trauma muskuluskeletal


 

2.1  Trauma Muskuloskeletal

Trauma sistem muskuloskeletal sering tampak dramatis dan ditemukan pada 85% penderita trauma tumpul, tetapi jarang menjadi penyebab ancaman nyawa atau ancaman ekstremitas. Trauma muskuloskeletal tidak mengubah urutan prioritas resusitasi (ABCDE),namun akan menyita perhatian dokter, karena itu trauma muskuloskeletal tidak boleh diabaikan atau ditangani terlambat.

  1. Penilaian awal trauma musculoskeletal :

ü Primary survey dan resusitasi

Selama primary survey, perdarahan harus dikenal dan dihentikan. Menghentikan perdarahan yang terbaik adalah dengan melakukan tekanan langsung.Fraktur tulang panjang dapat menimbulkan perdarahan yang berat . Fraktur femur dapat menyebabkan kehilangan darah didalam paha sampai 3-4 unit, menimbulkan syok kelas III. Pemasangan bidai yang baik akan dapat menurunkan perdarahan secara nyata dengan mengurangi pergerakan dan meningkatkan pengaruh temponade otot sekitar fraktur. Pada fraktur terbuka, penggunaan balut tekan steril dapat menghentikan perdarahan. Resusitasi cairan yang agresif merupakan hal yang penting disamping usaha menghentikan perdarahan.

Tindakan tambahan ( adjuncts ) pada primary survey :

a.Imobilisasi fraktur

Tujuan imobilisasi fraktur adalah meluruskan ekstremitas yang cedera dalam posisi seanatomis mungkin dan mencegah gerak yang berlebihan pada daerah fraktur. Hal ini akan tercapai dengan melakukan traksi untuk meluruskan ekstremitas dan mempertahankanya dengan alat imobilisasi. Pemakaian bidai secara benar akan membantu menghentikan perdarahan, mrngurangi nyeri dan mencegah kerusakan jaringan lunak lebih lanjut. Jika terdapat patah tulang terbuka tidak perlu dikuatirkan mengenai kemingkinan tulang yang keluar akan masuk ke dalam luka karena semua patah tulang terbuka wajib dilakukan debridement secara operatif. Dislokasi sendi umumnya perlu dilakukan pembidaian dalam posisi sebagaimana ditemukan. Pemasangan bidai harus dilakukan segera, namun tidak boleh menganggu resusitasi yang merupakan prioritas utama.

b.Foto rontgen

Umumnya pemeriksaan rontgen pada skeletal merupakan bagian dari secondary survey. Jenis dan saat pemeriksaan ronsen dilakukan, ditentukan oleh hasil pemeriksaan,tanda klinis, keadaan hemodinamik serta mekanisme trauma. Foto pelvis AP perlu dilakukan segera pada penderita trauma multiple dengan sumber perdarahan yang belum dapat ditentukan.

ü Secondary Survey :

Setelah keadaan kegawatan dikenali dan dilakukan resusitasi maka setelah pasien stabil dilakukan pemeriksaan lanjutan ke penderita, meliputi :

a. Riwayat / anamnesa

v  Mekanisme trauma

Kepentingan mekanisme trauma adalah untuk mencari kemungkinan cedera lain yang saat ini belum tampak. Dokter harus melakukan rekonstruksi kejadian, menetapkan trauma penyerta yang mungkin terjadi pada penderita, dan mendapatkan sebanyak mungkin informasi sebagai berikut :

  1. Dimana posisi penderita dalam kendaraan sebelum kecelakan, misalnya pengemudi atau penumpang.
  2. Dimana posisi penderita setelah kecelakaan, misalnya di dalam kendaraan atau terlempar keluar. Jika penderita terlempar tentukan jarak terlemparnya.
  3. Apakah ada kerusakan bagian luar kendaraan, misalnya kerusakan bagian depan mobil karena tabrakan depan.
  4. Apakah terdapat kerusakan bagian dalam kendaraan, misalnya stir bengkok. Penemuan ini memberi petunjuk besar kemungkinan terdapat trauma dada, klavikula.
  5. Apakah penderita memakai sabuk pengaman ?
  6. Apakah penderita jatuh, bila jatuh berapa jaraknya dan bagaimana mendaratnya.
  7. Apakah pasien terlindas (crush) sesuatu, jika benar tentukan berat bendatersebut, sisi yang cedera, lamanya beban menekan bagian yang cedera.
  8. Apakah terjadi ledakan, berapa besar ledakan, berapa jarak penderita dengan sumber ledakan.
  9. Apakah penderita pejalan kaki yang ditabrak kendaraan. Trauma muskuloskeletal dapat diramalkan (cedera bumper) berdasarkan ukuran dan usia penderita.

v  Lingkungan

Petugas Pra rumah sakit harus ditanya tentang :

  1. Apakah penderita terkena trauma termal ( panas atau dingin )
  2. Apakah terkena gas atau bahan beracun
    1. Pecahan kaca (yang juga dapat mencederai penolong)
      1. Sumber-sumber kontaminasi ( kotoran binatang, air tawar atau laut). Informasi ini akan membantu dokter mengatasi masalah yang dapat timbul serta pemilihan jenis antibiotika awal.

v  Keadaan sebelum trauma dan faktor predisposisi

Penting mengetahui keadaan sebelum cedera, karena dapat mengubah   kondisi penderita, cara terapi dan hasil terapi. Riwayat AMPLE harus mencakup :

1.Kemampuan fisik dan tingkat aktivitas.

2.Penggunaan obat dan alkohol.

3.Masalah emosional dan penyakit lain.

4.Trauma musculoskeletal sebelumnya.

v  Observasi dan pelayanan pra rumah sakit

Hasil penemuan di tempat kejadian akan membantu menemukan trauma yang potensial yaitu :

  • Posisi penderita ditemukan
  • Perdarahan atau tumpahan darah ditempat kejadian dan perkiraan banyaknya
  • Tulang atau ujung patah tulang yang keluar
  • Luka terbuka dan kemungkinannya berhubungan dengan patah tulang yang nyata atau tersembunyi
  • Dislokasi atau deformitas
  • Ada tidaknya gangguan motorik dan sensorik pada setiap anggota gerak
  • Adanya keterlambatan transportasi atau ektriksi

Waktu kejadian harus dicatat, terutama jika terdapat perdarahan yang berlanjut serta keterlambatan mencapai rumah sakit.

Observasi dan tindakan pra rumah sakit harus dicatat dan dilaporkan. Informasi lain yang penting adalah :

  • Perubahan fungsi ekstremitas, perfusi atau status neurology terutama    setelah imobilisasi atau selama transfer ke rumah sakit.
  • Reposisi fraktur atau dislokasi selama ekstrikasi atau pemasangan bidai di tempat kejadian.
  • Pembalutan dan pemasangan bidai dengan perhatian khusus diatas penonjolan tulang.

b.Pemeriksaan Fisik

Seluruh pakaian penderita harus dibuka agar dapat dilakukan pemeriksaan yang baik. Cedera muskuluskeletal yang nyata harus dibidai sebelum sampai diruang gawat darurat.Pemeriksaan penderita cedera ekskremitas mempunyai 3 tujuan :

1. Menemukan masalah mengancam jiwa (primary survey).

2. Menemukan masalah yangmengancam ekstremitas (secondary survey).

3. Pemerikasaan tulang secarasistematis untuk menghindari luputnya trauma muskuloskeletal yang lain (re-evaluasi berlanjut).

Pemeriksaan trauma muskuluskeletal dapat dilakukan dengan melihat dan berbicara kepada penderita, palpasi muskuluskeletal yang cedera serta penilaian yang sistematis dari setiap muskuluskeletal. Empat komponen yang harus diperiksa adalah :

  • Kulit yang melindungi penderita dari kehilangan cairan dan infeksi
  • Fungsi neuromuscular
  • Status sirkulasi
  • Integritas ligamentum dan tulang

Evaluasi ini mencegah adanya trauma yang terlupakan.

a.Lihat dan Tanya

Melihat adanya perubahan warna dan perfusi, luka, deformitas (angulasi, pemendekan), pembengkakan dan perubahan warna atau memar. Luka terbuka akan jelas terlihat kecuali pada bagian punggung. Penderita harus dilakukan log-rolling secara hati-hati. Observasi gerakan motorik membantu menenntukan adanya gangguan neurologi atau muskular.

b.Raba

Dilakukan palpasi pada ekstremitas untuk memeriksa sensorik ( fungsi neurologi) dan daerah nyeri tekan ( fraktur atau trauma jaringan lunak. Hilangnya rasa raba dan nyeri menunjukkan adanya trauma spinal atau saraf tepi. Adanya sakit, nyeri tekan, pembengkakan, dan deformitas menyokong diagnosis fraktur. Jika ditemukan sakit, nyeri tekan, disertai gerak abnormal maka diagnosis fraktur adalah pasti.

c.Pemeriksaan sirkulasi

Pulsasi bagian distal tiap ekstremitas diperiksa dengan palpasi dan diperiksa pengisian kapiler jari-jari (capillary refill). Jika hipotensi mempersulit pemeriksaan pulsasi, dapat digunakan alat Doppler ( probe ultrasonic yang tidak invasive dapat membedakan aliran darah dan cairan).

d.Foto rontgen

Kebutuhan pemeriksaan foto rontgen ditentukan oleh pemeriksaan klinik. Adanya nyeri dan deformitas pada ekstremitas, besar kemungkinan ada fraktur.

 

  1. 2.      Trauma Muskuloskeletal Dengan Potensi Ancaman Nyawa

1)      Kerusakan pelvis berat dengan perdarahan

a.Trauma

Fraktur pelvis yang disertai perdarahan seringkali disebabkan fraktur sakroiliaka, dislokasi, atau fraktur sacrum. Arah gaya yang membuka pelvic ring  akan merobek pleksus vena di pelvis dan kadang-kadang merobek system, arteri iliakainterna (trauma komprresi anterior-posterior). Pada tabrakan kendaraan, mekanisme fraktur pelvis yang tersering adalah tekanan yang mengenai sisi lateral pelvis dan cenderung menyebabkan hemipelvis rotasi ke dalam, mengecilkan rongga pelvis dan mengurangi regangan system vaskularisasi pelvis. Gerakan rotasi ini akan menyebabkan pubis mendesak ke arah sistem urogenital bawah,sehingga menyebabkan trauma uretra atau buli-buli.

b. Pemeriksaan

Diagnosis harus dibuat secepat mungkin agar dapat dilakukan resusitasi. Tanda klinis yang paing penting adalah adanya pembengkakan atau hematom yang progresif pada daerah panggul, skrotum dan perianal. Tanda-tanda trauma pelvicring yang tidak stabil adalah adanya patah tulang terbuka daerah pelvix (terutama daerah perineum, rectum atau bokong), high riding prostate (prostate letak tinggi), perdarahan di meatus uretra, dan didapatkannya instabilitas mekanik. Instabilitas mekanik dari pelvic ring diperiksa dengan manipulasi manuual dari pelvis. Petunjuk awalnya adalah dengan ditemukannya perbedaan panjang tungkai atau rotasi tungkai ( biasanya rotasi eksternal ) tanpa adanya fraktur pada ekstremitas tersebut. Bila penderita sudah stabil, maka foto rontgen AP pelvis akan menunjang pemeriksaan klinis.

c.Pengelolaan

Pengelolaan awal disrupsi pelvis berat disertai perdarahan memerlukan penghentian perdarahan dan resusitasi cairan dengan cepat. Penghentian perdarahan dilakukan dengan stabilisasi mekanik dari pelvic ring dan eksternal counter pressure. Teknik sederhana dapat dilakukan untuk stabilisasi pelvissebelum penderita dirujuk. Traksi kulit longitudinal atau traksi skeletal dapat dikerjakan sebagai tindakan pertama. Prosedur ini dapat ditambah dengan memasang kain pembungkus melilit pelvis yang berfungsi sebagai siling atau vacuum type long spine splinting device atau PASG. Cara-cara sementara ini dapat membantu stabilisasi awal. Fraktur pelvis terbuka dengan perdarahan yang jelas, memerlukan balut tekan dengan tampon untuk menghentikan perdarahan.

 

2)      Perdarahan Besar Arterial

a.Trauma

Luka tusuk di ekstremitas dapat menimbulkan trauma arteri. Trauma tumpul yangm enyebabkan fraktur atau dislokasi sendi dekat arteri dapat merobek arteri. Cedera ini dapat menimbulkan perdarahan besar pada luka terbuka atau perdarahan di dalam jaringan lunak.

b. Pemeriksaan

Trauma ekstremitas harus diperiksa adanya perdarahan eksternal, hilangnya pulsasi nadi yang sebelumnya masih teraba, perubahan kualitas nadi, dan perubahan pada pemeriksaan Doppler dan ankle/brachial index. Ekstremitas yang dingin, pucat, dan menghilangnya pulsasi menunjukkan gangguan aliran darah arteri. Hematoma yang membesar dengan cepat, menunjukkan adanya trauma vaskuler.

c.Pengelolaan

Pengelolaan perdarahan besar arteri berupa tekanan langsung dan resusitasi cairan yang agresif. Penggunaan torniket pneumatic secara bijaksana mungkin akan menolong menyelamatkan nyawa. Penggunaan klem vaskular ditempat perdarahan pada ruang gawat darurat tidak dianjurkan, kecuali pembuluh darahnya terletak disuperfisial dan tampak dengan jelas. Jika fraktur disertai luka terbuka yang berdarah aktif, harus segera diluruskan dan dipasang bidai serta balut tekan diatasluka. Pemeriksaan arteriografi dan penunjang yang lain baru dikerjakan jika penderita telah teresusitasi dan hemodinamik normal.

 

3)      Crush Syndrome ( Rabdomiolisis Traumatik )

a.Trauma

Crush syndrome adalah keadaan klinis yang disebabkan kerusakan otot, yang  jika tidak ditangani akan menyebabkan kegagalan ginjal. Kondisi ini terjadi akibat crush injury pada massa sejumlah otot, yang tersering paha dan betis. Keadaan ini disebabkan oleh gangguan perfusi otot, iskemia dan pelepasan mioglobin.

b. Pemeriksaan

Mioglobin menimbulkan urine berwarna kuning gelap yang akan positif bila diperiksa untuk adanya hemoglobin. Rabdomiolisis dapat menyebabkan hipovodemi, asidosis metabolik, hiperkalemia, hipokalsemia dan DIC (Disseminated intravascular coagulation).

c. Pengelolaan

Pemberian cairan IV selama ekstrikasi sangat penting untuk melindungi ginjal dari gagal ginjal. Gagal ginjal yang disebabkan oleh mioglobin dapat dicegah dengan pemberian cairan dan diuresis osmotic untuk meningkatkan isis tubulus dan aliranurine. Dianjurkan untuk mempertahankan output urine 100ml/jam sampai bebasdari mioglobin uria.

 

  1. 3.      Trauma Yang Mengancam Muskuloskeketal

1)      Patah Tulang Terbuka dan Trauma Sendi

a.Trauma

Pada patah tulang terbuka terdapat hubungan antara tulang dengan dunia luar.Kerusakan ini disertai kontaminasi bakteri menyebabkan patah tulang terbuka mengalami masalah infeksi, gangguan penyembuhan dan gangguan fungsi.

b.Pemeriksaan

Diagnosa didasarkan atas riwayat trauma dan pemeriksaan fisik ekstermitas yang menemukan fraktur dengan luka terbuka, dengan atau tanpa kerusakaan luas otot serta kontaminasi.Jika terdapat luka terbuka didekat sendi, harus dianggap luka ini berhubungan dengan atau masuk kedalam sendi, dan konsultasi bedah harus dikerjakan. Tidak  boleh memasukkan zat warna atau cairan untuk membuktikan rongga sendi berhubungan dengan luka atau tidak. Cara terbaik membuktikan luka terbuka padasendi adalah dengan eksplorasi bedah dan pembersihan luka.

c.Pengelolaan

Setelah deskripsi atau trauma jaringan lunak, serta menentukan ada atau tidaknya gangguan sirkulasi atau trauma saraf maka segera dilakukan imobilisasi. Penderita segera diresusitasi secara adekuat dan hemodinamik sedapat mungkinstabil. Profilaksis tetanus segera diberikan.

 

2)      Trauma Vaskuler, termasuk amputasi traumatik

a.Riwayat dan pemeriksaan

Trauma vaskuler harus dicurigai jika terdapat insufisensi vaskuler yang menyertai trauma tumpul, remuk (crushing), puntiran, atau trauma tembus ekstremitas.Trauma vaskuler parsial menyebabkan ekstremitas bagian distal dingin, pengisian kapiler lambat, pilsasi melemah dan ankle/brachial index abnormal. Aliran yang terputus menyebabkan ekstremitas dingin, pucat dan nadi tidak teraba.

b.Pengelolaan

Otot tidak mampu hidup tanpa aliran darah lebih dari 6 jam dan nekrosis akan segera terjadi. Saraf juga akan sangat sensitif terhadap keadaan tanpa oksigen. Operasi revaskularisasi segera diperlukan untuk mengembalikan aliran darah pada ekstermitas distal yang terganggu. Jika gangguan vaskularisasi disertai fraktur harus dikoreksi segera dengan meluruskan dan memasang bidai. Iskemia menimbulkan nyeri hebat dan konsisten. Amputasi traumatik merupakan bentuk terberat dari fraktur terbuka yang menimbulkan kehilangan ekstermitas dan memerlukan konsultasi dan intervensi bedah. Patah tulang terbuka dengan iskemia berkepanjangan, trauma saraf dan kerusakan otot mungkin memerlukan amputasi.Penderita dengan trauma multipel yang memerlukan resusitasi intensif dan operasi gawat darurat bukan kandidat untuk reimplantasi. Anggota yang teramputasi dicuci dengan larutan isotonic dan dibungkus kasa steril dan dibasahi lautan penisilin (100.000 unit dalam 50 ml RL ) dan dibungkus kantong plastik. Kantong plastik ini dimasukkan dalam termos berisi pecahan es, lalu dikirimkan bersama penderita.

 

3)      Cedera Syaraf akibat Fraktur – Dislokasi

a.Trauma

Fraktur atau/dan dislokasi, dapat menyebabkan trauma saraf yang disebabkan hubungan anatomi atau dekatnya posisi saraf dengan persendian. Kembalinya fungsi hanya akan optimal bila keadaan ini diketahui dan ditangani secara cepat.

b.Pemeriksaan

Pemeriksaan neurologis yang teliti selalu dilakukan pada penderita dengan trauma musculoskeletal. Kelainan neurologis atau perubahan neurologis  yang progresif harus dicatat. Pada pemeriksaan biasanya akan didapatkan deformitas dari musculoskeletal. Pemeriksaan fungsi saraf memerlukan kerja sama penderita. Setiap saraf perifer yang besar diperiksa fungssi motorik dan sensorik perlu diperiksa secara sistematik.

c.Pengelolaan

Ekstremitas yang cedera harus segera diimobilisasi dalam posisi dislokasi dan konsultasi bedah segera dikerjakan. Setelah reposisi, fungsi saraf di reavaluasi dan ekstremitas dipasang bidai.

 

4)      Trauma Ekstremitas Yang Lain

  • § Kontusio dan Laserasi

Secara umum laserasi memerlukan debridemen dan penutupan luka. Jika laserasi meluas sampai dibawah fasia, perlu intervensi operasi untuk membersihkan luka dan memeriksa struktur-struktur di bawahnya yang rusak. Kontusio umumnya dikenal karena ada nyeri dan penurunan fungsi. Palpasi menunjukkan adanya pembengkakan lokal dan nyeri tekan. Kontusio diobati dengan kistirahat dan pemakaian kompresdingin pada fase awal.

 

  • § Trauma Sendi

Trauma sendi bukan dislokasi ( sendi masih dalam konfigurasi anatomi normal tetapi terdapat trauma ligamen) biasanya tidak mengancam muskuloskeletal, walaupun dapat menurunkan fungsi musculoskeletal. Biasanya ditemukan adanya gaya abnormal terhadap sebagian contoh tekanan terhadap bagian anterior yang mendorong kebelakang,tekanan terhadap bagian lateral tungkai yang menimbulkan regangan valgus pada lutut atau dengan lengan ekstensi sehingga menimbulkan trauma hiperfleksi siku.

 

  • § Fraktur

Definisi fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang yang menimbulkan gerakan abnormal disertai krepitasi dan nyeri. Krepitasi dan gerakan abnormal ditempat fraktur kadang-kadang dilakukan untuk memastikn diagnosis,tetapi hal ini dapat menambah sangat nyeri kerusakan jaringan lunak. Pembengkakan,nyeri tekan dan deformitas biasanya cukup untuk membuat diagnosis fraktur. Mempertimbangkan status hemodinamik pasien, foto rontgen harus mencakup sendiatas dan bawah tulang yang fraktur,untuk menyingkirkan dislokasi dan trauma lain.

 

  1. 4.      Penatalaksanaan Trauma Muskuluskeletal

PENILAIAN CEDERA :
• Penilaian awal – ABC
• Sejarah :
- Keluhan utama
- Mekanisme cedera
- Tanda dan gejala

 
• Fokus penilaian fisik
- Pengamatan/observasi
- Inspeksi
- Palpasi
- 5 P : Pain, Pallor, Pulselesness, Parestesia, Paralysis
INTERVENSI :
• R – Istirahat / mengimobilisasikan
•  I-  Es
• C – Kompresi
• E – Elevation
• S – Dukungan
INDIKASI SPLINTING :
• Pencegahan cedera lebih lanjut
• Mengurangi Nyeri
• Mengurangi pembengkakan
• Menstabilkan fraktur atau dislokasi
• Meringankan gangguan fungsi neurologis atau kejang otot
• Mengurangi darah dan kehilangan cairan ke jaringan

POIN KUNCI IMOBILISASI / SPLINTING :
• Imobilisasi dilakukan di sendi bagian atas dan di bagian bawah dari cedera
• Menilai Status neurovaskular cedera di daerah distal sebelum aplikasi belat dan setelah aplikasi belat
• Jika angulation di situs fraktur tanpa kompromi neurovaskular, imobilisasi dikerjakan
• Minimalkan gerakan ekstremitas selama belat
• Pembelatan yang aman untuk memberikan dukungan dan kompresi
• Menilai kembali / memonitor status neurovaskular setiap 5-10 menit

2.2 Kompartement syndrome

  1. 1.   Pengertian

Syndrome kompartemen merupakan suatu kondisi dimana terjadi peningkatan tekanan interstitial dalam sebuah ruangan terbatas yakni kompartemen osteofasial yang tertutup. Sehingga mengakibatkan berkurangnya perfusi jaringan dan tekanan oksigen jaringan. Kompartemen osteofasial merupakan ruangan yang berisi otot, saraf dan pembuluh darah yang dibungkus oleh tulang dan fascia serta otot-otot individual yang dibungkus oleh epimisium. Secara anatomik, sebagian besar kompartemen terletak di anggota gerak. Berdasarkan letaknya komparteman terdiri dari beberapa macam, antara lain:

  1. Anggota gerak atas

-       Lengan atas : Terdapat kompartemen anterior dan posterior.

-       Lengan bawah : Terdapat tiga kompartemen,yaitu: flexor superficial, fleksor profundus, dan ekstensor

  1.  Anggota gerak bawah

-       Tungkai atas: Terdapat tiga kompartemen, yaitu: anterior, medial, dan posterior.

-       Tungkai bawah

Terdapat empat kompartemen, yaitu: kompartemen anterior, lateral, posterior superfisial, posterior profundus. Syndrome kompartemen yang paling sering terjadi adalah pada daerah tungkai bawah (yaitu kompartemen anterior, lateral, posterior superficial, dan posterior profundus) serta lengan atas (kompartemen volar dan dorsal)

 

  1. 2.      Etiologi

Terdapat berbagai penyebab dapat meningkatkan tekanan jaringan lokal yang kemudian memicu timbullny sindrom kompartemen, yaitu antara lain:

1.  Penurunan volume kompartemen

Kondisi ini disebabkan oleh:

-          Penutupan defek fascia

-          Traksi internal berlebihan pada fraktur ekstremitas

2.  Peningkatan tekanan eksternal

-  Balutan yang terlalu ketat

-   Berbaring di atas lengan

-   Gips

3.  Peningkatan tekanan pada struktur komparteman

Beberapa hal yang bisa menyebabkan kondisi ini antara lain:

-  Pendarahan atau Trauma vaskuler

-  Peningkatan permeabilitas kapiler

- Penggunaan otot yang berlebihan

-  Luka bakar

-  Operasi

-  Gigitan ular

-  Obstruksi vena

Sejauh ini penyebab sindroma kompartemen yang paling sering adalah cedera, dimana 45 % kasus terjadi akibat fraktur, dan 80% darinya terjadi di anggota gerak bawah.

 

  1. 3.      Manifestasi klinis

Gejala klinis yang terjadi pada syndrome kompartemen dikenal dengan 5 P yaitu:

  1. Pain (nyeri) : nyeri yang hebat saat peregangan pasif pada otot-otot yang terkena, ketika ada trauma langsung. Nyeri merupakan gejala dini yang paling penting. Terutama jika munculnya nyeri tidak sebanding dengan keadaan klinik (pada anak-anak tampak semakin gelisah atau memerlukan analgesia lebih banyak dari biasanya). Otot yang tegang pada kompartemen merupakan gejala yang spesifik dan sering.
  2. Pallor (pucat), diakibatkan oleh menurunnya perfusi ke daereah tersebut. Kulit terasa dingin jika di palpasi, warna kulit biasanya pucat, abu-abu atau keputihan.
  3. Pulselesness (berkurang atau hilangnya denyut nadi ) akibat adanya gangguan perfusi arterial.
  4. Parestesia (rasa kesemutan) biasanya memberikan gejala rasa panas dan gatal pada daerah lesi.
  5. Paralysis : Merupakan tanda lambat akibat menurunnya sensasi saraf yang berlanjut dengan hilangnya fungsi bagian yang terkena kompartemen sindrom. Biasanya diawali dengan ketidakmampuan untuk menggerakkan sendi, merupakan tanda yang lambat diketahui.

 

Sedangkan pada kompartemen syndrome akan timbul beberapa gejala khas, antara lain:

1.  Nyeri yang timbul saat aktivitas, terutama saat olehraga. Biasanya setelah berlari atau beraktivitas selama 20 menit.

2.  Nyeri bersifat sementara dan akan sembuh setelah beristirahat 15-30 menit.

3.  Terjadi kelemahan atau atrofi otot.

 

4.  Penanganan

Tujuan dari penanganan sindrom kompartemen adalah mengurangi defisit fungsi neurologis dengan lebih dulu mengembalikan aliran darah lokal, melalui bedah dekompresi. Walaupun fasciotomi disepakati sebagai terapi yang terbaik, namun beberapa hal, seperti timing, masih diperdebatkan. Semua ahli bedah setuju bahwa adanya disfungsi neuromuskular adalah indikasi mutlak untuk melakukan fasciotomi

Penanganan kompartemen secara umum meliputi:

1. Terapi Medikal/non bedah

Pemilihan terapi ini adalah jika diagnosa kompartemen masih dalam bentuk dugaan sementara. Berbagai bentuk terapi ini meliputi:

  1. Menempatkan kaki setinggi jantung, untuk mempertahankan ketinggian kompartemen yang minimal, elevasi dihindari karena dapat menurunkan aliran darah dan akan lebih memperberat iskemia
  2. Pada kasus penurunan ukuran kompartemen, gips harus di buka dan pembalut kontriksi dilepas.
  3. Pada kasus gigitan ular berbisa, pemberian anti racun dapat menghambat perkembangan sindroma kompartemen.
  4. Mengoreksi hipoperfusi dengan cairan kristaloid dan produk darah.
  5. Pada peningkatan isi kompartemen, diuretik dan pemakainan manitol dapat mengurangi tekanan kompartemen.Manitol mereduksi edema seluler, dengan memproduksi kembali energi seluler yang normal dan mereduksi sel  otot yang nekrosis melalui kemampuan dari radikal bebas
  6. Terapi Bedah

Fasciotomi  dilakukan jika tekanan intrakompartemen mencapai > 30 mmHg. Tujuan dilakukan tindakan ini adalah  menurunkan tekanan dengan memperbaiki perfusi otot. Jika tekanannya < 30 mm Hg maka tungkai cukup diobservasi dengan cermat dan diperiksa lagi pada jam-jam berikutnya. Kalau keadaan tungkai membaik, evaluasi terus dilakukan hingga fase berbahaya terlewati. Akan tetapi jika memburuk maka segera lakukan fasciotomi. Keberhasilan dekompresi untuk perbaikan perfusi adalah 6 jam.Terdapat dua teknik dalam fasciotomi yaitu teknik insisi tunggal dan insisi ganda.Insisi ganda pada tungkai bawah paling sering digunakan karena lebih aman dan lebih efektif, sedangkan insisi tunggal membutuhkan diseksi yang lebih luas dan resiko kerusakan arteri dan vena peroneal.

 

5.  Komplikasi

Sindrom kompartemen jika tidak mendapatkan penanganan dengan segera, akan menimbulkan berbagai komplikasi antara lain:

1. Nekrosis pada syaraf dan otot dalam kompartemen

2. Kontraktur volkman, merupakan kerusakan otot yang disebabkan oleh terlambatnya penanganan sindrom kompartemen sehingga timbul deformitas pada tangan, jari, dan pergelangan tangan karena adanya trauma pada lengan bawa

3. Trauma vascular

4. Gagal ginjal akut

5. Sepsis

6. Acute respiratory distress syndrome (ARDS)