ASMA


by:

randy candra

  1. A.    KONSEP DASAR PENYAKIT

 

  1. I.    DEFINISI / PENGERTIAN

Asma adalah suatu penyakit dengan ciri meningkatnya respons trakhea dan bronchus terhadap berbagai rangsangan dengan manifestasi adanya penyempitan jalan napas yang luas dan derajatnya dapat berubah-ubah secara spontan maupun sebagai hasil pengobatan (The American Thoracis Society, 1962).

Asma adalah penyakit jalan napas obstruktif intermiten, reversible dimana trakea dan bronki berespons dalam secara hiperaktif terhadap stimuli tertentu (Brunner & Suddart, vol 1, 2002).

Asma didefinisikan sebagai suatu penyakit dari system pernafasan yang meliputi peradangan jalan nafas dan gejala-gejala bronkospasme yang bersifat reversible (Crackett, Antony. 1997).

Asma adalah suatu keadaan di mana saluran nafas mengalami penyempitan karena hiperaktivitas terhadap rangsangan tertentu, yang menyebabkan peradangan; penyempitan ini bersifat sementara (wikipedia.com).

  1. II.    ETIOLOGI / PENYEBAB

Faktor-faktor yang dapat menimbulkan serangan asma  atau sering disebut sebagai faktor pencetus adalah:

  1. Allergen

Allergen adalah zat-zat tertentu yang bila diisap atau dimakan dapat menimbulkan serangan asma misalnya debu rumah, tengau debu rumah (Dermatophagoides pteronissynus), spora jamur, bulu kucing, bulu binatang, beberapa makanan laut dan sebagainya.

  1. Infeksi saluran pernapasan

Infeksi saluran pernapasan terutama disebabkan oleh virus.Virus influenza merupakan salah satu faktor pencetus yang paling sering menimbulkan asma.Diperkirakan, dua pertiga penderita asma dewasa serangan asmanya ditimbulkan oleh infeksi saluran pernapasan (Sundaru,1991

  1. Tekanan jiwa

Tekanan jiwa bukan penyebab asma tetapi pencetus asma, karena banyak orang yang mendapat tekanan jiwa tetapi tidak menjadi penderita asma.Faktor ini berperan mencetuskan serangan asma terutama pada orang yang agak labil kepribadiannya.Hal ini lebih menonjol pada wanita dan anak-anak (Yunus, 1994).

  1. Olahraga atau kegiatan jasmani yang berat

Sebagai penderita asma akan mendapatkan serangan asma bila melakukan olahraga atau aktivitas fisik yang berlebihan. Lari cepat dan bersepeda adalah dua jenis kegiatan paling mudah menimbulkan serangan asmarandhy candra. Serangan asma karena kegiatan jasmani (exercise induced asma-EIA) terjadi setelah olahraga atau aktivitas fisik yang cukup berat dan jarang serangan timbul beberapa jam setelah olahraga.

  1. Obat-obatan

Beberapa klien dengan asma sensitive atau alergi terhadap obat tertentu seperti penisilin, salisilat, beta blocker, kodein, dan sebagainya.

  1. Polusi udara

Klien asma sangat peka terhadap udara berdebu, asap pabrik atau kendaraan, asap rokok, asap yang mengandung hasil pembakaran dan oksidasi fotokemikal, serta bau yang tajam.

  1. Lingkungan kerja

Lingkungan kerja diperkirakan merupakan faktor pencetus yang menyumbang 2-15% klien dengan asma (Sundaru,1991).

 

  1. III.    MANIFESTASI KLINIS

Biasanya pada penderita yang sedang bebas serangan tidak ditemukan gejala klinis, tapi pada saat serangan penderita tampak bernafas cepat dan dalam, gelisah, duduk dengan menyangga ke depan, serta tanpa otot-otot bantu pernafasan bekerja dengan keras randy candra. Gejala klasik dari asma adalah sesak nafas, mengi ( whezing ), batuk, dan pada sebagian penderita ada yang merasa nyeri di dada. Gejala-gejala tersebut tidak selalu dijumpai bersamaan. Pada serangan asma yang lebih berat , gejala-gejala yang timbul makin banyak, antara lain : silent chest, sianosis, gangguan kesadaran, hyperinflasi dada, tachicardi dan pernafasan cepat dangkal .

  1. IV.    PATOFISIOLOGI

Asma akibat alergi bergantung kepada respon IgE yang dikendalikan oleh limfosit T dan B serta diaktifkan oleh interaksi antara antigen dengan molekul IgE yang berkaitan dengan sel mast.Sebagian besar allergen yang mencetuskan asma bersifat airbonedan agar dapat menginduksi keadaan sensitivitas, alergen tersebut haru tersedia dalam jumlah banyak untuk periode waktu tertentu. Akan tetapi, sekali sensitivitas telah terjadi, klien akan memperlihatkan respons yang sangat baik, sehingga sejumlah kecil alargen yang mengganggu udah dapat menghasilkan eksaserbasi penyakit yang jelas.

Obat yang paling sering berhubungan dengan induksi episode akut asma adalah aspirin, bahan pewarna seperti tartazin, antagonis beta – adrenergik, dan bahan sulfat.Sindrom pernapasan sentitif – aspirin khususnya terjadi pada orang dewasa, walaupun keadaan ini juga dapat dilihat pada masa kanak – kanak.Masalah ini biasanya berawal dari rhinitis vasomotor perennial yang diikuti olh rhinosinusitis hiperplastik dengn polip nasal.Baru kemudian muncul asma progresif.

Klien yang sensitif terhadap aspirin dapat didesentisasi dengan pemberian obat setiap hari. Setelah menjalani bentuk terapi ini, toleransi saling juga akan terbentuk terhadap agen anti – inflamasi non – steroid lain. Mekanisme yang menyebabkan bronkospasme karena penggunaan apirin dan obat lain tidak tidak diketahui, tetapi mungkin berkaitan dengan pembentukan leukotrien yang diinduksi secara khusus oleh aspirinrandy chandra.

Antagonis B – adrenergik biasanya menyebabkan obstruksi jalan napas pada klien asma, sama halnya dengan klien lain, dapat menyebabkan peningkatan reaktivitas jalan napas dan hal tersebut harus dihindarkan. Obat sulfat, seperti kalium metabisulfit, kalium dan natrium bisulfit, natrium sulfit dan sulfat klorida, yang secara luas digunakandalam industri makanan dan farmasi sebagai agen sanitasi serta pengawet dapat menimbulkan obstruksi jalan npas akut pada klien yang sensitive. Pajanan biasanya terjadi setelah menelan makanan atau cairan yang mengandung senyawa ini, seerti salat, buah segar, kentang, kerang, dan anggur.

Pencetus – pencetus serangan diatas ditambah dengan pencetus lainnya dari internal klien akan mengakibatkan timbulnya reaksi antigen dan antibody. Reaksi antigen – antibody ini akan mngeluarkan substansi pereda alegi yang sebetulnya merupakan mekanisme tubuh dalam menghadapi serangan. Zat yang dikeluarkan dapat berupa histamine, bradikinin, dan anafilatoksin.Hasil dari reaksi tersebut adalah timbulnya tiga gejala, yaitu berkontraksinya otot polos, peningkatan permeabilitas kapiler, dan peningkatan secret mucus.

VI. KLASIFIKASI

Tipe asma berdasarkan penyebabnya terbagi menjadi alergi, idiopatik, dan nonalergik atau campuran(mixed).

  1. Asma Alergik/Ekstrinsik, merupakan suatu bentuk asma dengan allergen seperti bulu binatang, debu, ketombe, tepung sari, makanan, dan lain – lain. Alergen terbanyak adalah airborne dan musiman (seasonal). Klien dengan asma alergik biasanya mempunyai riwayat penyakit alergi pada keluarga dan riwayat pengobatan eksim atau rhinitis alergik. Paparan terhadap alergik akan mencetuskan serangan asma. Bentuk asma ini biasanya dimulai sejak kanak – kanak.
  1. Idiopatik atau Nonalergik Asma/Intrinsik, tidak berhubungan secara langsung dengan allergen spesifik. Faktor – factor seperti common cold, infeksi saluran napas atas, aktivitas, emosi/stress, dan polusi lingkungan akan mencetuskan serangan. Beberapa agen farmakologi, seperti antagonis B–adrenergik dan bahan sulfat(penyedap makanan) juga dapat menjadi factor penyebab. Serangan dari asma idiopatik atau nonalergik menjadi lebih berat dan sering kai dengan berjalannya waktu dapat berkembang menjadi bronchitis dan emfisema. Pada beberapa kasus dapat berkembang menjadi asma campuran. Bentuk asma ini biasanya dimulai ketika dewasa(> 35 tahun)
  1. Asma Campuran(Mixed Asma), merupkan bentuk asma yang paling sering. Dikarakteristikkan dengan bentuk kedua sejenis asma alergi dan idiopatik atau nonalergi.
  1. VII.       PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK / PENUNJANG
  2. 1.      Pengukuran fungsi paru (spirometri)

Pengukuran ini dilakukan sebelum dan sesudah pemberian bronkodilator aerosol golongan adrenergic.Peningkatan FEV atau FVC sebanyak lebih dari 20% menunjukkan diagnosis asma.

  1. 2.      Tes provokasi bronchus

Tes ini dilakukan pada spirometri internal.Penurunan FEV sebesar 20% atau lebih setelah tes provokasi dan denyut jantung 80-90% dari maksimum dianggap bermakna bila menimbulkan penurunan PEFR 10% atau lebih.

  1. 3.      Pemeriksaan kulit

Untuk menunjukkan adanya antibodi IgE hipersensitif yang spesifik dalam tubuh.

  1. 4.      Pemeriksaan laboratorium
    1. Analisa Gas Darah (AGD/astrup)

Hanya dilakukan pada serangan asma berat karena terdapat hipoksemia, hiperkapnea, asidosis respiratorik.

  1. Sputum

Adanya badan kreola adalah karakteristik untuk serangan asma yang berat, karena hanya reaksi yang hebat saja yang menyebabkan transudasi dari edema mukosa, sehingga terlepaslah sekelompok sel-sel epitel dari perlekatannya. Pewarnaan gram penting untuk melihat adanya bakteri, cara tersebut kemudian diikuti kultur dan uji resistensi terhadap beberapa antibiotic.

  1. Sel eosinofil

Sel eosinofil pada klien dengan status asmatikus dapat mencapai 1000-1500/mm3 baik asma intrinsic ataupun ekstrinsik, sedangkan hitung sel eosinofil normal antara 100-200/mm3.Perbaikan fungsi paru disertai penurunan hitung jenis sel eosinofil menunjukkan pengobatan telah tepat.

  1. Pemeriksaan darah rutin dan kimia

Jumlah sel leukosit yang lebih dari 15.000/mm3 terjadi karena adnya infeksi.SGOT dan SGPT meningkat disebabkan kerusakan hati akibat hipoksia atau hiperkapnea.

  1. 5.      Pemeriksaan radiologi

Hasil pemeriksaan radiologi pada klien dengan asma biasanya normal, tetapi prosedur ini harus tetap dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan adanya proses patologi di paru atau komplikasi asma seperti pneumothoraks, pneumomediastinum, atelektasis dan lain-lain.

  1. VIII.    PENATALAKSANAAN MEDIS

 

  1. 1.      Pengobatan nonfarmakologi
    1. Penyuluhan

Penyuluhan ini ditujukan untuk peningkatan pengetahuan klien tentang penyakit asma sehingga klien secara sadar menghindari faktor-faktor pencetus, menggunakan obat secara benar, dan berkonsultasi pada tim kesehatan.

  1. Menghindari faktor pencetus

Klien perlu dibantu mengidentifikasi pencetus serangan asma yang ada pada lingkungannya, diajarkan cara menghindari dan mengurangi fakror pencetus, termasuk intake cairan yang cukup bagi klien.

  1. Fisiotherapi

Dapat digunakan untuk mempermudah pengeluaran mucus.Ini dapat dilakukan dengan postural drainase, perkusi, dan fibrasi dada.

  1. 2.      Pengobatan farmakologi
    1. Agonis beta: metaproterenol (alupent, metrapel). Bentuknya aerosol, bekerja sangat cepat, diberikan sebanyak 3-4 kali semprot, dan jarak antara semprotan pertama dan kedua adalah 10 menit.
    2. Metilxantin, dosis dewasa diberikan 125-200 mg 4 x sehari. Golongan metilxantin adalah aminofilin dan teofilin. Obat ini diberikan bila golongan beta agonis tidak memberikan hasil yang memuaskan.
    3. Kortikosteroid, jika agonis beta dan metilxantin tidak memberikan respon yang baik, harus diberikan kortikosteroid. Steroid dalam bentuk aerosol dengan dosis 4 x semprot tiap hari. Pemberian steroid dalam jangka yang lama harus diawasi dengan ketat.
  1. A.    KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN randy chandra
  2. I.       PENGKAJIAN
    1. 1.    Anamnesis

Pengkajian mengenai nama, umur, dan jenis kelamin perlu dilakukan pada pasien dengan asma. Serangan asma pada usia dini memberikan implikasi bahwa sangat mungkin terdapat status atopik. Serangan pada usia dewasa memungkinkan adanya faktor non-aktif. Tempat tinggal menggambarkan  kondisi lingkungan tempat klien berada. Berdasarkan alamat tersebut, dapat diketahui pula faktor yang memungkinkan menjadi pencetus serangan asma.Status perkawinan dan gangguan emosional yang timbul dalam keluarga atau lingkungan merupakan faktor pencetus serangan asma.Pekerjaan serta suku bangsa juga perlu dikaji untuk mengetahui adanya pemaparan bahan allergen.Hal ini yang perlu dikaji dari identitas klien ini adalah tanggal masuk rumah sakit (MRS), nomor rekam medis, asuransi kesehatan, dan diagnosis medis.            Keluhan utama meliputi sesak napas, pernapasan terasa berta pada dada dan adanya keluhan sulit untuk bernapas.

  1. 2.    Riwayat penyakit saat ini

Klien dengan serangan asma mencari pertolongan terutama dengan keluhan sesak napas yang hebat dan mendadak, kemudian diikuti dengan gejala-gejala lain seperti wheezing, penggunaan otot bantu pernapasan, kelelahan, gangguan kesadaran, sianosis, dan perubahan tekanan darah.

Serangan asma mendadak secara klinis dapat dibagi menjadi 3 stadium.Stadium pertama ditandai dengan batuk-batuk berkala dan kering.Batuk ini terjadi karena iritasi mukosa yang kental dang mengumpul.Pada stadium ini terjadi edema dan pembengkakan bronchus.Stadium kedua ditandai dengan batuk diserta mucus yang jernih dan berbusa.Klien merasa sesak napas, berusaha untuk bernapas dalam, ekspirasi memanjang diikuti bunyi mengi (wheezing).Klien lebih suka duduk dengan tangan diletakkan pada pinggir tempat tidur, tampak pucat, gelisah, dan warna kulit mudah membiru. Stadium ketiga ditandai dengan hamper tidak terdengarnya suara napas karena aliran udara kecil, tidak ada batuk, pernapasan menjadi dangkal dan tidak teratur, irama pernapasan meningkat karena asfiksial.

Perawat prlu mengkaji obat-obatan yang biasa diminum klien dan memeriksa kembali setiap jenis obat apakah masih relevan untuk digunakan kembali.

  1. 3.      Riwayat penyakit dahulu

Penyakit yang pernah diderita pada masa-masa dahulu seperti adanya infeksi saluran pernapasan atas, sakit tenggorokan, amandel, sinusitis, dan polip hidung.Riwayat serangan asma, frekuensi, waktu, dan alergen-alergen yang dicurigai sebagai pencetus serangan, serta riwayat pengobatan yang dilakukan untuk meringankan gejala asma.

  1. 4.      Riwayat penyakit keluarga

Pada klien dengan serangan asma perlu dikaji tetang riwayat penyakit asma atau penyakit alergi yang lain pada anggota keluarganya karena hipersensitivitas pada penyakit asma ini lebih ditentukan oleh faktor genetik dan lingkungan (Hood Alsagaf,1993).

  1. 5.      Pengkajian psiko-sosio-kultural

Kecemasan dan koping yang tidak efektif sering didapatkan pada klien dengan asma.Status ekonomi berdampak pada asuransi kesehatan dan perubahan mekanisme peran dalam keluarga.Gangguan emosional sering dipandang sebagai salah satu pencetus bagi serangan asma baik gangguan itu berasal dari rumah tangga, lingkungan sekitar sampai lingkungan kerja.Seorang dengan beban hidup yang berat lebih berpotensial mengalami serangan asma.Berada dalam keadaan yatim piatu, mengalami ketidakharmonisan hubungan dengan orang lain, sampai mengalami ketakutan tadak dapat menjalankan peran seperti semula.

  1. 6.      Pola resepsi dan tata laksana hidup sehat

Gejala asma dapat membatasi manusia untuk berprilaku hidup normal sehinggan klien dengan asma harus mengubah gaya hidupnya sesuai kondisi yang tidak akan menimbulkan serangan asma.

  1. 7.      Pola hubungan dan peran

Gejala asma sangat membatasi klien untuk menjalani kehidupannya secara normal.Klien perlu menyesuaikan kondisinya dengan hubungan dan peran klien, baik di lingkungan rumah tangga, masyarakat, ataupun lingkungan kerja serta perubahan peran yang terjadi setelah klien mengalami serangan asma.

  1. 8.   Pola persepsi dan konsep diri

Perlu dikaji tentang persepsi klien terhadap penyakitnya.Persepsi yang salah dapat menghambat respons kooperatif pada diri klien. Cara memandang diri yang salah juga akan menjadi stressor dalam kehidupan klien. Semakin banyak stressor yang ada pada kehidupan klien dengan asma dapat meningkatkan kemungkinan serangan asma berulang.

  1. 9.   Pola penanggulangan stres

Stress dan ketegangan emosuonal merupakan faktor intrinsic pencetus serangan asma. Oleh karena itu, perlu dikaji penyebab terjadinya stres. Frekuensi dan pengaruh stress terhadap kehidupan klien serta cara penanggulangan terhadap stressor.

  1. 10.     Pola sensorik dan kognitif

Kelainan pada pola persepsi dan kognitif akan mempengaruhi konsep diri klien dan akhirnya mempengaruhi jumlah stressor yang dialami klien sehingga kemungkinan terjadi serangan asma berulang pun akan semakin tinggi.

  1. 11.  Pola tata nilai dan kepercayaan

Kedekatan klien pada sesuatu yang diyakininya di dunia dipercaya dapat meningkatkan kekuatan jiwa klien. Keyakinan klien terhadap tuhan dan mendekatkan diri kepada-Nya merupakan metode penanggulangan stress yang konstruktif.

  1. II.    PEMERIKSAAN FISIK randy chandra

 

  1. 1.    Keadaan umum

Perawat juga perlu mengkaji tentang kesadaran klien, kecemasan, kegelisahan, kelemahan suara bicara, denyut nadi, frekuensi pernapasan yang meningkat, penggunaan otot-otot bantu pernapasan, sianosis, batuk dengan lendir lengket, dan posisi istirahat klien.

  1. 2.    B1 (Breathing)
  2. Inspeksi

Pada klien asma terlihat adanya peningkatan usaha dan frekuensi pernapasan, serta penggunaan otot bantu pernapasan. Inspeksi dada terutama untuk melihat postur bentik dan kesimetrisan, adanya peningkatan diameter antero posterior, retraksi otot-otot interkostalis, sifat dan irama pernapasan, dan frekuensi pernapasan.

  1. Palpasi

Pada palpasi biasanya kesimetrisan, ekspansi, dan taktil premitus normal.

  1. Perkusi

Pada perkusi didapatkan suara normal sampai hipersonor sedangkan diafragma menjadi datar dan rendah.

  1. Auskultasi

Terdapat suara vesikuler yang meningkat disertai dengan ekspirasi lebih dari 4 detik atau lebih dari 3 kali inspirasi, dengan bunyi napas tambahan utama wheezing pada akhir ekspirasi

  1. 3.    B2 (Blood)

Perawat perlu memonitor dampak asma pada status kardiovaskular meliputi keadaan hemodinamik seperti nadi, tekanan darah, dan CRT.

  1. 4.    B3 (Brain)

Pada saat inspeksi, tingkat kesadaran perlu dikaji.Disamping itu, diperlukan pemeriksaan GCS, untuk menentukan tingkat kesadaran klien apakah compos metis, somnolen, atau koma.

  1. 5.    B4 (Bladder)

Pengukuran volume output urine perlu dilakukan karena berkaitan dengan intake cairan. Oleh karena itu, perawat perlu memonitor ada tidaknya oliguria, karena hal tersebut merupakan tanda awal dari syok.

  1. 6.    B5 (Bowel)

Perlu juga dikaji tentang bentuk, turgor, nyeri, dan tanda-tanda infeksi, mengingat hal-hal tersebut juga dapat merangsang serangan asma.Pengkajian tentang status nutrisi klien meliputi jumlah, frekuensi, dan kesulitan-kesulitan dalam memenuhi kebutuhannya.Pada klien dengan sesak napas, sangat potensial terjadi kekurangan pemenuhan kebutuhan nutrisi, hal ini karena terjadi dipnea saat makan, laju metabolism, serta kecemasan yang dialami klien.

  1. 7.    B6 (Bone)

Dikaji adanya edema ekstremitas, tremor, dan tanda-tanda infeksi pada ekstremitas karena dapat merangsang serangan asma.Pada integument perlu dakaji adanya permukaan yang kasar, kering, kelainan pigmentasi, turgor kulit, kelembapan, mengelupas atau bersisik, perdarahan, pruritus, eksim, dan adanya bekas atau tanda urtikaria atau dermatitis.Pada rambut, dikaji warna rambut, kelembapan, dan kusam.Perlu dikaji pula tentang bagaimana tidur dan istirahat klien yang meliputi berapa lama klien tidur dan istirahat, serta berapa besar akibat kelelahan yang dialami klien.Adanya wheezing, sesak, dan ortopnea dapat mempengaruhi pola tidur dan istirahat klien.

Perlu dikaji pula tentang aktivitas keseharian klien seperti olahraga, bekerja dan aktivitas lainnya. Aktivitas fisik juga dapat menjadi faktor pencetus asma yang disebut dengan exercise induced asma

 

III. DIAGNOSA KEPERAWATAN randy chandra

  1. Ketidakefektifan bersihan jalan napas berhubungan dengan bronkhokontriksi, edema mukosa dan dinding bronchus, serta sekresi mucus yang kental ditandai dengan batuk tak efektif dan tidak mampu untuk mengelurkan sekresi jalan napas.
  2. Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan penurunan ekspansi paru ditandai dengan perubahan frekuensi atau pola napas.
  3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual, intake nutrisi tidak adekuat ditandai dengan  kelemahan, kehilangan masa otot, tonus otot buruk, dan berat badan 10%-20% di bawah ideal.
  4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik umum ditandai dengan takikardi sebagai respon terhadap aktivitas.
  5. Ansietas berhubungan dengan factor psikologis ( efek hipoksemia ) ditandai dengan menyatakan masalah sehubungan dengan perubahan kejadian hidup.
  6. Kurang pengetahuan berhubugan dengan ketidaktahuan akan prognosis ditandai dengan adanya permintaan informasi.

IV. INTERVENSI KEPERAWATAN randy chandra

 

No No. Dx Tujuan dan kriteria hasil Intervensi Rasional
1. 1

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan bersihan jalan napas kembali efektif.

Kriteria hasil :

– Klien mampu melakukan batuk efektif

– Pernapasan klien normal (16-20 x/menit)

– Tanpa ada penggunaan otot bantu napas.

  1. Kaji warna, kekentalan, dan jumlah sputum

2. Atur posisi semifowler

3. Ajarkan cara batuk efektif

4. Pertahankan intake cairan sedikitnya 2500ml / hari kecuali tidak di indikasikan

5. Lakukan fisioterapi dada dengan teknik postural drainase, perkusi dan fibrasi dada

 Kolaborasi :

6.Pemberian  obat bronkodilator golongan B2

-Nebulizer (via inhalasi) dengan golongan terbutalini 0,25mg, fenoterol HBr 0,1 % solusion, orchiprenalini sulpur 0,75mg

-Intravena dengan golongan theophyline ethilenediamine (aminofilin) bolus IV 5-6 mg/kg BB.

7. Agen mukolitik dan ekspektoran

8. Kortikosteroid

1. Karakteristik sputum dapat menunjukkan berat ringannya obstruksi

2.Meningkatkan exspansi dada

3. Batuk yang terkontrol dan efektif dapat memudahkan pengeluaran secret yang melekat dijalan napas

4. Hidrasi yang adekuat membantu mengencerkan secret dan mengefektifkan pembersihan jalan napas

5. Fisioterapi dada merupakan strategi untuk mengeluarkan secret

6. -Pemberian bronkodilator via inhalasi akan langsung  menuju area bronchus yang mengalami spasme sehingga lebih cepat berdilatasi.

-Pemberian secara intravena merupakan usaha pemeliharaan agar dilatasi jalan napas dapat optimal.

7. Agen mukolitik menurunkan kekentalan dan perlengketan secret paru untuk memudahkan pembersihan. Agen ekspektoran akan memudahkan secret lepas dari perlengketan jalan napas

8. Kortikosteroid berguna pada keterlibatan luas dengan hipoksemia dan menurunkan reaksi inflamasi akibat edema mukosa dan dinding bronkhus

2. 2

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan klien mampu mempertahankan fungsi parunya.

Kriteria hasil :

–          Irama napas regular

–          Frekuensi napas 16-20x/menit

1.Identifikasi factor penyebab

2. Kaji kualitas, frekuensi dan kedalaman  pernapasan serta melaporkan  setiap perubahan yang  terjadi

3.Baringkan klien dalam posisi yang  nyaman, dalam posisi duduk, dengan  kepala tempat tidur ditnggikan  60-90o (semi fowler)

4.Observasi tanda-tanda vital

5.Lakukan auskultasi suara napas tiap 2-4 jam

6.Bantu dan ajarkan klien untuk batuk dan napas dalam yang efektif

7.Kolaborasi dengan tim medis lain untuk pemberian O2 dan obat-obatan.

1.Dengan mengidentifikasikan penyebab,kita dapat menentukan jenis tindakan yang tepat

2. Dengan mengkaji kualitas, frekuensi, dan kedalaman pernapasan kita dapat mengetahui sejauh mana perubahan kondisi klien

3. Penurunan diafragma dapat memperluas daerah dada sehingga ekspansi paru bisa maksimal.

4. Peningkatan frekuensi napas dan takikardi merupakan indikasi adanya penurunan fungsi paru

5. Auskultasi dapat menentukan kelainan suara napas pada bagian paru

6. Batuk efektif dapat membantu mengeluarkan secret,

7. Pemberian O2dapat menurunkan beban pernapasan dan mencegah terjadinya sianosis akibat hipoksemia

3. 3

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan kebutuhan nutrisi klien terpenuhi.

Kriteria hasil :

-menunjukan peningkatan berat badan  menuju tujuan yang tepat

1.Kaji kebiasaan diet, masukan makanan saat ini. Catat derajat ksulitan makan. Evaluasi berat badan dan ukuran tubuh.

2.Auskultasi bunyi usus

3.Berikan perawatan oral sering, buang secret, berikan wadah khusus untuk sekali pakai dan tisu.

4.Dorong periode istirahat semalam  jam sebelum dan sesudah makan. Berikan makan porsi kecil tapi sering.

5. Hindari makanan yang sangat panas atau sangat dingin.

6. Timbang berat badan sesuai indikasi

Kolaborasi:

7.Konsul ahli gizi/nutrisi pendukung tim untuk memberikan makanan yang mudah cerna, secara nutrisi seimbang, mis: nutrisi tambahan oral/selang, nutrisi parenteral ( rujuk ke DK: Dukung Nutrisi Total, hal.1039).

8. Kaji pemeriksaan laboratorium, mis : albumin, serum transferin, profil asam amino, besi pemeriksaan keseimbangan nitrogen, glukosa, pemeriksaan fungsi hati, elektrolit. Berikan vitamin/elektrolit sesuai indikasi.

1.Pesien distres pernafasan, sering anoreksia karena dispnea dan produksi sputum

2.Penurunan/hipoaktif bising usus menunjukan penurunan motilitas gaster  yang berhubungan dengan pembatasanpemasukan cairan, pilihan makanan buruk, dan hipoksemia

3.Rasa tak enak, bau dan penampilan adalah pencegahan utama terhadap napsu makan dan dapat membuat mual dan muntah dengan peningkatan kesulitan napas.

4. Membantu menurunkan kelemahan selama waktu makan dan memberikan kesempatan untuk meningkatkan masukan kaloro total.

5. Hindari makanan yang sangat panas atau sangat dingin.

6. Bergunakan untuk menentukan kebutuhan kalori, menyusun tujuan berat badan, dan evaluasi keadekuatan rencana nutrisi. Catatan : penurunan berat badan dapat berlanjut, meskipun masukan adekuat sesuai teratasinya edema.

7. Metode makan dan kebutuhan kalori di dasarkan pada situasi/kebutuhan individu untuk memberikan nutrisi maksimal dengan upaya minimal pasien/penggunaan energy

8.Mengevaluasi/mengatasi kekurangan dan mengawasi keefektifan terapi nutrisi.

4. 4

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan intoleransi aktivitas teratasi

Kriteria hasil :

-melaporkan/ menunjukan peningkatan toleransi terhadap aktivitas yang dapat diukur dengan tak adanya dipsnea, kelemahan berlebihan, dan takikardi.

1.Evaluasi respons pasien terhadap aktivitas. Catat laporan dipsnea, peningkatan kelemahan/kelelahan atau perubahn tanda vital selama dan setelah aktivitas.

2.Berikan lingkungan tenang dan batasi pengunjung selama fase akut sesuai indikasi.

3. Jelaskan pentingnya istirahat dalam rencana pengobatan dan perlunya keseimbangan aktivitas dan istirahat.

4. Bantu pasien memilih posisi nyaman untuk istirahat atau tidur.

5. Bantu aktivitas perawatan diri yang di perlukan. Berikan kemajuan peningkatan aktivitas selama fase penyembuhan.

1.Menetapkan kemampuan/kebutuhan pasien dan memudahkan pilihan intervensi.

2. Menurunkan stres dan rangsangan berlebihan, meningkatkan istirahat

3. Tirah baring di pertahankan selama fase akut untuk menurunkan kebutuhan metabolic, menghemat energy untuk penyembuhan. Pembatasan aktivitas dan perbaikan kegagalan pernapasan.

4. Pasien mungkin nyaman dengan kepala tinggi, tisur di kursi, atau menunduk kedepan meja atau bantal.

5. Meminimalkan kelelahan dan membantu keseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen.

5. 5

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan pasien menyatakan kesadaran terhadap ansietas.

Kriteria hasil :

-pasien tampak rileks

-melaporkan ansietas menurun sampai tigkat dapat ditangani

1. Observasi peningkatan kegagalan pernapasan, agitasi, gelisah, emosi labil.

2. Pertahankan lingkungan tenang dengan sedikit rangsang. Jadwalkan perawatan dan prosedur untuk memberikan periode istirahat tak terganggu.

3. Identifikasi persepsi pasien terhadap ancaman yang ada oleh situasi.

4. Dorong pasien untuk mengakui dan menyatakan perasaan.

5. Bantu orang terdekat untuk berespons positif pada pasien/situasi.

Kolaborasi:

6.Berikan sedatif sesuai indikasi dan awasi efek merugikan.

1.Memburuknya hipoksemia dapat menyebabkan atau meningkatkan ansietas.

2. Meurunkan ansietas dengan menigkatkan relaksasi dan penghemat energy.

3. Membantu pengenalan ansietas/takut dan mengidentifikasi tindakan yang dapat membantu untuk individu.

4.Langkah awal dalam mengatasi perasaan adalah terhadap identifikasi dan ekspresi. Mendorong penerimaan situasi dan kemampuan diri untuk mengatasi.

5. Meningkatkan penurunan ansietas melihat orang lain tetap tenang. Karena ansintas dapat menular, bila orang terdekat/staf memperlihatkan ansietas mereka, kemampuan koping pasien dapat dengan mudah di pengaruhi.

6. Mungkin diperlukn untuk membantu menangani ansietas dan meningkatkan istirahat. Namun efek samping seperti depresi pernapasan dapat membatasi atau kontraindikasi untuk menggunakannya.

6. 6

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam klien menyatakan pemahaman proses penyakit/prognosis dan kebutuhan pengobatan.

Kriteria hasil :

-klien tidak bertanya-tanya tetang penyakitnya

1. Kaji kemampuan pasien untuk belajar, contoh tingkat takut, masalah, kelemahan, tingkat partisifasi, lingungan terbaik dimana pasien dapat belajar, seberapa banyak isi, media terbaik, siapa yang terlibat.

2. Identifikasi gejala yang harus dilaporkan keperawat, contoh hemoptisis, nyeri dada, demam, kesulitan bernapas.

3. Berikan instruksi dan informasi tertulis khusus pada pasien untuk rujukan contoh jadwal obat.

4. Jelaskan dosis obat, Frekuensi pemberian, Kerja yang di harapkan, Dan alasan pengobatan lama. Kaji potensial interaksi dengan obat/substansi lain.

5. Dorog pasien/orang terdekat untuk menyatakan takut/masalah. Jawab pertanyaan secara nyata. Catat lamanya penggunaan penyangkalan

1. Belajar tergantung pada emosi dan kesiapan fisik dan ditingkatkan pada tahapan individu

2. Dapat menunjukan kemajuan atau pengaktifan ulang penyakit atau efek obat yang memerlukan evaluasi lanjut.

3. Informasi tertulis menurunkan hambatan pasien untuk mengingat sejumlah besar informasi. Pengulangan menguatkan belajar.

4.Meningkatkan kerjasama dalam program pengobatan dan mencegah penghentian obat sesuai perbaikan kondisi pasien.

5. Memberikan kesempatan untuk memperbaiki kesalahan konsepsi/peningkatan ansietas. Ketidak adekuatan keuangan/penyangkalan lama dapat mempengaruhi koping dengan/manajemen tugas untuk meningkatkan/mempertahankan kesehatan.

  1. V.       IMPLEMENTASI

Sesuai dengan intervensi

 

VI. EVALUASI randy Chandra

Dx 1 :

–          Klien mampu melakukan batuk efektif

–          Pernapasan klien normal (16-20 x/menit)

–          Tanpa ada penggunaan otot bantu napas.

Dx 2 :

–          Irama napas regular

–          Frekuensi napas 16-20x/menit

Dx 3 :

–          menunjukan peningkatan berat badan  menuju tujuan yang tepat

Dx 4 :

–          melaporkan/ menunjukan peningkatan toleransi terhadap aktivitas yang dapat diukur dengan tak adanya dipsnea, kelemahan berlebihan, dan takikardi.

Dx 5 :

–          pasien tampak rileks

–          melaporkan ansietas menurun sampai tigkat dapat ditangani

Dx 6 :

–          klien tidak bertanya-tanya tetang penyakitnya

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Carpenito-Moyet, Linda Juall. 2006. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 10.Jakarta:

Penerbit Buku Kedokteran EGC

Doenges,Marilyn.dkk.2000.Rencana Asuhan Keperawatan.Jakarta:Penerbit Buku

Kedokteran EGC

Muttagin, Arif. 2008. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem

            Pernapasan.Jakarta: Salemba Medika

 Santosa, Budi. 2005. Panduan Diagnosa Keperawatan Nanda 2005-2006. Prima Medika

Smeltzer, Suzanne C., dan Bare, Brenda G. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah,

            Brunner and Suddarth.Edisi 8. Vol. 1, Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC

Somantri, Irma. 2009. Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Gangguan Sistem

            Pernapasan.Edisi 2. Jakarta: Salemba Medika

https://chandrarandy.wordpress.com/2011/05/laporan-pendahuluan-asma.html