askep sindrom cushing


  1. Konsep Dasar Penyakit

 

1. Definisi Pengertian

Sindrom Cushing terjadi akibat aktivitas kortek adrenal yang berlebihan. Sindrom tersebut dapat terjadi akibat pemberian kortikosteroid atau ACTH yang berlebihan

atau akibat hyperplasia korteks adrenal.

Syndrome Chusing mempunyai gambaran klinis yang timbul akibat peningkatan glukotirod plasma jangka panjang dalam dosis farmakologik (Latrogen), (William. F. Ganang,Fisiologis Kedokteran,Hal 364). Syndrome Chusing di sebabkan oleh skresi berlebihan steroid adrenokortial,terutama kortisol. (IPD.Edisi III jilid I,hal 826)

Syndrome Chusing merupakan akibat dari kadar kortisol darah yang tinggi secara abnormal karena hiperfungsi korteks adrenal.(ilmu Kesehatan anak,Edisi 15 hal 1979).

Cushing’s syndrome merupakan istilah yang digunakan untuk menyatakan gangguan hormonal yang disebabkan paparan hormon kortisol untuk waktu yang lama dan dalam kadar yang tinggi pada jaringan-jaringan tubuh. Keadaan ini juga dikenal dengan istilah “hypercortisolism.” Hormon cortisol diproduksi oleh adrenal glands dan sebenarnya berfungsi menolong tubuh dalam merespon stress, seperti pada pembedahan dan penyakit, juga dalam pemulihan dari infeksi. Selain itu hormon ini juga berfungsi menjaga tekanan darah, fungsi cardiovascular, dan regulasi metabolisme dari protein, karbohidrat, dan lemak.

 

 

2. Penyebab/faktor predisposisi

Sindrom Chusing dapat disebabkan oelh pemberian glukokortikoid jangka panjang dalam dosis farmakologis (iatrogenik) atau oleh sekresi kortisol yang berlebihan akibat gangguan aksis hipotalamus-hipofisis-adrenal (spontan).

Sindrom Chusing Iatrogenik dijumpai pada penderita artritis rematoid, asma, limfoma, dan gangguan kulit umum yang menerima glukokortikoid sintetik sebagai agen antiinflamasi. Pada sindrom mChusing spontan, hiperfungsi korteks adrenal terjadi atau sebagai akibat rangsangan berlebihan oleh ACTH atau akibat patologi adrenal yang mengakibatkan produksi kortisol abnormal.

Sindrom Cushing terjadi ketika jaringan tubuh yang terpapar tingkat kortisol tinggi terlalu lama. Banyak orang berpendapat sindrom Cushing disebabkan karena produksi Glukokortikoid-steroid hormon yang secara kimiawi serupa dengan kortisol diproduksi secara alami-seperti prednison untuk asma, rematik, lupus, dan penyakit peradangan lain. Glukokortikoid juga digunakan untuk menekan sistem imun setelah transplantasi untuk menjaga tubuh dari menolak

Organ atau jaringan baru.
Sindrom Cushing juga dapat disebabkan karena tubuh mereka memproduksi terlalu banyak kortisol. Biasanya, produksi kortisol mengikuti rantai peristiwa yang tepat. Pertama, hipotalamus, bagian dari otak tentang ukuran kecil gula kubus, mengirim kortikotropin-releasing hormone (CRH) ke kelenjar pituitari. CRH menyebabkan adrenocorticotropin hipofisis untuk mengeluarkan hormon (ACTH), yang merangsang kelenjar adrenal. Ketika adrenal, yang terletak tepat di atas ginjal, menerima ACTH, mereka merespons dengan melepaskan kortisol ke dalam aliran darah.

 

3. Patofisiologi

Tumor kelenjar hipofisis akan meningkatkan produksi ACTH yang menstimuli korteks adrenal untuk meningkatkan sekresi hormonnya walaupun hormon tersebut telah diproduksi dalam jumlah yang cukup.Begitu juga dengan pemberian kortikosteroid dan adanya tumor korteks adrenal meningkatkan sekresi korteks adrenal yaitu kortisol dan hormon seks (androgen). Peningkatan kortisol ini akan meningkatkan metabolisme protein, karbohidrat, dan lemak. Metabolisme protein yang berlebihan akan mengakibatkan menurunnya sistem imun,menurunnya protein tulang sehingga dapat menyebabkan osteoporosis, terjadinya kelemahan otot, dan penipisan kulit. Peningkatan metabolisme karbohidrat akan menyebabkan meningkatnya kadar glukosa darah akibat glukoneogenesis. Sedangkan peningkatan metabolisme lemak akan meningkatkan mobilisasi lemak sehingga berkurangnya penggunaaan lemak untuk metabolisme tubuh dan dapat menyebabkan penimbunan lemak.Sedangkan meningkatnya androgen akan menyebabkan terjadinya virilisasi pada wanita yang ditandainya dengan timbulnya ciri-ciri maskulin dan hilangnya ciri-ciri feminim.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

4. Gejala Klinis

Penderita sindom cushing biasanya mengalami :

  1. kelemahan otot
  2. mudah lelah
  3. obesitas
  4. kulit menjadi mudah luka
  5. timbul jerawat
  6. mudah terserang infeksi akibat menurunnya sistem imun.

 

5. Pemeriksaan Fisik

  1. Inspeksi : moon face, adanya jerawat
  2. Palpasi : kulit tipis, adanya edema

 

6. Pemeriksaan diagnostik/Penunjang

  1. Pemeriksaan Laboratorium

Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan adalah pemeriksaan kadar glukosa darah, natrium, kadar kalium, dan jumlah sel eosinofil. Selain itu, dilakukan juga pengambilan sampel urin untuk mengetahui kadar kortisol plasma.

    1. Pemeriksaan CT Scan, USG, atau MRI

Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui lokasi jaringan adrenal atau mendeteksi tumor pada kelenjar adrenal.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan

Pengumpalan riwayat dan pemeriksaan kesehatan difokuskan pada efek tubuh dari hormone korteks adrenal yang konsentrasinya tinggi dan pada kemampuan korteks adrenal untuk berespons terhadap perubahan kadar kortisol dan aldosteron. Riwayat kesehatan mencakup informasi tentang tingkat aktivitas klien dan kemampuan untuk melakukan aktivitas rutin dan perawatan diri. Detailnya pengkajian keperawatan untuk klien dengan sindrom cushing mencakup:

  1. Kaji kulit klien terhadap trauma, infeksi, lecet-lecet, memar dan edema.
  2.  Amati adanya perubahan fisik dan dapatkan respon klien tentang perubahan dini yang meliputi neurologis , muskuluskeletal, kardivaskular, gastrointestinal, ginjal, metabolisme, integumen, dan seksual/reproduksi.
  3.  Lakukan pengkajian fungsi mental klien, termasuk suasana hati, respon terhadap pertanyaan, kewaspadaan terhadap lingkungan, dan tingkat depresi. Keluarga klien merupakan sumber terbaik untuk mendapatkan informasi tentang perubahan ini.

 

  1. Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul

a. Risiko cedera dan infeksi berhubungan dengan kelemahan dan menurunnya

sistem imun.

b. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan otot

c. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan edema dan kulit yang tipis

serta rapuh.

d. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan penampilan fisik dan

gangguan fungsi seksual

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Rencana Tindakan
DIAGNOSIS TUJUAN IMPLEMENTASI RASIONAL
Risiko cedera dan infeksi berhubungan dengan kelemahan dan menurunnya sistem imun Menurunkan risiko cedera dan infeksi –      Menciptakan lingkungan yang aman

–      Melakukan penilaian kondisi pasien lebih sering

 

–      Lingkungan yang aman mencegah risikocedera

–      Efek anti-inflamasi dari kortikosteroid menyamarkan tanda-tanda infeksi

 

Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan otot Meningkatkan kemampuan untuk melaksanakan aktivitas perawatan- mandiri –      Menganjurkan pasien melakukan aktivitas ringan

–      Menciptakan lingkungan yang tenang

–      Mencegah komplikasi imobilitas dan meningkatkan rasa percaya diri

–      Lingkungan yang tenang dan membantu pasien untuk beristirahat sehingga dapat mengurangi kelemahan

Gangguan integritas kulit berhubungan dengan edema dan kulit yang tipis serta rapuh Meminimalkan gangguan pada kulit pasien –      Melakukan perawatan kulit secara cermat

–      Menganjurkan dan membantu pasien untuk mengubah posisi

–      Perawatan kulit yang cermat menghindari trauma pada kulit pasien yang rapuh

–      Mengubah posisi dapat mencegah kerusakan kulit pasien

Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan penampilan fisik dan gangguan fungsi seksual Meningkatkan rasa percaya diri pada pasien –      Memberikan HE tentang dampak yang ditimbulkan oleh perubahan pada diri pasien

–      Berkolaborasi dengan ahli gizi untuk memilih makanan yang rendah natrium dan kalori

–      Pemberian HE dapat meningkatkan pengetahuan sehingga pasien dapat menerima perubahan pada dirinya

–      Menyeimbangkan kadar natrium dan kalori dalam tubuh pasien

 

 

 

 

  1. Evaluasi
    1. Risiko cedera dan infeksi berhubungan dengan kelemahan dan menurunnya sistem imun.

S : Pasien mengatakan tidak mengalami cedera

O: Pasien tidak mengalami cedera

A: Tujuan tercapai

P: Pertahankan keadaan pasien

 

  1. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan otot

S : Pasien mengatakan mampu melakukan aktifitas ringan

O : Pasien terlihat lebih segar

A : Tujuan tercapai

P : Pertahankan keadaan pasien

 

 

  1. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan edema dan kulit yang tipis  serta rapuh.

S : Pasien mengatakan tidak mudah terluka

O : Pasien tidak mengalami gangguan kulit

A : Tujuan tercapai

P : Pertahankan keadaan pasien

 

  1. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan penampilan fisik dan  gangguan fungsi seksual

S : Pasien mengatakan bisa menerima perubahan pada dirinya

O : Pasien tampak lebih percaya diri

A : Tujuan tercapai

P : Pertahankan keadaan pasien

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA
R. Syamsuhidayat Buku Ajar Ilmu Bedah; 1997 EGC; Jakarta
Sylvia A. Price; Patofisiolgi Konsep klinis Proses-Proses Penyakit ; 1994 EGC; Jakarta

 

Susanne C. Smeltzer; Buku Ajar Medikal Bedah Brunner-Suddart; 1999. EGC; Jakarta;

https://chandrarandy.wordpress.com