistemik

 

Tindakan penatalaksanaan :

  1. Sebelum penderita di bawa ke pusat pengobatan beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain:
  • Penderita diistirahatkan pada posisi hirizontal terhadap luka gigitan
  • Jangan memanipulasi daerah gigitan
  • Penderita dilarang berjalan atau minum minuman yang berakohol
    • Apabila gejala timbul secara cepat sementara belum tersedia antibisa, ikat daerah proksimal dan distal dari gigitan. Tidakan mengikat ini tidak akan efektif jika dilakukan lebih dari 30 menit pasca gigitan. Tujuan ikatan adalah menahan aliran limfe, bukan menahan aliran vena atau arteri.
  1. Setelah penderita tiba di pusat pengobatan diberikan terapi supportif seperti :
  • Penatalaksaan jalan nafas
  • Penatalaksaan fungsi pernafasan
  • Penatalaksaan sirkulasi sperti beri cairan infus cairan kristaloid
  • Beri pertolongan pertama pada luka gigitan seperti balut ketat pada dan luas di atas luka, lakukan imobilisasi dengan bidai.
  • Ambil 5 – 10 ml darah untuk pemeriksaan seperti protrombin, fibrinogen dan Hb, leukosit dll.
  • Apus tempat gigitan dengan venom detection
  • Beri SABU ( serum anti bisa ular ) yaitu serum kuda yang dikebalkan.

Indikasi SABU adalah gejala venerasi sistemik dan edema hebat pada bagian luka. Pedoman terapi SABU mengacu pada Schwartz dan Way yaitu ;

 

Derajat 0 -1 tidak diperlukan SABU. Dilakukan evaluasi dalam 12 jam, jika derajat meningkat maka diberika SABU
Derajat II 3 – 4 vial SABU
Derajat III 5 – 15 vial SABU
Derajat IV berikan penambahan 6 – 8 vial SABU

 

 

 

 

Sedangkan menurut Luck pedoman terapi SABU yaitu :

Derajat Beratnya evenovasi Taring atau gigi Ukuran zona edema / eriremato kulit ( cm ) Gejala sistemik Jumlah vial venom
0 Tidak ada + < 2 - 0
I Minimal + 2 – 15 - 5
II Sedang + 15 – 30 + 10
III Berat + >30 ++ 15
IV Berat + < 2 +++ 15

Pedoman yang dilakukan menurut Luck yaitu :

  • Monitor keseimbangan cairan dan elektrolit
  • Ulangi pemeriksaan darah pada 3 jam setelah pemberian antivenom yaitu:
  1. Jika koagulasi tidak membaik ( fibrinogen tdk meningkat dan waktu pembekuan darah memanjang ), ulangi pemberian SABU. Ulangi pemeriksaan darah pada 1 dan 3 jam berikutnya.
  2. Jika koagulasi membaikmaka monitoring ketat diteruskan dan ulangi pemeriksaan darah untuk monitoring perbaikannya. Monitoring dilanjutkan sampai 2 x 24 jam untuk mendeteksi kemungkinan joagulasi berulang.
  • Terapi supportif lainnya pada keadaan :
  1. Pendarahan
  2. Hipotensi
  3. Gangguan neurotoksik
  • Terapi prokfilaksis seperti pemberian antibiotik spektrum luas, berikan toksoid tetanus.

 

  1. 2.      Gigitan Binatang Air
    1. Gigitan trigoid ( duri babi )

Trigoid atau bulu babi biasanya terdapat diperairan laut dangkal. Biasanya penderita terkena sengatan trigoid disebabkan karena tidak sengaja menginjak atau bersentuhan dengan bagian tubuh binatang tersebut.

 

 

Tanda dan gejala :

  • Timbul rasa nyeri dalam waktu 90 menit
  • Rasa panas didaerah gigitan
  • Pusing bahkan terkadang sampai tidak sadar

Penatalaksaan :

-          Amankan diri dan lingkungan

-          Nilai status airway, breathing dan circulation pasien

-          Tenangkan penderita

-          Cabut duri babi yang menusuk

-          Rendam bagian yang tergigit dengan air hangat

-          Bersihkan luka dengan antiseptik dan imobilisasi daerah yang luka

  1. Gigitan ikan pari

Kelompok hewan – hewan laut ini menyuntikkan racunnya dengan menusukkan duri atau jarumnya

Tanda dan gejala :

  • Pembengkakan
  • Mual, muntah dan diare
  • Kejang – kejang bahkan disertai kelumpuhan otot

Penatalaksaan :

-          Amankan diri dan lingkungan sekitar

-          Nilai keadaan ABC

-          Bersihkan luka dengan sabun dalam air hangat selama 30 – 60 menit. Cara ini efektif untuk me-non-aktifkan racun yang tidak tahan panas

-          Bawa segera ke rumah sakit

  1. Gigitan gurita

Gurita tidak akan menggigit kecuali terinjakatau diganggu. Gigitannya sangat beracun dan sering kali menimbulkan kematian

Tanda dan gejala :

  • Kegagalan nafas secara progresifterjadi dalam 10 -15 menit
  • Luka bekas gigitan kecil, tidak terasa nyeri yang mungkin berwarna merah dan benjolan ( tampak seperti melepuh berisi darah )
  • Kehilangan rasa raba ( dimulai sekitar mulut dan leher )
  • Mual, muntah
  • Kesulitan menelan
  • Kesulitan bernafas
  • Gangguan penglihatan
  • Inkoordinasi
  • Kelumpuhan otot
  • Pernafasan berhenti
  • Denyut nadi terhenti
  • Dapat diikuti kematian

Penatalaksaan :

-          Amankan diri dan lingkungan

-          Nilai status ABC klien

-          Tenangkan penderita

-          Bersihkan / cuci luka bekas gigitan dengan air hangat

-          Lakukan pressure imobilisasi pada bagian yang cedera

-          Monitot tanda – tanda vital

-          Lakukan RJP jika diperlukan

-          Segera bawa ke pelayanan kesehatan terdekat.

 

2.3    Macam – macam sengatan serangga dan penatalaksaannya

  1. 1.      Sengatan serangga / hewan darat
  2. Sengatan laba – laba

Sengatan laba – laba dapat menimbulkan rasa sakit bahkan dapat meninbulkan nekrosis kulit dan keracunan sistemik. Cairan jernih dari laba – laba berisi esterase, fosfatase, alkalin protease dan enzim lain yang menyebabkan nekrosis jaringan dan hemolisis. Mulanya gigitan laba – laba ini tidak nyeri atau terasa panas,. Setelah beberapa jam terasa nyeri dan gatal dengan indurasi di sekitar gigitanserta daerah pucat iskemik atau kemerahan pada bekas gigitan. Pada kasus tanpa terapi akan sembuh dalam waktu 2- 3 hari. Pada kasus yang berat, kemerahan merata dan di bagian tengah ada pendarahan atau nekrosisdisertai timbulnya bula. Timbul jaringan kehitaman dan terkelupas yang beberapa minggu kemudian meinggalkan ulkus yang diameternya bisa mencapai 25 cm dan kadang – kadang membuat jaringan cekung. Proses penyembuhan bisa 3 – 6 bulan. Bila mengenai jaringan lemak, penyembuhan dapat mencapai 3 tahun. Komplikasi lokal dapat berupa infeksi sekunder, melukai jaringan saraf, demam, nyeri, lemah, mual, muntah.

Tanda dan gejala :

  • Bengkak dan kemerahan di daerah gigitan
  • Gatal – gatal
  • Nyeri dan terasa panas
  • Demam, menggigil kadang disertai sulit tidur
  • Dapat terjadi syok

Penatalaksaan :

  • Amankan lingkungan
  • Nilai keadaan airway, breathing, circulation
  • Tenangkan penderita
  • Bersihkan gigitan dengan menggunakan menggunakan air sabun atau alkohol 70 % atau antiseptik lainnya , balut dengan balutan dan diusahakan balutan steril dan beri kompres dingin, angkat dan lakukan imobilisasi bagian yang terkena gigitan.
  • Bila ada indikasi, berikan analgesik, anthisitamin, antibiotik
  • Rujuk segera ke rumah sakit
  • Pasien dimonitor terhadap tanda – tanda hemolisis dan komplikasi sistemik lainnya.
  1. Sengatan  lipan / kelabang

Sengatan kelabang dapat meninggalkan bekas luka berupa sepang luka, dan menyebabkan pembengkakan, rasa sakit dan kemerahandi sekitar tempat luka. Rasa terbakar, pegal dan sakit biasanya akan hilang dengan sendirnya setelah 4-5 jam kemudian. Gigitan kelabang walaupun tidak selalu membahayakan jiwa, dapat menimbulkan reaksi alergi yang gawat dan kadang – kadang dapat berakibat fatal

Tanda dan gejala :

  • Bengkak dan kemerahan di daerah gigitan
  • Gatal – gatal
  • Nyeri dan terasa panas
  • Demam, menggigil kadang disertai sulit tidur
  • Dapat terjadi syok

 

Penatalaksaan :

-          Amankan diri dari lingkungan

-          Nilai status airway, breathing dan circulation

-          Tenangkan penderita

-          Ambil sengatnya kalau nampak ( hati – hati saat mencabut. Jangan sampai menekan kantng bisa atau kalenjar bisa )

-          Cuci daerah gigitan dengan air sabun atau alkohol 70 % atau antiseptik lainnya.

-          Kompres daerah sekitar luka dengan air dingin.

-          Imobilisasikan daerah yang tergigit

-          Bisa dikombinasikan dengan obat penghilang rasa nyeri dan anthistamin

-          Jika gejala semakin parah segera ruuk ke pelayanan kesehatan terdekat.

  1. Sengatan tawon

Tanda dan gejala serta penatalaksaan pada kasus dengan gigitan tawon pada umumnya hampir sama dengan tandan dan gejala serta penatalaksaan pada kasus gigitan lipan / kelabang

Tanda dan gejala :

  • Bengkak dan kemerahan di daerah gigitan
  • Gatal – gatal
  • Nyeri dan terasa panas
  • Demam, menggigil kadang disertai sulit tidur
  • Dapat terjadi syok

Penatalaksaan :

-          Amankan diri dari lingkungan

-          Nilai status airway, breathing dan circulation

-          Tenangkan penderita

-          Ambil sengatnya kalau nampak ( hati – hati saat mencabut. Jangan sampai menekan kantng bisa atau kalenjar bisa )

-          Cuci daerah gigitan dengan air sabun atau alkohol 70 % atau antiseptik lainnya.

-          Kompres daerah sekitar luka dengan air dingin.

-          Imobilisasikan daerah yang tergigit

 

-          Bisa dikombinasikan dengan obat penghilang rasa nyeri dan anthistamin. rujuk

-          Jika gejala semakin parah segera ruuk ke pelayanan kesehatan terdekat.

 

  1. Sengatan semut api dan semut lainnya

Semut merah coklat atau semut coklat hitam menyengat kulit manusia dengan kekuatan rahang ketika menyemprotkan racun.

Penatalaksaan :

Pada kasus yang berat dapat terjadi penekanan saraf dan pembuluh darah. Jika keadaan seperti di atas maka tempat sengatan diberi es batu, glukokortikoid topikal dan antihistamin oral. Pustula ditutup dengan verban dan diberi antibiotik bila ada indikasi. Efineprin diberikan jika ada reaksi anafilaktik.

  1. Sengatan kalajengking

Kalajengking memliki sengatan penjepit yang digunakan untuk menggenggam mangsanya. Kemudian melumpuhkan mangsanya dengan sengatan yang terdapat pada ujung ekornya. Sengatan tersebut dapat menimbulkan rasa panas dan nyeri yang potensial menimbulkan keracunan yang mematikan.

Gambaran klinis pada lokasi sengatan kadang – kadang terlihat minimal dengan secara umum racun kalajengking menunjukan sifat hemolitik dan neurotoksik yang dapat menghasilkan keracunan yang berat.

Gejala lokal yang dapat ditimbulkan antara lain :

-          Nyeri seperti terbakar

-          Gejala peradangan disertai parestesi loal

Gejala sistemik yang dapat ditimbulkan antara lain :

-          Umunya ditemukan pada anak – anak yang berusia kurang dari 10 tahun. Gejala yang timbul antara lain gelisah, keluar keringat berlebihan, diplopia, nistagmus, fasikuli, opistotonus, salivasi, hipertensi, takikardi dan kadang – kadang kejang, paralisis otot pernafasan

-          Gejala – gejala tersebut dapat pula disertai dengan edema paru, syok, koagulopati, pankreatitis, gangguan fungsi ginjal, ikterus, hipertermia.

 

 

 

 

 

Penatalaksaan :

  •  Bila sengatan berasal dari spesies yang tidak mematikan, Daerah sengatan dikompres dengan menggunakan kompres dingin atau es batu, analgesik atau antihistamin.
  • Umumnya sengatan hanya menimbulkan nyeri lokal dapat ditangani di rumah dengan instruksi kembali ke bagian gawat darurat bila terjadi perkembangan penyakit menjadi gangguan saraf dan otot atau saraf kranial.
  • Perlakukan pasien dengan tenang, berikan tekanan dengan kompres dingin pada sengatan agar mengurangi absorpsi racun. Berikan infus intravena midazolam untuk mengontrol agitasi, gerakan otot yang tidak beraturan akibat sengatan tersebut.
  • Pemantauan selama pengobatan dapat diberi dan sedatif atau narkotik jika perlu terutama pasien yang mengalami gejala – gejala neuromuskular untuk mencegah terjadinya henti nafas.

Secara umum penatalaksaan dapat dibagi menjadi 3 terapi yaitu :

  1. Terapi supportif
    1. Stabilisasi :

-            Penatalaksaan jalan nafas

-            Penatalaksaan fungsi nafas : ventilasi dan oksigenasi

-            Penatalaksaan sirkulasi : pasang infus kristaloid

  1. Dekontaminasi

-                                Cuci luka dan berikan tetanus profilaksis jika diperlukan

-                                Jangan melakukan pengisapan dan insisi lokal pada area sengatan

  1. Terapi spesifik

Terapi antivenim dengan pemberian serum skorpion ( polivalen )

  1. Terapi tingkat lanjut

Terapi ini dilakukan untuk mengatasi gejala sistemik akibat keracunan sengatan kalajengking seperti hipertensi, edema paru, bradiritmia, gelisah dan syok

-   Hipertensi dan edema paru dapat diatasi dengan pemberian nifedipin, nitroprusside, atau prazosin

-   Bradiaritmia dapat dikontrol dengan pemberian atropin

-   Pada penderita yang gelisah dengan gerakan – gerakan yang tidak terkontrol dapat diberikan infus intravena kontinudengan midazolam.

-   Pemberian antivenim harus dilakukan hati – hati sebab dapat memberikan reaksi analilaksis.

-   Reaksi syok anafilaksis dapat dijumpai pada penderita yang sensitif terhadap racun kalajengking.

 

  1. 2.      Sengatan Serangga / Binatang Laut
    1. Sengatan ubur – ubur

Kelompok hewan laut ini menimbulkan cederabdengan sengatan dari sel – sel penyengat dari alat – alat penangkap ( tentakel ) yang dapat menyebabkan rasa panas terbakar dan sedkit pendarahan pada kulit.

Tanda dan gejala :

  • Rasa panas dan terbakar serta sedikit pendarahan
  • Urtikaria
  • Mual, muntah
  • Kejang otot
  • Syok
  • Kesulitan bernafas

Penatalaksaan :

-            Amankan diri dari lingkungan

-            Nilai status airway, breathing dan circulation

-            Bebaskan anggota badan yang cedera dari tentakel – tentakel dengan handuk basah

-            Cuci luka dengan larutan alkohol 70 %

-            Berikan 10 ml larutan Na Glukonat

-            Pasang tourniket dan berikan antidot sea wasp antivenom ( SWA ) bila ada

-            Rujuk ke pusat pelayanan kesehatan terdekat

 

 

 

 

2.4 Tenggelam.

a. Definisi Tenggelam

Proses tenggelam diawali ketika penderita mulai berusaha keras untuk mempertahankan dirinya untuuk mengapung di atas air.

b. Proses tenggelam

Penderita akan menegukkan air dalam jumlah yang banyak. Pada saat upaya mempertahankan diri untuk mengambang mulai gagal, maka penderita akan mulai berusaha menghirup udara yang sebanyak – banyaknya dan menahannya. Saat itulah air dapat masuk ke dalam saluran pernafasan. Akibatnya akan ada reflek batuk dan menelan sehingga tanpa disadari penderita akan meneguk air lebih banyak lagi. Akibatnya saluran nafas atau tepatnya epiglotis akan mengalami spasme sehingga saluran nafas menjadi tertutup. Penderita akan menjadi tidak sadar karena kekurangan oksigen.  Bila penderita masih sadar akan terjadi upaya bernafas dan udara masuk ke dalam paru – paru, spasme yang terjadi hilang bersamaan dengan hilangnya kesadaran.

c. Macam – Macam tenggelam

Istilah Tenggelam ada 2 macam yaitu :

1.Tenggelam

Bila upaya pertolongan baik meraih penderita ataupun RJP gagal maka baru terjadi tenggelam.tenggelam tidak berarti penderita meninggal.

2. Nyaris tenggelam

Dikatakan nyaris tenggelam apabila Penderita yang masih bernafas dan mampu membatukkan air. Atau dapat dikatakan nyaris tenggelam adalah bertahan hidup selama sedikitnya beberapa waktu dalam air tanpa ventilasi. Akibat paling umum yang ditimbulkan adalah hipoksia.

d. Upaya Penanganan korban tenggelam

Upaya pertolongan pada penderita tidak boleh ditunda, transportasi ke fasilitas kesehatan harus dilakukan secepat mungkin. Bantuan nafas pada penderita tenggelam mungkin perlu dilakukan dengan tiupan yang lebih kuat karena kemungkinan terjadinya spasme otot saluran nafas tersebut. Jangan berpikir untuk mengeluarkan air dari paru –paru. Air paling banyak masuk ke dalam perut terlebih dahulu dan ini juga akan menyebabkan sulitnya memeberikan nafas bantuan.

Pedoman pertolongan untuk korban tenggelam antara lain :

  • Keamanan lokasi dan penolong
  • Kondisi penderita ( ada respon pada penderota atu tidak, apakah ada cedera pada penderita atau tidak )
  • Kondisi air ( suhu air, arus, kedalaman air )
  • Sumber daya yang ada

Prinsip pertolongan di air :

  1. Raih dengan atau tanpa alat
  2. Lempar(  alat apung )
  3. Dayung ( atau menggunakan perahu mendekati penderita )
  4. Renang ( upaya terakhir, harus terlatih dan menggunakan alat apung )

Penatalaksaan pada korban tenggelam antara lain :

  1. Pindahkan korban segera dari air dengan cara teraman.
  2. Bila ada kecurigaan cedera spinal, 1 penolong mempertahankan posisi kepala, leher dan tulang punggung pada 1 garis lurus. Pertimbangkan untuk menggunakan papan spinal dalam air, atau bila tidak memungkinkan pasanglah sebelum menaikkan penderita ke darat.
  3. Buka jalan nafas penderita, periksa nafas. Bila tidak ada maka upayakan untuk memberikan nafas awal secepeta mungkin dan berikan nafas sepanjang perjalanan. Upayakan wajah penderita menghadap ke atas.
  4. Sampai di darat atau perahu lakukan penilaian dini dan RJP bila perlu.
  5. Berikan O2 sesuai indikasi
  6. Lakukan pemeriksaan fisik, jika ada cedera rawat cedera.
  7. Segera bawa ke fasilitas kesehatan.

 

Upaya – upaya untuk menyelamatkan korban tidak boleh ditunda secara dini. Keberhasilan resusitasi dengan perbaikan neurogenik sempurna pada korban yang nyaris tenggelamdengan perendaman lama pada air dingin. Setelah resusitasi, hipoksia dan asidosis adalah masalah utama pada korban yang nyaris tenggelam dimana mereka membutuhkan intervensi segera dari departement kedaruratan. Perubahan patofisiologis dan cedera paru bergantung pada tipe caira ( air tawar atau air garam ) dan volume dari aspirasi. Saat aspirasi, fungsi paru yang berubah mungkin diantisipasi. Setelah seseorang bertahan dalam air dia akan menun jukan gejala gawat pernafasan akut, hipoksia, hiperkarbia, asidosis respiratorik dan asidosis metabolik.

 

Penatalaksanaan di Departemen Kedaruratan.

Terapi ditujukan untuk memelihara perfusi serebral dan oksigenasi adekuat untuk mencegah kerusakan lebih lanjut.Pada organ vital, rerusitasi jantung paru segera adalah faktor yang mempunyai pengaruh terbesar untuk dapat bertahan.Tujuan penatalaksanaan adalah untuk mencegah hipoksia.

  1. Jamin jalan nafas dengan perfusi perifer yang adekuat.
    1. Gunakan termometer rektal untuk menentukan tingkat hipotermia jika pasien tenggelam di air dingin.
    2. Mulai prosedur penghangatan selama resusitasi sesuai anjuran(penghangatan ekstrakorporeal, dialisis peritonial yang dihangatkan, inhalasi oksigen hangat aerosol, penghangatan permukaan). Pilihan ditentukan oleh keparahan dan durasi hipotermia dan sumber yang ada.
    3. Ambil darah arteri untuk mengevaluasi oksigen dan tegangan karbondioksida dan pH serta kadar bikarbonat; parameter ini menentukan tipe dukungan ventilator yang dibutuhkan dan ketepatan dosis natrium bikarbonat yang diberikan.
      1. Hipotensi dan gangguan perfusi jaringan diatasi dengan penambahan volume intra vaskular dan agen inostropik.
      2. Perbaiki ventilasi dan oksigenasi, bantu dengan intubasi endotrakea dengan ventilasi tekana positif untuk meningkatkan oksigenasi, mencegah aspirasi dan mengoreksi pirau intra pulmonal dan abnormalitas ventilasi perfusi. Lanjutkan pemberian oksigen dengan menggunakan masker.
        1. Asidosis respiratorik diatasi dengan meningkatkan ventilasi.
        2. Mulai pemantauan EKG, karena sering terjadi disritmia.
        3. Bantu dengan intubasi nasogastrik untuk mengosongkan perut dan mencegah regurgitasi isi lambung
        4. Lanjutkan pemantauan kondisi pasien dengan teliti seperti: TTV, AGD, Ph, EKG, Elektrolit Serum.
        5. Masukkan kateter tidak menetap untuk menentukan haluaran urine: Asidosis metabolik dapat menurunkan fungsi ginjal.
        6. Masukkan pasien keunit perawatan intensif. Penampilan pasien mungkin tampak baik-baik saja dan komplikasi nyaris tenggelam yang dapat menyebabkan kematian meliputi:
          1. Hipoksia atau cedera serebral iskemik
          2. Sindrome gawat nafas akut dan kerusakan paru sekunder akibat aspirasi