parkinson


ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN PENYAKIT PARKINSON

 

 

 

 

 

 

 

OLEH :

 

                       I MADE RANDI CANDRA DARMAWAN         09.321.0528

                       I PUTU AGUS K SANTIKA                                  09.321.0529

                       I PUTU WISNU PRIYANTO                                 09.321.0530

                       I PUTU EKA ARTHAWAN                                   09.321.0531

                       I PUTU HENDRA YANA                                       09.321.0532

                       I WAYAN PUTRA ADNYANA                            09.321.0533

 

 

 

 

 

 

 

PROGRAM STUDI S1  KEPERAWATAN

STIKES WIRA MEDIKA PPNI BALI

2010

 

 

 

A. KONSEP DASAR PENYAKIT

 

  1. I.                  Definisi

Penyakit Parkinson adalah suatu kondisi degenaratif yang terutama mengenai jaras ekstrapiramidal yang mengandung neurotransmitter dopamine, dan karakteristiknya adalah trias yang terdiri dari: akinesia-hambatan gerakan, rigiditas, tremor-gerakan gemetar ke atas bawah, biasanya mengenai anggota gerak atas.

Penyakit Parkinson (paralysis agitans) adalah penyakit degeneratif syaraf yang pertama ditemukan pada tahun 1817 (An Essay on the Shaking Palsy) oleh Dr. James Parkinson.dengan adanya tremor pada saat beristirahat, kesulitan untuk memulai pergerakan dan kekakuan otot.

Penyakit Parkinson adalah gangguan neurologic progresif yang mengenai pusat otak yang bertanggung jawab untuk mengontrol dan mengatur gerakan. (Suzanne C. Smetzer.2001)

 

  1. II.               Epidemiologi

Penyakit Parkinson cukup sering ditemukan, mungkin mengenai 1-2% populasi berusia lebih dari 60 tahun, tanpa adanya bias jenis kelamin yang signifikan. DIstribusi ditemukan di seluruh dunia, walaupun tampak lebih sering terjadi di Eropa dan Amerika Utara.

Parkinson menyerang sekitar 1 diantara 250 orang yang berusia diatas 40 tahun dan sekitar 1 dari 100 orang yang berusia diatas 65 tahun.

 

  1. III.            Etiologi
  2. Genetik

Dalam beberapa tahun belakangan ini, sejumlah kasus mutasi gen yang menyebabkan penyakit Parkinson telah ditemukan. Seseorang dengan Parkinson tak jarang memiliki saudara yang  terjangkit penyakit Parkinson.

  1. Toksin

Racun yang mampu menimbulkan penyakit Parkinson saat ini adalah pestisida dan paparan yang berulang dari metal seperti mangan atau besi terutama mereka yang memiliki kontak dengan spesies oksigen reaktif dan/atau terikat dengan neuromelanin. Pada salah satu studi The Cancer Prevention Study II Nutrition Cohort, terungkap 70% dari individu yang terpapar pestisida memiliki angka kejadian yang lebih tinggi dari yang tidak pernah terpapar.

Kejadian pada kelompok pecandu narkoba di California pada awal tahun 1980 yang mengkonsumsi produk yang terkontaminasi opiat sintetik MPPP menjadi MPTP ringan sebagai penyebab spesifik dari gejala penyakit Parkinson.

  1. Head Trauma

Sindrom punch drunk (cedera kepala kornik pada perinju) pasien dengan gambaran Parkinson sering disertai gejala kerusakan serebelar dan deficit  kognitif (demensia pugilistika)

  1. Inflamasi

Contohnya parkinsonisme pascaensefalitis, terjadi setelah epidemic ensefalitis letargik setelah perang dunia ke I, pada pasien terjadi rigiditas-akinetik kronik dengan gambaran karakteristik tertentu, terutaman krisis okulogiri.

  1. Neoplasia

Tumor ganglia basalis dengan hemiparkinsonisme kontralateral, sangan jarang

  1. Obat-obatan

Neuroleptik, antiemetik,  amiodaron.

  1. Idiopatik
  2. Vaskular

Infark lakunar multiple kadang dapat menyebabkan gambaran pseudoparkinsonian, tetapi biasanya disertai dengan disfungsi pyramidal dan kognitif

 

  1. IV.            Patifisiologi

Lesi utama tampak menyebabkan hilangnya neuron pigmen, terutama di dalam substansia nigra pada otak. Salah satu neurotransmitter mayor di daerah otak ini, dan bagian lain pada system saraf pusat adalah dopamin, yang berfungsi pentinf dalam menghambat gerakan pada pusat kontrol gerakan. Walaupun dopamin normalnya ada dalam konsentrasi tinggi di bagian-bagian otak tertentu, pada penyakit Parkinson dopamine menipis dalam substansia nigra dan korpus striatum. Penipisan kadar dopamine dalam basal ganglia berhubungan dengan adanya bradikinesia, kekakuan, dan tremor.

Diensefalon merupakan bagian batang otak paling atas terdapat diantara cerebellum dengan mesensefalon, kumpulan dari sel saraf yang terdapat di bagian depan lobus temporalis terdapat kapsula interna dengan sudut menghadap ke samping. Fungsi dari diensefalon:

  1. Mengecilkan pembuluh darah,
  2. Membantu proses pernapasan,
  3. Mengontrol kegiatan reflex,
  4. Membantu pekerjaan jantung. Sehingga gangguan pada bagian diensefalon menyebabkan timbulnya tremor, rigiditas, bradikinesia/akinesia, dan inabilitas postural.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

`

  1. V.               Tanda dan Gejala

Gejala-gejala kardinal:

  1. Tremor
  2. Rigiditas
  3. Bradikinesia/akinesia

d. Instabilitas postural

Gejala motorik lainnya, yaitu:

  1. Gangguan gaya berjalan dan postur:

a)     Shuffling: jalan menyeret

b)    Decreased arm-swing: berkurangnya kemampuan lengan membelok dan berayun

c)     Turning “en bloc”: kaku leher

d)    Stooped, forward-flexed posture: postur membungkuk

e)     Festination. Kombinasi dari postur tubuh yang membungkuk, ketidakseimbangan, dan langkah pendek.  Sering mengakibatkan pasien terjatuh.

f)     Gait freezing. Kekakuan merupakan manifestasi dari akinesia (ketidakmampuan bergerak). Gait freezing merupakan ketidakmampuan menggerakan telapak kaki.

g)    Dystonia (terjadi kira-kira 20% dari kasus): abnormal, nyeri pada saat kontraksi otot. Sering mempengaruhi kaki dan pergelangan kaki.

  1. Gangguan berbicara dan menelan

a)     Hypophonia: soft speech. Bicara yang pelan. Kualitas berbicara mengarah pada kelembutan, serak dan monoton. Beberapa pasien dengan penyakit Parkinson mengeluh merasakan lidahnya berat dan kekacauan berbicara.

b)    Monotonic speech: bicara monoton

c)     Festinating speech: sangat cepat, lembut, sangat kurang dimengerti.

d)    Drooling: mengeluarkan air liur, biasanya disebabkan oleh kelemahan, kesulitan menelan dan postur tubuh yang membungkuk.

e)     Dysphagia: kerusakan kemampuan menelan. Dapat menyebabkan aspirasi dan pneumonia.

  1. Gejala motorik lainnya:
  2.                       I.           Fatigue. Terjadi pada hampir 50% kasus.
  3.                    II.           Masked faces. Disebut juga dengan hipopomua. Wajah seperti topeng dengan infrequent blinking
  4.                  III.           Kesulitan menggulingkan badan di tempat tidur atau ketika berdiri dari posisi duduk
  5.                  IV.           Micrographia: tulisan kecil dan hampir tidak terbaca
  6.                     V.           Kerusakan keterampilan dan koordinasi motorik halus
  7.                  VI.           Kerusakan koordinasi motorik kasar
  8.                VII.           Akathisia, ketidakmampuan mempertahankan posisi duduk

 

  1. VI.            Pemeriksaan Fisik

Pada pemeriksaan fisik ditemukan kaku otot, tremor menyeluruh, kelemahan otot, dan hilangnya reflex postural. Penderita kesukaran dalam memulai, mempertahankan, dan membentuk aktivitas motorik. Tremor menyeluruh dengan karakteristik, lambat, gerakan membalik (prognasi-supinasi) pada lengan bawah dan telapak tangan dan gerakan ibu jari terhadap jari-jari seolah memutar sebuah pil diantara jari-jari. Ekspresi wajah yang datar, perubahan gaya berjalan dan sikap tubuh, kehilangan ayunan tangan normal, ekstremitas kaku dan lemah, pasien berdiri dengan kepala cenderung ke depan, berjalan dengan gaya seperti didorong, terdapat tanda-tanda depresi.

 

 

 

  1. VII.         Diagnosis

Pada umumnya, diagnosis tergantung dari catatan medis dan tes neurologi dari pasien yang dipadukan dengan hasil wawancara serta observasi dengan menggunakan Unified Parkinson’s Disease Rating Scale. Gambaran radiologi dari mesin scanning SPECT  yang disebut DaTSCAN yang menggunakan energy listrik ialah mesin khusus yang digunakan untuk mendiagnosa penyakit Parkinson, tetapi mesin tersebut hanya dipasarkan di Eropa. Maka dari itu, penyakit ini sangat sulit didiagnosa secara akurat, khususnya di stadium-stadium awal.  Karena gejala-gejalanya hampir mirip dengan gejala dari penyakit yang lainnya, Hanya 75 %  dari diagnose klinis penyakit Parkinson dapat dikonfirmasikan sebagai penyakit Parkinson idiopatik pada saat dilakukan autopsy.  Tanda dan gejala awal dari penyakit Parkinson kadang-kadang disalahartikan sebagai efek normal dari proses penuaan. Dokter perlu mengobservasi pasien tersebut untuk beberapa waktu sampai timbul tanda yang menunjukkan kalau gejala penyakit parkinson benar-benar ada. Dokter selalu memperhatikan adanya penurunan dari gerakan kaki dan tangan. Dokter juga kadang-kadang meminta untuk mengadakan scan otak atau tes laboratorium dengan tujuan untuk menyingkirkan dugaan penyakit lain . Bagaimanapun, gambaran dari CT scan dan MRI otak pada pasien Parkinson selalu menampakkan hasil yang normal.

Clinical practice guidelines yang di keluarkan oleh UK tahun 2006 menyebutkan bahwa diagnosis dan follow up dari penyakit Parkinson harus dilakukan oleh dokter spesialis yang khusus mempelajari tentang penyakit ini, terutama seorang neurologis atau spesialis geriatri yang tertarik dengan kelainan gerak .

 

  1. VIII.      Terapi

1)                Antihistamin – untuk menghilangkan tremor

2)                Antikolinergik – untuk mengontrol tremor dan kekakuan

3)                Amantadin hidroklorida – untuk menurunkan kekakuan, tremor, dan bradikinesia.

4)                Terapi levodopa

5)                Inhibitor MAO – menurunkan gejala dan memperlambat progresif penyakit dengan cara menghambat monoamine-oxidase.

6)                Anti depresan – mengurangi depresi

7)                Derivat Ergoet-Agonis dopamine

8)                Pembedahan – penatalaksanaan penyakit Parkinson melalui pembedahan dulu merupakan cara yang paling sering dilakukan, namun setelah ditemukan levodopa, pembedahan dilakukan pada beberapa kasus.

  1. Talamotomi stereostatik (pembedahan stalamus) jarang digunakan sejalan dengan terapi medikamentosa.
  2. Palidotomi (pembedahan globus palidus) berperan pada terapi diskinesia akibat obat.
  3. Transplantasi sel dengan menggunakan substansia nigra fetus masih merupakan teknik yang eksperimental.

 

  1. IX.            Prognosis

PD sebenarntya tidak dianggap sebagai penyakit yang mematikan, tetapi meningkat seiring dengan berjalannya waktu. Rata-rata harapan hidup  dari pasien Parkinson lebih rendah daripada orang-orang yang tidak menderita penyakit ini. Di stadium akhir dari penyakit Parkinson, pasien dapat mengalami beberapa komplikasi seperti sering tersedak, pneumonia, dan mungkin dapat menyebabkan kematian.

Peningkatan gejala penyakit Parkinson mungkin dapat berlangsung selama 20 tahun dan bahkan mungkin bisa lebih dari itu. Pada  beberapa orang, peningkatan dari gejala penyakit Parkinson mungkin berlangsung lebih cepat. Tidak ada  jalan untuk memprediksikan bagaimana perjalanan dari penyakit ini di dalam tubuh manusia. Dengan treatment yang tepat, banyak orang dapat hidup lebih lama walaupun ia telah di diagnosa menderita penyakit Parkinson .

Di beberapa hasil penelitian, sudah di observasi bahwa angka kematian naik secara signifikan dan harapan hidup menjadi menurun selama menjalani perawatan dirumah sebagai perbandingan .

 

 

B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian

Data subjektif :

  1. Pasien mengatakan nyeri pada saat kontraksi otot (Dystonia)
  2. Pasien mengatakan kesulitan menggulingkan badan di tempat tidur atau ketika berdiri dari posisi duduk
  3. Pasien mengatakan mengalami kesulitan menelan (Dysphagia)

 

Data objektif   : kaku otot, tremor menyeluruh, kelemahan otot, dan hilangnya reflex postural. kesukaran dalam memulai, mempertahankan, dan membentuk aktivitas motorik. Tremor menyeluruh dengan karakteristik, lambat, gerakan membalik (prognasi-supinasi) pada lengan bawah dan telapak tangan dan gerakan ibu jari terhadap jari-jari seolah memutar sebuah pil diantara jari-jari. Ekspresi wajah yang datar, perubahan gaya berjalan dan sikap tubuh, kehilangan ayunan tangan normal, ekstremitas kaku dan lemah, pasien berdiri dengan kepala cenderung ke depan, berjalan dengan gaya seperti didorong, terdapat tanda-tanda depresi, Hypophonia, Drooling, Micrographia, Monotonic speech, Festinating speech

 

2. Diagnosa Keperawatan

  1. Kerusakan mobilitas fisik b/d penurunan kekuatan ditandai dengan tremor, bradikinesia, dan rigiditas.
  2. Risiko perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan b/d susah menelan
  3. Gangguan sensori-perseptual b/d perubahan status organ indra (mata) ditandai dengan penglihatan kabur
  4. Risiko terhadap cedera b/d penurunan kemampuan visual

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. 3.                 Rencana Keperawatan

 

No

Diagnosa keperawatan

Tujuan dan kriteria hasil

Rencana keperawatan

rasional

1 Kerusakan mobilitas fisik b/d gangguan pergerakan akibat penurunan kadar dopamin

 

setelah diberikan askep diharapkan pasien mendemonstrasikan prilaku yang memungkinkan aktivitas

Kriteria hasil :

–                    Tremor, bradikinesia, dan rigiditas pasien berkurang atau hilang

 

  1. Periksa kembali kemampuan dan keadaan secara fungsional pada kerusakan yang terjadi.

 

  1. Kaji derajat immobilisasi dengan menggunakan skala ketergantungan (0-4)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Letakkan pasien pada posisi tertentu untuk menghindari kerusakan karena tekanan. Ubah posisi pasien secara teratur dan buat sedikit perubahan posisi antara waktu perubahan posisi tersebut

 

  1. Berikan/ bantu untuk melakukan latihan rentang gerak.

 

 

 

 

  1. Instruksikan/ bantu pasien dengan program latihan dan penggunaan alat mobilisasi. Tingkatkan aktivitas dan partisipasi dalam merawat siri sendiri sesuai kemampuan

 

 

 

  1. Mengidentifikasi kemungkinan kerusakan secara fungsional dan mempengaruhi pilihan intervensi yang akan dilakukan.

 

  1. pasien mampu mandiri (nilai 0), memerlukan bantuan/ peralatan yang minimal (nilai 1), memerlukan bantuan sedang/ dengan pengawasan/ diajarkan (nilai 2), memerlukan bantuan/ peralatan yang terus-menerus dan alat khusus (nilai 3), tergantung secara total pada pemberi asuhan (nilai 4)

 

  1. perubahan posisi yang teratur menyebabkan penyebaran terhadap

berat badan dan meningkatkan sirkulasi pada seluruh bagian tubuh.

 

 

 

 

 

  1. mempertahankan mobilitas dan fungsi sendi/ posisi normal ekstremitas dan menurunkan terjadinya vena yang statis.

 

  1. proses penyembuhan yang lambat seringkali menyertai trauma kepala dan pemulihan secara fisik merupakan bagian yang amat penting dari suatu program pemulihan tersebut.

 

2 Risiko perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan b/d susah menelan

 

setelah diberikan askep diharapkan pasien tetap mendapatkan nutrisi secara adekuat

Kriteria hasil :

– intake nutrisi  adekuat

 

  1. Kaji kemampuan pasien untuk mengunyah dan menelan.

 

 

 

 

 

  1. Auskultasi bising usus, catat adanya penurunan/ hilangnya atau suara yang hiperaktif

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Jaga kenyamanan dalam memberikan makan pada pasien, seperti tinggikan kepala tempat tidur selama pasien makan.

 

 

  1. Berikan makanan yang lunak dan yang sesuai dengan selera pasien

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Konsultasi dengan ahli gizi

 

 

  1. faktor ini menentukan pemilihan terhadap jenis makanan sehingga pasien harus terlindung dari aspirasi.

 

  1. fungsi saluran pencernaan biasanya tetap baik pada kasus cedera kepala, jadi bising usus membantu dalam menentukan respons untuk makan atau berkembangnya komplikasi, seperti paralitik ileus.

 

  1. menurunkan risiko regurgitasi dan/atau terjadinya aspirasi

 

 

 

 

 

  1. dengan memberikan makanan yang lunak pasien bisa lebih mudah untuk menelan dan makanan yang sesuai dengan selera pasien bisa meningkatkan nafsu makan pasien.

 

  1. merupakan sumber yang efektif untuk mengidentifikasi kebutuhan kalori/ nutrisi tergantung pada usia, berat badan, ukuran tubuh, dan keadaan penyakit sekarang.

 

3 Gangguan sensori-perseptual b/d perubahan status organ indra (mata) ditandai dengan penglihatan kabur

 

setelah diberikan askep diharapkan ketajaman penglihatan pasien kembali normal

Kriteria hasil :

–                    Mengidentifikasi/ memperbaiki potensial bahaya dalam lingkungan

 

  1. Pastikan derajat atau tipe kehilangan penglihatan

 

  1. Tunjukkan pemberian tetes mata, contoh menghitung tetesan, mengikuti jadwal, tidak salah dosis

 

  1. Perhatikan tentang suram atau penglihatan kabur atau iritasi mata, dimana dapat terjadi bila menggunakan tetes mata

 

  1. mempengaruhi harapan masa depan pasien.

 

 

  1. mengontrol TIO, mencegah kehilangan penglihatan lanjut

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Gangguan penglihatan atau iritasi dapat berakhir 1-2 jam setelah tetesan mata tetapi secara bertahap menurun dengan penggunaan

 

4 Risiko terhadap cedera b/d penurunan kemampuan visual

 

Setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan pasien dapat menyatakan pemahaman faktor yang terlibat dalam kemungkinan cedera

Kriteria hasil :

–                    menunjukkan perubahan prilaku pola hidup untuk menurunkan faktor risiko dan untuk melindungi diri dari cedera

  1. Kurangi resiko bahaya dari lingkungan klien seperti:
  • Kunci roda tempat tidur
  • Berikan pencahayaan yang adekuat.
  • Turun dari tempat tidur dari sisi mata yang tidak sakit dan tempat tidur dalam posisi rendah .
  • Pasang tempat tidur dalam posisi rendah.
  • Singkirkan benda-benda yang mudah jatuh(seperti tempat sampah, tissue< kursi tanpa sandaran)
  • Letakkan alat-alat seperti bel pemanggil, tissue, telpon, atau pengontrol ditempat yang mudah dijangkau klien pada sisi yang tidak terpengaruh.
  • Dorong klien untuk menggunakan pegangan kamar mandi jika mungkin.
  • Bersihkan lantai dari objek kecil seperti peniti, pensil dan jarum.
  1. Beritahu klien untuk mengubah posisi secara perlahan.
  2. Beritahu klien untuk tidak meraih benda untuk stabilitas.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Dorong klien untuk menggunakan peralatan adaptif seperti tongkat dan walker untuk ambulasi sesuai kebutuhan.
  2. Beritahu klien untuk naik turun sesekali waktu.

 

  1. Tekankan pentingnya penggunaan pelindung mata saat melakukan aktivitas beresiko tinggi seperti ambulasi pada malam hari atau saat berada ditengah-tengah anak-anak atau binatang peliharaan.
  2. Mencegah cedera.
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2.Mencegah pusing

 

 

 

3.Mencegah jatuh akibat perubahan kedalaman persepsi. Benda atau objek mungkin tidak terletak di tempat yang seperti yang dilihat klien, meraih yang berlebihan akan mengubah pusat gravitasi yang akan menyebabkan klien jatuh.

 

4.Meberikan sumber stabilitas.

 

 

 

 

 

 

 

5.Meningkatkan rasa keseimbangan.

 

 

6.Mencegah cedera.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. 4.     Evaluasi
  2. Pasien dapat mendemonstrasikan prilaku yang memungkinkan aktivitas

Tremor, bradikinesia, dan rigiditas pasien berkurang atau hilang

  1. Pasien tetap mendapatkan nutrisi secara adekuat
  2. Ketajaman penglihatan pasien kembali normal

Mengidentifikasi/ memperbaiki potensial bahaya dalam lingkungan

  1. Pasien dapat menyatakan pemahaman faktor yang terlibat dalam kemungkinan cedera

Menunjukkan perubahan prilaku pola hidup untuk menurunkan faktor risiko dan untuk melindungi diri dari cedera

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

  1. Brunner & Suddarth. 2002. Keperawatan Medikal Bedah Vol. 3. Jakarta: EGC
  2. Price, A. Sylvia. 1995. Patofisiologi Edisi 4. Jakarta: EGC
  3. Doenges, E. Marilynn. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3. Jakarta: EGC
  4. http://nursingbegin.com/askep-klien-dengan-penyakit-parkinson/
  5. http://wdnurhaeny.blogspot.com/2010/01/askep-parkinson-wnes.html
  6. http://wdnurhaeny.blogspot.com/2010/02/penyakit-parkinsonwnes.html