konsep trauma thorax


2.1  Definisi :

  1. Definisi Trauma

Trauma adalah luka atau cedera fisik lainnya atau cedera fisiologis akibat gangguan emosional yang hebat.

Trauma adalah penyebab kematian utama pada anak dan orang dewasa kurang dari 44 tahun. Penyalahgunaan alkohol dan obat telah menjadi faktor implikasi pada trauma tumpul dan tembus serta trauma yang disengaja atau tidak disengaja.

Jadi trauma adalah luka atau cedera fisik lainnya atau biologis sehingga dapat menyebabkan kematian uatama pada anak – anak atau pada orang dewasa.

  1. Definisi Trauma Thorax

Trauma thorax adalah semua ruda paksa pada thorax dan dinding thorax, baik trauma atau ruda paksa tajam atau tumpul.

Trauma dada atau thorax adalah trauma tajam atau tembus thoraks yang dapat menyebabkan tamponade jantung, perdarahan, pneumothoraks, hematothoraks, hematompneumothoraks.

Trauma thorax adalah luka atau cedera yang mengenai rongga thorax yang dapat menyebabkan kerusakan pada dinding thorax ataupun isi dari cavum thorax yang disebabkan oleh benda tajam atau bennda tumpul dan dapat menyebabkan keadaan gawat thorax akut.

Trauma dada dapat merupakan trauma tajam atau tembus thoraks yang dapat menyebabkan tamponade jantung, perdarahan, pneumothoraks, hematothorks, hematopneumo thoraks. Trauma thorax adalah troma paksa pada thorax dan dinding thorax, baik trauma atau ruda paksa tajam atau tumpul. Trauma thorak dapat disebut juga trauma yang terjadi pada toraks yang menimbulkan kelainan padaorgan-organ di dalam toraks.

Cedera pada dada sering mengancam jiwa dan mengakibatkan satu atau lebih mekanisme patologi berikut:

  1. Hipoksia akibat gangguan jalan napas, cedera pada parenkim paru, sangkar uga, dan otot pernapasan, kolaps paru dan pnemotoraks
  2. Hipovolemia akibat kehilangan cairan pasif dari pembuluh besar, rupture jantung, atau hemotoraks

Gagal jantung akibat tamponade jantung, kontusio jantung, atau tekanan intratoraks yang meningkat.

Jadi trauma thorax adalah semua ruda paksa pada thorax, abik trauma atau ruda paksa benda tajam atau tumpul sehingga dapat menyebabkan kerusakan pada dinding thorax ataupun isi dari cavum atau tamponade jantung, perdarahan, pneumothoraks, hematothoraks, hematompneumothorak dan mengakibatkan kegawatdaruratan.

Di dalam toraks terdapat dua organ yang sangat vital bagi kehidupan manusia, yaitu paru-paru dan jantung. Paru-paru sebagai alat pernapasan dan jantung sebagai alat pemompa darah. Jika terjadi benturan atau trauma pada dada, kedua organ tersebut bisa mengalami gangguan atau bahkan kerusakan.

2.2  Etiologi

  1. Trauma tembus (penetrating trauma).
  1. Luka Tembak
  2. Luka Tikam / Tusuk

Pada trauma tusuk biasanya diakibatkan oleh luka tembak, atau luka tusuk, dengan penyebaran tenaga pada area yang kecil, tidak seluas trauma tumpul. Pada luka tembak, arah tembakan peluru, tidak dapat dipredikisi dengan jelas, sehingga seluruh organ dada memiliki risiko tinggi.

  1.  Trauma tumpul (blunt trauma)
  1. Kecelakaan kendaraan bermotor
  2. Jatuh
  3. Pukulan pada dada

Pada trauma tumpul, kekuatan hantaman didistribusikan ke area yang luas, dan kerusakan visceral terjadi akibat tahanan, penyebaran kekuatan hantaman, tekanan

2.3  Tanda dan Gejala pada Trauma Thorax

Secara umum tanda dan gejala trauma thorax adalah :

  1. Ada jejas pada thorak
  2. Nyeri pada tempat trauma, bertambah saat inspirasi
  3. Pembengkakan lokal dan krepitasi pada saat palpasi
  4. Pasien menahan dadanya dan bernafas pendek
  5. Dispnea, hemoptisis, batuk dan emfisema subkutan
  6. Penurunan tekanan darah
  7. Peningkatan tekanan vena sentral yang ditunjukkan oleh distensi vena leher
  8. Bunyi muffle pada jantung
  9. Perfusi jaringan tidak adekuat
  10. Pulsus paradoksus ( tekanan darah sistolik turun dan berfluktuasi dengan pernapasan) dapat terjadi dini pada tamponade jantung

2.4  Jenis – jenis kegawatdaruratan pada trauma thoraks

  1. Rib Fracture (Fraktur costae)

Pengertian

Fraktur iga (costae) merupakan kejadian tersering yang diakibatkan oleh trauma tumpul pada dinding dada.Walaupun fraktur tulang iga seringmuncul, sukar untuk menentukan prevalensi yang sesungguhnya diantara pasien-pasien dengan cedera serius,karena radiografi anteroposterior sangat kurang sensitive untuk fraktur tulang iga. Iga 4-10 merupakan daerah yang tersering mengalami fraktur. Pasien sering melaporkan nyeri pada dada saat inspirasi dan rasa tidak nyaman. Pada pemeriksaan fisik ditemukan nyeri tekandan juga terdapat krepitasi pada daerahfraktur. Fraktur iga bisa juga menjadi petanda adanya hubungan signifikan antara fraktur intrathorakal danextrathorakal. Pernah dilaporkan, 50% pasien mengalami trauma tumpul pada jantung juga terdapat fraktur iga. Fraktur  pada iga 8-12 patut dicurigai adanya trauma pada organ abdomen. Organ abdomen yang paling sering cedera adalah liver dan splen. Pasien-pasien dengan fraktur tulang iga sebelah kanan, termasuk iga kedelapan dan dibawahnya,memiliki kemungkinan 19% sampai56% mengalami cedera hati, sedangkan fraktur sisi kiri memiliki kemungkinan22% sampai 28% mengalami cederasplenn. Trauma tajam lebih jarangmengakibatkan fraktur iga, oleh karenaluas permukaan trauma yang sempit,sehingga gaya trauma dapat melalui selaiga. Fraktur iga bagian bawah juga dapatdiserati adanya trauma pada diafragma.

Adanya fraktur iga terutama kurang baik  pada anak-anak dan orang tua. Tulang anak-anak cepat mengalami kalsifikasi,konsekuensinya, dinding dada merekalebih rapuh dari pada orang dewasa. Fraktur tulang iga pada anak-anak mengindikasikan suatu tingkat absorpsi energi yang tinggi daripada mungkin pada perkiraan orang dewasa. Dengansuatu kesimpulan, ketiadaan fraktur tulang iga pada anak tidak akan mengurangi perhatian untuk cedera intrathoraks yang parah. Pada suatu penelitian dari 986 pasien anak dengantrauma tumpul dada, 2% memiliki cedera thoraks yang parah tanpa bukti adanya trauma dinding dada. Tiga puluh delapan persen anak dengan kontusio paru tidak memiliki bukti radiografiadanya fraktur tulang iga.Tiga atau lebih fraktur iga yang terjadi berhubungan dengan meningkatnya resiko trauma organ dalam dan mortalitas.

  1. Flail chest

Pengertian

Flail chest jarang terjadi, tapi merupakan cedera tumpul dinding dada yang serius. Prevalensi flail chest pada pasien-pasien dengan cedera dinding dada diperkirakan antara 5% sampai13%.Flail chest adalah area thoraksyang “melayang” (flail) oleh sebab adanya fraktur iga multipel berturutan lebih dari 3 iga , dan memiliki garisfraktur lebih dari 2 (segmented) pada tiap iganya dapat tanpa atau dengan fraktur sternum. Akibatnya adalah:terbentuk area “flail” segmen yang mengambang akan bergerak paradoksal (kebalikan) dari gerakan mekanik  pernapasan dinding dada. Area tersebut akan bergerak masuk saat inspirasi dan bergerak keluar pada ekspirasi, sehingga udara inspirasi terbanyak memasuki paru kontralateral dan banyak udara ini akan masuk pada paru ipsilateral selama fase ekspirasi, keadaan ini disebut dengan respirasi pendelluft. Fraktur pada daerah iga manapun dapat menimbulkan flailchest. Dinding dada mengambang (flail chest) ini sering disertai dengan hemothoraks, pneumothoraks, hemoperikardium maupun hematoma paru yang akan memperberat keadaan penderita. Komplikasi yang dapat ditimbulkan yaitu insufisiensi respirasidan jika korban trauma masuk rumah sakit, atelectasis dan berikut pneumonia dapat berkembang.

Diagnosis flail chest ditetapkandengan mengobservasi gerakan paradoksal dari tempat yang dicurigai pada keadaan napas spontan. Pada inspirasi, segmen flail ditarik kedalamoleh tekanan negative intrathoraks. Dengan ekshalasi, kekuatan tekanan positif segmen akan menonjol kearah luar.

  1. Fraktur klavikula

Pengertian

Klavikula adalah salah satu tulang pada tubuh yang paling sering mengalami cedera dan merupakan fraktur yang paling sering berhubungan dengan proses kelahiran. Klavikula, atau tulang kerah, adalah tulang yang relativelurus yang menghubungkan sternum dengan tulang scapula. Klavikula dapat mengalami fraktur melalui pukulan langsung ke daerah tersebut, atau lebih umum, karena terjatuh pada ujung bahu. Gejala umum termasuk bengkak dan nyeri di dada, yaitu posisi pertengahan antara leher dan bahu. Tanda-tanda fraktur klavikula meliputi: titik perlunakan, krepitasi dan bengkak di tempat fraktur (biasanya di pertengahan klavikula pada anak-anak dan didekat ujung bahu pada orangdewasa). Pasien biasanya merasakan sakit sementara pada saat istirahat yang diperhebat dengan adanya gerakan sendi bahu. Kelainan pada rongga pleura Pneumothoraks merupakan salah satu kelainan pada rongga pleura ditandai dengan adanya udara yang terperangkap dalam rongga pleura sehingga akan menyebabkan peningkatan tekanan negatif intrapleura dan akan mengganggu proses pengembangan paru. Pneumothoraks merupakan salah satu akibat dari trauma tumpul yang sering terjadi akibat adanya penetrasi fraktur iga pada parenkim parudan laserasi paru. Pneumothoraks terbagiatas tiga yaitu:

  1. Simple pneumothoraks

Simple pneumothoraks yaitu pneumothoraks yang tidak disertai peningkatan tekanan intrathoraks yang progresif. Ciri-cirinya adalah paru pada sisi yang terkena akan kolaps (parsialatau total), tidak ada mediastinalshift. Pada pemeriksaan fisik didapatkan bunyi nafas melemah,hyperresonance (perkusi), pengembangan dada menurun.

  1. Tension pneumothoraks

Tension Pneumothoraks adalah pneumothoraks yang disertai peningkaan tekanan intra thoraks yang semakin lama, semakin bertambah (progresif). Padatension pneumothoraks ditemukan mekanisme ventil yaitu udara dapat masuk dengan mudah, tetapi tidak dapat keluar.Ciri-cirinya yaitu terjadi peningkatan intra thoraks yang progresif, sehingga terjadi kolaps paru total, mediastinal shift (pendorongan mediastinum kekontralateral), deviasi trakea. Pada pemeriksaan fisik didapatkan sesak yang bertambah berat dengan cepat, takipneu, hipotensi.

  1. Open Pneumothorak

Timbul karena trauma tajam, adahubungan dengan rongga pleurasehingga paru menjadi kuncup.Seringkali terlihat sebagai luka pada dinding dada yangmenghisap pada setiap inspirasi (sucking chest wound). Apabila lubang ini lebih besar dari pada2/3 diameter trachea, maka padainspirasi udara lebih mudahmelewati lubang dadadibandingkan melewati mulutsehingga terjadi sesak nafas yang hebat.

  1. Kerusakan pada mediastinum
  1. Ruptur Trakeobronkial

Ruptur trakea dan bronkus utama(rupture trakeobronkial) dapat disebabkan oleh trauma tajam maupun trauma tumpul dimana angka kematian akibat penyulit ini adalah 50%. Pada trauma tumpul ruptur terjadi pada saat glottis tertutup dan terdapat peningkatan hebat dan mendadak dari tekanan saluran trakeobronkial yang melewati batas elastisitas saluran trakeobron kialini. Kemungkinan kejadian ruptur  bronkus utama meningkat pada trauma tumpul thoraks yang disertai dengan fraktur iga 1 sampai 3, lokasi tersering adalah pada daerah karina dan percabangan bronkus. Pneumothoraks, pneumomediatinum, emfisema subkutandan hemoptisis, sesak nafas,dan sianosis dapat merupakan gejala dari ruptur ini.

a)         Ruptur esophagus

Ruptur esofagus lebih sering terjadi pada trauma tajam disbanding trauma tumpul thoraks dan lokasi ruptur oleh karena trauma tumpul paling sering pada 1/3 bagian bawah esofagus. Akibat ruptur esofagus akan terjadi kontaminasi rongga mediastinum oleh cairan saluran pencernaan bagian atas sehingga terjadi mediastinitis yang akan memperburuk keadaan penderitanya. Keluhan pasien berupa nyeri tajam yang mendadak diepigastrium dan dada yang menjalar ke punggung. Sesak nafas, sianosis dan syok muncul pada fase yang sudah terlambat

b)         Tamponade jantung

Tamponade jantung terdapat pada 20% penderita dengan trauma thoraks yang berat, trauma tajam yangmengenai jantung akan menyebabkan tamponade jantung dengan gejala trias Beck yaitu distensi vena leher, hipotensidan menurunnya suara jantung. Kontusiomiokardium tanpa disertai ruptur dapat menjadi penyebab tamponade jantung. Patut dicurigai seseorang mengalami trauma jantung bila terdapat: trauma tumpul di daerah anterior, fraktur pada sternum, trauma tembus/tajam pada area prekordial (parasternal kanan, sela iga IIkiri, garis mid klavikula kiri, arkus kostakiri). Pada otopsi ditemukan sebuah daerah yang terbatas dan tersering pada ventrikel kanan dan menyerupai suatu infark, perdarahan yang mencolok.  Kontusio Jantung cedera ini mengacu pada luka atau memar pada miokardium (otot jantung). Kontusio (memar) miokardiumadalah hasil dari cedera yang melibatkankekuatan tumpul yang mengarah ke dada (misalnya kecelakaan lalu lintas). Contusio miokard mungkin berhubungan dengan pneumothoraks, fraktur sternum, fraktur iga, contusio paru atau hemothoraks. Luka memar  jantung menyebabkan detak jantung tidak beraturan (aritmia) yang dapat mengancam nyawa.

  1. Ruptur Aorta

Aorta thorakalis sering bermasalah terhadap kekuatan deselerasi cepat, yang sering terjadi pada suatu kecelakaan kendaraan bermotor (cedera depan), ketika dada terbentur dengan alat kemudi. Ruptur aorta sering menyebabkan kematian penderitanya, diperkirakan penyebab kedua tersering kematian pada pasien dengan ceder adada dan lokasi ruptur tersering adalah di bagian proksimal arteri subklavia kiridekat ligamentum arteriosum. Hanyakira-kira 15% dari penderita trauma dada dengan ruptur aorta ini dapat mencapai rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan. Kecurigaan adanya ruptur aorta dari foto thoraks bila didapatkan mediastinum yang melebar, fraktur iga 1dan 2, trakea terdorong ke kanan, gambaran aorta kabur, dan penekanan bronkus utama kiri.

  1. Ruptur diafragma

Ruptur diafragma pada trauma thoraks biasanya disebabkan oleh trauma tumpul pada daerah thoraks inferior atau abdomen atas yang tersering disebabkan oleh kecelakaan. Trauma tumpul didaerah thoraks inferior akan mengakibatkan peningkatan tekanan intra abdominal mendadak yangditeruskan ke diafragma. Ruptur terjadi bila diafragma tidak dapat menahantekanan tersebut, herniasi organintrathoraks dan strangulasi organ abdomen dapat terjadi. Dapat pula terjadi ruptur diafragma akibat trauma tembus pada daerah thoraks inferior.Pada keadaan ini trauma tembus juga akan melukai organ-organ lain (intrathoraks atau intra abdominal). Ruptur umumnya terjadi di “puncak” kubah diafragma, ataupun kita bisa curigai bilaterdapat luka tusuk dada yang didapat kan pada: dibawah ICS 4anterior, di daerah ICS 6 lateral, didaerah ICS 8 posterior. Kejadian ruptur diafragma lebih sering terjadi di sebelahkiri daripada sebelah kanan. Kematian dapat terjadi dengan cepat setelah terjadinya trauma oleh karena shock dan perdarahan pada cavum pleura kiri.

  1. Hematothoraks

Hemothoraks adalah suatu keadaan yang paling sering dijumpai pada penderita trauma thoraks yang sering disebabkan oleh trauma pada paru, jantung, pembuluh darah besar. Pada lebih 80% penderita dengan trauma thoraks dimana biasanya terdapat darah>1500ml dalam rongga pleura akibat trauma tumpul atau tembus pada dada. Sumber perdarahan pada umumnya berasal dari adanya cedera pada paru- paru, arteri interkostalis, robeknya arterimamaria interna maupun pembuluh darah lainnya seperti aorta dan venacava. Dalam rongga pleura dapat menampung 3 liter cairan, sehingga pasien hematothoraks dapat syok berat(kegagalan sirkulasi) tanpa terlihat adanya perdarahan yang nyata, distresnafas juga akan terjadi karena paru disisi hemothoraks akan kolaps akibat tertekan volume darah. Pada pemeriksaan dapat ditemukan shock,deviasi trakea, suara pernapasan yang melemah (unilateral), vena dileher menjadi colaps akibat hipovolemia atau penekanan karena efek mekanik oleh darah di intrathoraks.

  1. Pneumotoraks

Pneumotoraks dapat diklasifikasikan sesuai dengan penyebabnya, yaitu traumatic atau spontan, pneumotoraks juga dapat diklasifikasikan sesuai dengan urutan peristiwa yang merupakan kelanjutan dari adanya robekan pleura, yaitu terbuka, tertutup, atau pneumotoraks tekanan.Luka tembus dada merupakan penyebab umum pneumotoraks traumatik. Ketika udara masuk ke dalam rongga pleura yang dalam keadaan normal bertekanan lebih rendah dari tekan atmosfir, paru akan kolaps sampai pada batas tertentu. Tetapi jika terbentuk saluran terbuka, maka kolaps masih akan terjadi sampai tekanan dalam pleura sama dengan tekanan atmosfir. Mediastinum akan bergeser kearah paru yang kolaps dan dapat berpidah bolak-balik selama siklus pernapasan, sewaktu udara keluar masuk rongga pleura. Pengobatan darurat pada luka tembus dada terdiri dari pemasanganperekat yang tak tembus udara diatas luka. Pasien harus diobservasi  untuk menemukan tanda-tanda  tekanan pneumotoraks dan, bila tekanan pneumotoraks muncul, perekat yang telah dipasang tersebut harus di angkat dari atas luka. Kalau cacat yang menyebabkan terbentuknya hubungan antara rongga pleura dan atmosfir dapat menutup sendiri, maka ini dinamakan sebagai pneumotoraks tertutup. Sebaliknya, jika hubungan itu tetap terbuka selama inspirasi dan menutup selama ekspirasi (efek katup searah), banyak udara akan tertimbun dalam rongga pleura, sehingga tekanannya akan melebihi tekanan atmosfir, akibatnya paru akan kolaps total. Keadaan ini dikenal dengan nama pneumotoraks tekanan. Pneumotoraks tekanan ini merupakan suatu keadaan gawat darurat yang harus cepat ditangani dengan aspirasi udara dari rongga pleura.

Pneumotoraks spontan adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan suatu pneumotoraks yang terjadi secara tiba-tiba dan tak terduga dengan  atau tanpa penyakit paru yang mendasarinya. Penyakit paru yang sering mengakibatkan pneumotoraks sekunder sepontan antara lain emfisema (pecahnya bleb atau bula) ,pneumonia dan neo plasma. Pneumotoraks akan terjadi apabila ada hubungan antara bronkus atau alveolus dengan rongga pleura ; sehingga udara dapat masuk ke rongga pleura melalui kerusakan yang ada,menyebabkan pleumotoraks terbuka,tertutup atau pneumotoraks tekanan. Pneumotoraks spontan dapat juga dialami oleh orang muda yang kliatanya sehat,biasanya berusia diantara 20 dan 40 tahun, dan di sebut pneumotoraks spontan idiopatik atau primer. Biasanya penyebabnya adalah pecahnya bleb subpleura pada permukaan paru atau penyakit bula local. Penyebab terbentuknya bleb atau bula pada orang sehat masih belum diketahui tetapi kadang-kadang dilaporkan adanya predisposisi familial.

2.5  Primary survey

  1. Open pneumo thorax

Yaitu kulit dan dinding dada terbuka dan ada kemungkinan terjadinya hubungan antara udara dalam rongga dada dengan udara luar. Beberapa benda dapat menembus dinding dada seperti pisau, peluru, patahan besi, patahan tulang rusuk dan lainnya. Cedera ini sering berakibat perubahan tekanan dalam rongga dada sehingga paru –paru mungkin kempes atau terdorong. Hal lain yang mungkin terjadi adalah hubungan terus menerus anatar udara dalam rongga dada dan udara luar mengikuti irama nafas, yang dikenal dengan nama sucking chest wound dan dapat mengancam nyawa.

Diagnosis open pneumothorax ditegakkan dengan pemeriksaan klinis, yakni dengan ditemukannya gejala nyeri dada dan sesak napas. Pada pemeriksaan fisis dapat ditemukan takipneu, takikardia,  hipersonor pada perkusi dinding dada, dan menghilangnya suara napas, serta terdapat vulnus scissum di hemithorax kiri sela iga VI anterolateral ukuran 15×3 cm, tampak kavum thoraks. Pada rontgen toraks post pemasangan WSD didapatkan gambaran udara bebas di rongga pleura. Defek atau luka yang besar pada dinding dada yang terbuka menyebab pneumothorak terbuka.

Apabila lubang ini lebih besar dari 2/3 diameter trachea, maka pada inspirasi udara akan lebih mudah melewati lubang pada dinding dada dibandingkan melewati mulut, sehingga terjadi sesak yang hebat.

Penatalaksaan :

Tindakan pada open pneumothoraks, usaha pertama adalah menutup lubang pada dinding dada ini, sehingga open pneumothoraks menjadi closed pneumothoraks ( tertutup). Harus diperhatikan bahwa selain lubang pada dinding dada, juga ada lubang pada paru, maka usaha menutup lubang ini dapat mengakibatkan terjadinya tension pneumothoraks, sehingga harus sering dilakukan evaluasi paru, apabila ternyata timbul tanda tension pnemo-thoraks, maka kasa harus dibuka.

Penggunaan fixasi dada dan plester besar sudah tidak berlaku karena dapat mengganggu proses pernapasan. Umumnya cukup dengan pemberian Oksigen, analgesik, dan breathing exercise.

  1. Tension pneumo thorax

Berkembang ketika terjadi one-way-valve (fenomena ventil), kebocoran udara yang berasal dari paru-paru atau melalui dinding dada masuk ke dalam rongga pleura dan tidak dapat keluar lagi (one-way-valve). Akibat udara yang masuk ke dalam rongga pleura yang tidak dapat keluar lagi, maka tekanan di intrapleural akan meninggi, paru-paru menjadi kolaps, mediastinum terdorong ke sisi berlawanan dan menghambat pengembalian darah vena ke jantung (venous return), serta akan menekan paru kontralateral. Penyebab tersering dari tension pneumothorax adalah komplikasi penggunaan ventilasi mekanik (ventilator) dengan ventilasi tekanan positif pada penderita dengan kerusakan pada pleura viseral. Tension pneumothorax dapat timbul sebagai komplikasi dari penumotoraks sederhana akibat trauma toraks tembus atau tajam dengan perlukaan parenkim paru tanpa robekan atau setelah salah arah pada pemasangan kateter subklavia atau vena jugularis interna. Kadangkala defek atau perlukaan pada dinding dada juga dapat menyebabkan tension pneumothorax, jika salah cara menutup defek atau luka tersebut dengan pembalut (occhusive dressings) yang kemudian akan menimbulkan mekanisme flap-valve. Tension pneumothorax juga adapat terjadi pada fraktur tulang belakang toraks yang mengalami pergeseran (displaced thoracic spine fractures). Diagnosis tension pneumotorax ditegakkan berdasarkan gejala klinis, dan tetapi tidak boleh terlambat oleh karena menunggu konfirmasi radiologi. Tension pneumothorax ditandai dengan gejala nyeri dada, sesak, distres pernafasan, takikardi, hipotensi, deviasi trakea, hilangnya suara nafas pada satu sisi dan distensi vena leher. Sianosisi merupakan manifestasi lanjut. Karena ada kesamaan gejala antara tension pneumothorax dan tamponade jantung maka sering membingungkan pada awalnya tetapi perkusi yang hipersonor dan hilangnya suara nafas pada hemitoraks yang terkena pada tension pneumothorax dapat membedakan keduanya.

Penatalaksaan :

Tindakan yang dapat dilakukan apabila keadaan sangat gawat, maka paramedic harus mengambil tindakan dengan melakukan tindakan “needle thoracosynthesis” yakni menusuk dengan jarum besar pada ruang interkostal 2 pada garis mid-klavikuler.

Tindakan ini akan mengubah tension pneumothorax menjadi pneumothoraks sederhana (catatan : kemungkinan terjadi pneumotoraks yang bertambah akibat tertusuk jarum). Evaluasi ulang selalu diperlukan. Tetapi definitif selalu dibutuhkan dengan pemsangan selang dada (chest tube) pada sela iga ke 5 (garis putting susu) diantara garis anterior dan midaxilaris.

  1. Hematothorax masif

Yaitu terkumpulnya darah dengan cepat lebih dari 1.500 cc di dalam rongga pleura. Hal ini sering disebabkan oleh luka tembus yang merusak pembuluh darah sistemik atau pembuluh darah pada hilus paru. Hal ini juga dapat disebabkan trauma tumpul. Kehilangan darah menyebabkan hipoksia. Vena leher dapat kolaps (flat) akibat adanya hipovolemia berat, tetapi kadang dapat ditemukan distensi vena leher, jika disertai tension pneumothorax. Jarang terjadi efek mekanik dari darah yang terkumpul di intratoraks lalu mendorong mediastinum sehingga menyebabkan distensi dari pembuluh vena leher. Diagnosis hemotoraks ditegakkan dengan adanya syok yang disertai suara nafas menghilang dan perkusi pekak pada sisi dada yang mengalami trauma.

Penatalaksaan :

Terapi awal hemotoraks masif adalah dengan penggantian volume darah yang dilakukan bersamaan dengan dekompresi rongga pleura. Dimulai dengan infus cairan kristaloid secara cepat dengan jarum besar dan kemudian pemberian darah dengan golongan spesifik secepatnya. Darah dari rongga pleura dapat dikumpulkan dalam penampungan yang cocok untuk autotransfusi. Bersamaan dengan pemberian infus, sebuah selang dada (chest tube) no. 38 French dipasang setinggi puting susu, anterior dari garis midaksilaris lalu dekompresi rongga pleura selengkapnya. Ketika kita mencurigai hemotoraks masif pertimbangkan untuk melakukan autotransfusi. Jika pada awalnya sudah keluar 1.500 ml, kemungkinan besar penderita tersebut membutuhkan torakotomi segera. Beberapa penderita yang pada awalnya darah yang keluar kurang dari 1.500 ml, tetapi pendarahan tetap berlangsung. Ini juga mamebutuhkan torakotomi. Keputusan torakotomi diambil bila didapatkan kehilangan darah terus menerus sebanyak 200 cc/jam dalam waktu 2 sampai 4 jam, tetapi status fisiologi penderita tetap lebih diutamakan. Transfusi darah diperlukan selama ada indikasi untuk toraktomi. Selama penderita dilakukan resusitasi, volume darah awal yang dikeluarkan dengan selang dada (chest tube) dan kehilangan darah selanjutnya harus ditambahkan ke dalam cairan pengganti yang akan diberikan. Warna darah (arteri atau vena) bukan merupakan indikator yang baik untuk dipakai sebagai dasar dilakukannya torakotomi. Luka tembus toraks di daerah anterior medial dari garis puting susu dan luka di daerah posterior, medial dari skapula harus disadari oleh dokter bahwa kemungkinan dibutuhkan torakotomi, oleh karena kemungkinan melukai pembuluh darah besar, struktur hilus dan jantung yang potensial menjadi tamponade jantung. Torakotomi harus dilakukan oleh ahli bedah, atau dokter yang sudah berpengalaman dan sudah mendapat latihan.

Beberapa penderita yang pada awalnya darah yang keluar <1500 cc, tetapi perdarahan tetap berlangsung. Ini juga membutuhkan torakotomi. Keputusan torakotomi diambil bila didapatkan kehilangan darah terus – menerus sebanyak 200cc/jam dalam waktu 2 – 4 jam,tetapi status fisiologi penderita tetap lebih diutamakan. Transfusi darah diperlukan selama ada indikasi untuk torakotomi.

  1. Fail chest

Terjadi ketika segmen dinding dada tidak lagi mempunyai kontinuitas dengan keseluruhan dinding dada. Keadaan tersebut terjadi karena fraktur iga multipel pada dua atau lebih tulang iga dengan dua atau lebih garis fraktur. Adanya semen flail chest (segmen mengambang) menyebabkan gangguan pada pergerakan dinding dada. Jika kerusakan parenkim paru di bawahnya terjadi sesuai dengan kerusakan pada tulang maka akan menyebabkan hipoksia yang serius. Kesulitan utama pada kelainan Flail Chest yaitu trauma pada parenkim paru yang mungkin terjadi (kontusio paru). Walaupun ketidak-stabilan dinding dada menimbulkan gerakan paradoksal dari dinding dada pada inspirasi dan ekspirasi, defek ini sendiri saja tidak akan menyebabkan hipoksia. Penyebab timbulnya hipoksia pada penderita ini terutama disebabkan nyeri yang mengakibatkan gerakan dinding dada yang tertahan dan trauma jaringan parunya. Flail Chest mungkin tidak terlihat pada awalnya, karena splinting (terbelat) dengan dinding dada. Gerakan pernafasan menjadi buruk dan toraks bergerak secara asimetris dan tidak terkoordinasi. Palpasi gerakan pernafasan yang abnormal dan krepitasi iga atau fraktur tulang rawan membantu diagnosis. Dengan foto toraks akan lebih jelas karena akan terlihat fraktur iga yang multipel, akan tetapi terpisahnya sendi costochondral tidak akan terlihat. Pemeriksaan analisis gas darah yaitu adanya hipoksia akibat kegagalan pernafasan, juga membantu dalam diagnosis Flail Chest.

Penatalaksaan :

Terapi awal yang diberikan termasuk pemberian ventilasi adekuat, oksigen yang dilembabkan dan resusitasi cairan. Bila tidak ditemukan syok maka pemberian cairan kristoloid intravena harus lebih berhati-hati untuk mencegah kelebihan pemberian cairan. Bila ada kerusakan parenkim paru pada Flail Chest, maka akan sangat sensitif terhadap kekurangan ataupun kelebihan resusitasi cairan. Pengukuran yang lebih spesifik harus dilakukan agar pemberian cairan benar-benar optimal. Terapi definitif ditujukan untuk mengembangkan paru-paru dan berupa oksigenasi yang cukup serta pemberian cairan dan analgesia untuk memperbaiki ventilasi. Tidak semua penderita membutuhkan penggunaan ventilator. Namun bila analisis gas darah menunjukkan pO2 yang rendah atau pCO2 yang tinggi maka akan terpasang respirator.

Pencegahan hipoksia merupakan hal penting pada penderita trauma, dan intubasi serta ventilasi perlu diberikan untuk waktu singkat sampai diagnosis dan pola trauma yang terjadi pada penderita tersebut ditemukan secara lengkap. Penilaian hati-hati dari frekuensi pernafasan, tekanan oksigen arterial dan penilaian kinerja pernafasan akan memberikan suatu indikasi timing / waktu untuk melakukan intubasi dan ventilasi.

  1. Temponade jantung

Sering disebabkan oleh luka tembus. Walaupun demikian, trauma tumpul juga dapat menyebabkan perikardium terisi darah baik dari jantung, pembuluh darah besar maupun dari pembuluh darah perikard. Perikard manusia terdiri dari struktur jaringan ikat yang kaku dan walaupun relatif sedikit darah yang terkumpul, namun sudah dapat menghambat aktivitas jantung dan mengganggu pengisian jantung. Mengeluarkan darah atau cairan perikard, sering hanya 15 ml sampai 20 ml, melalui perikardiosintesis akan segera memperbaiki hemodinamik.

Diagnosis tamponade jantung tidak mudah. Diagnosistik klasik adalah adanya Trias Beck yang terdiri dari peningkatan tekanan vena, penurunan tekanan arteri dan suara jantung menjauh. Penilaian suara jantung menjauh sulit didapatkan bila ruang gawat darurat dalam keadaan berisi, distensi vena leher tidak ditemukan bila keadaan penderita hipovlemia dan hipotensi sering disebabkan oleh hipovolemia. Pulsus paradoxus adalah keadaan fisiologis dimana terjadi penurunan dari tekanan darah sistolik selama inspirasi spontan. Bila penurunan tersebut lebih dari 10 mmHg, maka ini merupakan tanda lain terjadinya tamponade jantung. Tetapi tanda pulsus paradoxus tidak selalu ditemukan, lagi pula sulit mendeteksinya dalam ruang gawat darurat. Tambahan lagi, jika terdapat tension pneumothorax, terutama sisi kiri, maka akan sangat mirip dengan tamponade jantung. Tanda Kussmaul (peningkatan tekanan vena pada saat inspirasi biasa) adalah kelainan paradoksal tekanan vena yang sesungguhnya dan menunjukkan adanya temponade jantung. PEA pada keadaan tidak ada hipovolemia dan tension pneumothorax harus dicurigai adanya temponade jantung.

Penatalaksaan :

Pemasangan CVP dapat membantu diagnosis, tetapi tekanan yang tinggi dapat ditemukan pda berbagai keadaan lain. Pemerikksaan USG (Echocardiografi) merupakan metode non invasif yang dapat membantu penilaian perikardium, tetapi banyak penelitian yang melaporkan angka negatif yang lebih tinggi yaitu sekitar 50 %. Pada penderita trauma tumpul dengan hemodinamik abnormal boleh dilakukan pemeriksaan USG abdomen, yang sekaligus dapat mendeteksi cairan di kantung perikard, dengan syarat tidak menghambat resusitasi.

Evakuasi cepat darah dari perikard merupakan indikasi bila penderita dengan syok hemoragik tidak memberikan respon pada resusitasi cairan dan mungkin ada tamponade jantung. Tindakan ini menyelamatkan nyawa dan tidak boleh diperlambat untuk mengadakan pemeriksaan diagnostik tambahan. Metode sederhana untuk mengeluarkan cairan dari perikard adaah dengan perikardiosintesis. Kecurigaan yang tinggi adanya tamponade jantung pada penderita yang tidak memberikan respon terhadap usaha rsusitasi, merupakan indiksi untuk melakukan tindakan perikardiosintesis melalui metode subksifoid. Tindakan alternatif lain, adalah melakukan operasi jendela perikad atau torakotomi dengan perikardiotomi oleh seorang ahli bedah. Prosedur ini akan lebih baik dilakukan di ruang operasi jika kondisi penderita memungkinkan. Walaupun kecurigaan besar besar akan adanya tamponade jantung, pemberian cairan infus awal masih dapat meningkatkan tekanan vena dan meningkatkan cardiac output untuk sementara, sambil melakukan persiapan untuk tindakan perikardiosintesis melalui subksifoid. Pada tindakan ini menggunakan plastic-sheated needle atau insersi dengan teknik Seldinger merupakan cara paling baik, tetapi dalam keadaan yang lebih gawat, prioritas adalah aspirasi darah dari kantung perikard. Monitoring Elektrokardiografi dapat menunjukkan tertusuknya miokard (peningkatan voltase dari gelombang T, ketika jarum perikardiosintesis menyentuh epikardium) atau terjadinya disritmia.

2.6  Secondary survey

  1. Fraktur iga

Patah tulang iga sering terjadi pada penderita yang sudah berumur terutama karena kerapuhan tulang. Berdasarkan bentuk anatomisnya 4 tulang rusuk bagian atas mendapat perlindungan tambahan dari lingkar bahu, sehingga bila tulang – tulang ini patah berarti gaya yang terima cukup besar, cedera harus dianggap berbahaya. Fraktur iga sering ditemukan, gejalanya adalah nyeri pada saat pernafasan.ketakutan akan nyeri pada pernafasan ini menyebabkan pernafasan menjadi dangkal, dan sering takut batuk. Keadaan ini dapat menyebabkan komplikasi pada paru. Iga merupakan komponen dari dinding toraks yang paling sering mengalami trauma.Perlukaan yang terjadi pada iga sering bermakna.

Gejala dan tanda fraktur iga antara lain nyeri pada saat bernafas, perubahan bentuk dada, dinding dada tidak mengembang dengan baik, adanya gerakan paradoks yaitu ada bagian yang bergerak berlawanan dengan bagian dada lainnya pada saat melakukan gerakan bernafas, batuk darah, memar yang luas dan jelas di daerah dada, dan sisnosis. Nyeri pada pergerakan akibat terbidainyaiga terhadap dinding toraks secara keseluruhan menyebabkan gangguan ventilasi. Batuk yangtidak efektif untuk mengeluarkan sekret dapat mengakibatkan insiden atelektasis dan pneumonia meningkatkan secara bermakna dengan disertai timbulnya penyakit paru-paru.

Iga bagian atas (iga ke 1 sampai ke 3) dilindungi oleh struktur tulang dari lengan bagian atas. Tulang skapula, iga pertama dan kedua atau sternum harus curiga akan adanyatrauma yang luas yang meliputi kepala, leher, medula spinalis, paru-paru dan pembuluh darah besar. Karena adanya trauma-trauma penyerta tersebut, mortalitas akan meningkat menjadi35%. Konsultasi bedah harus dilakukan. Yang paling sering mengalami trauma adalah iga bagian tengah (iga ke 4 sampai ke9). Kompresi anteroposterior dari rongga toraks akan menyebabkan lengkung iga akan lebih melengkung lagi ke arah lateral dengan akibat timbulnya fraktur pada titik tengah (bagianlateral) iga.

Trauma langsung pada iga akan cenderung menyebabkan fraktur dengan pendorongan ujung-ujung fraktur masuk ke dalam rongga pleura dan potensial menyebabkantrauma intratorakal seperti pneumotortaks. Seperti kita ketahui pada penderita dengan usia muda dinding dada lebih multipel pada penderita usia muda memberikan informasi pada kita bahwa trauma yang terjadi sangat besar dibandingkan bila terjadi trauma yang sama terjadi pada orang tua. Patah tulang iga (ke 10 sampai ke 12) harus curiga kuat adanya traumaterhadap hepatosplenik.

Akan ditemukan nyeri tekan pada palpasi dan krepitasi pada penderita dengan traumaiga. Jika teraba atau terlihat adanya deformitas, harus curiga fraktur iga. Foto toraks harus dibuat untuk menghilangkan kemungkinan trauma intratorakal dan bukan untuk mengidentifikasi fraktur iga. Teknik khusus untuk visualisasi iga selain harganya mahal,tidak dapat mendeteksi seluruh iga, posisi yang dibutuhkan untuk pembuatan x-ray tersebut menimbulkan rasa nyeri dan tidak mengubah tindakan, sehingga pemeriksaan ini tidak dianjurkan. Plester iga, pengikat iga dan bidai eksternal merupakan kontra indikasi. Yang penting adalah menghilangkan rasa sakit agar penderita dapat bernafas dengan baik. Blok interkostal, anestesi epidural dan analgesi sistemik dapat dipertimbangkan untuk mengatasirasa nyeri.

Pertolongan pertama pada fraktur iga :

  1. Lakukan penilaian dini, buka jalan nafas
  2. Nila pernafasannya, berikan oksigen bila ada sesuai protokol
  3. Hentikan pendarahan luar bila ada
  4. Berikan posisi yang nyaman. Umumnya posisi ini akan memberikan ruang gerrak dad yang maksimal sesuai keadaan.
  5. Pantau TTV secara berkala
  6. Berikan bantalan pada bagian yang patah
  7. Rujuk ke fasilitas kesehatan.
  1. Kontusio paru

Pemadatan paru karena adanya trauma, timbul agak lambat sehingga pada fase pra RS tidak menimbulkan trauma. Kontusio paru adalah kelainan yang paling sering ditemukan pada golongan potentially lethal chest injury.Kegagalan bernafas dapat timbul perlahan dan berkembangsesuai waktu, tidak langsung terjadi setelah kejadian, sehingga rencana penanganan definitif dapat berubah berdasarkan perubahan waktu. Monitoring harus ketat dan berhati-hati, jugadiperlukan evaluasi penderita yang berulang-ulang.

Penderita dengan hipoksia bermakna (PaO2< 65 mmHg atau 8,6 kPa dalam udara ruangan, SaO2< 90 %) harus dilakukan intubasi dan diberikan bantuan ventilasi pada jam- jam pertama setelah trauma. Kondisi medik yang berhubungan dengan kontusio paru seperti penyakit paru kronis dan gagal ginjal menambah indikasi untuk melakukan intubasi lebihawal dan ventulasi mekanik. Beberapa penderita dengan kondisi stabil dapat ditangani secaraselektif tanpa intuvasi endotrakheal atau ventilasi mekanik.Monitoring dengan  pulse oximeter, pemeriksaan analisis gas darah, monitoring EKG dan perlengkapan alat bantu pernafasan diperlukan untuk penanganan yang optimal. Jika kondisi penderita memburuk dan perlu ditransfer maka harus dilakukan intubasi dan ventilasiterlebih dahulu.

Walaupun kecurigaan besar akan adanya tamponade jantung pemberian cairan infusawal masih dapat meningkatkan tekanan vena dan cardic output untuk sementara, sambilmelakukan persiapan untuk tindakan perikardiosintesis melalui subksifoid. Pada tindakan inimenggunakan  plastic-sheated-needle atau insersi teknik Seldinger merupakan cara yang paling baik, tetapi dalam keadaan yang lebih gawat, prioritas adalah aspirasi darah darikantung perikard. Monitoring EKG dapat menunjukkan tertusuknya miokard (peningkatanvoltase gelombang T, ketika jarum perikardiosintesis menyentuh epikardium) atau terjadinyadisritmia.

  1. Ruptur aorta

Penyebab tersering kematian pada trauma thoraks. Apabila dapat diidentifikasi secepatnya rupture aorta sering dapat diselamatkan. Terjadi hematoma mediastinum akibat adanya darah yang masuk kedalam rongga mediastinum merupakan kontinuitas dari aorta yang masih dipertahankan lapisan adventisia. Terjadi hipotensi akibat adanya perdarahan yang biasanya berakibat fatal apabila perdarahan masuk ke rongga pleura. Tidak terdapat gejala spesifik dalam rupture aorta. Namun beberapa indikasi yang menandakan adanya cedera pada aorta dilihat dari gambaran radiologi. Walaupun tidak terdapat gejala yang spesifik kadang-kadang terdapat nyeri dada, pernafasan dangkal, sulit menelan dan terjadinya hemoptisis.

Untuk penderita yang selamat, sesampainya di rumah sakit kemungkinan sering dapat diselamatkan bila ruptur aorta dapat diidentifikasi dan secepatnya dioperasi. Banyak penderita yang sempat sampai di rumah sakit dalam keadaan hidup, dan meninggal di rumah sakit bila tidak segera ditangani. Sering kali gejala umum atau tanda spesifik tidak ada, namum adanya kecurigaan yang besar dari adanya gaya decelarasi dan temuan radiologis yang khas dan arteriografi merupakan dasar dalam penetapan diagnosis.

  1. Ruptur diafragma

Ruptur diafragma traumatik lebih sering terdiagnosis pada sisi kiri, karena obliterasi hepar pada sisi kanan atau adanya hepar pada sisi kanan sehingga mengurangi kemungkinan terdiagnosisnya ataupun terjadinya ruptur diafragma kanan. Sementara itu adanya usus, gaster atau selang diagnostik mempermudah mendeteksi pada hematortaks kiri. Prevalensi sesungguhnya (untuk kejadian sisi kiri atau kanan) belum diketahui. Trauma tumpul menghasilkan robekan besar yang menyebabkan timbulnya herniasi organ abdomen.Sedangkan trauma tajam menghasilkan perforasi kecil yang sering memerlukan waktu bisasampai tahunan untuk berkembang menjadi hernia diafragmatika.

Perlukaan ini bisa terlewatkan pada awalnya jika salah menginterpretasikan fototoraks sebagai elevasi diafragma, dilatasi gaster akut, penumohemotoraks lokal atau hematomsubpulmonal. Jika curiga adanya laserasi pada diafragma kiri, selang gaster harus dipasang.Bila selang gaster tampak didalam rongga toraks pada foto toraks, maka tidak diperlukan pemeriksaan spesial dengan kontras. Kadang, diagnosis tidak dapat ditegakkan dengan fotoronsen ataupun setelah pemasangan selang dada pada hemitoraks kiri. Pada keadaan ini pemeriksaan gastrointestinal bagian atas dengan kontras harus dilakukan jika diagnosis masihragu-ragu/tidak jelas.

Bila ditemukan cairan peritoneum keluar dari selang dada juga dapatmengkonfirmasi diagnosis. Prosedur minimal invasif endoskopi (torakoskopi) dapatmembantu dalam mengevaluasi diafragma pada kasus-kasus yang diagnosisnya sulitditegakkan.Ruptur diafragma kanan jarang terdiagnosa pada periode awal setelah trauma. Hepar sering mencegah terjadinya herniasi dari organ abdominal lainnya masuk ke rongga toraks.Gambaran elevasi diafragma kanan pada x-ray toraks mungkin dapat ditemukan. Ruptur diafragma sering ditemukan secara kebetulan, karena operasi untuk trauma abdominal lain.Terapinya adalah penjahitan langsung.

  1. Perforasi eosofagus

Perforasi eosofagus lebih sering disebabkan karena trauma tembus. Trauma tumpul pada eosofagus walaupun jarang ditemukan tetapi dapat menyebabkan kematian jika tida teridentifikasi. Trauma umpul eosofagus disebabkan ole gaya kompresi dari isi gaster yang masuk ke dalam eosofagus akibat trauma berat pada abdomen bagian atas.

Esophageal perforation pada umumnya diakibatkan oleh trauma yang bersifat korosif. Jarang terjadi diakibatkan oleh trauma fisik karena letak anatomis dari esophageal yang terletak di belakan trakea dan didepan tulang belakang

 

2.7  Penatalaksanaan trauma thorax

Penatalaksanaan  yang dapat dilakukan untuk menangani pasien trauma thorax, yaitu :

  1. Primary survey. Yaitu dilakukan pada trauma yang mengancam jiwa, pertolongan ini dimulai dengan menggunakan teknik ABC ( Airway, breathing, dan circulation )
  2. Berusaha menstabilkan tanda-tanda vital dengan:

a)      Mempertahankan saluran napas yang paten dengan pemberian oksigen

b)      Mengontrol tekanan darah berdasarkan kondisi pasien

    1. Pemasangan infuse
    2. Pemeriksaan kesadaran
    3. Jika dalam keadaan gawat darurat, dapat dilakukan massage jantung
    4. Dalam keadaan stabil dapat dilakukan pemeriksaan radiology seperti Foto thorak

 

Sedangkan tindakan penanganan kegawat daruratan yang dilakukan antara lain :

  1. Pemeliharan jalan napas dan mempertahankan jalan napas
  2. Resusitasi dengan cairan IV dan darah
  3. Cegah distress pernapasan atau hipoksemia
  4.  Pada kontusio paru : pertahankan jalan nafas dengan pemberian oksigen, pantau nadi pasien, monitor saturasi oksigen dengan oksimetri, penggunaan nebulizer untuk menjaga sekresi tetap cair, kontrol nyeri, dan anjurkan nafas dalam.
    1. Pada pneumototaks : pertahankan jalan nafas dengan pemberian oksigen konsentrasi tinggi untuk mengatasi hipoksia, pantau nadi, monitor saturasi oksigen dengan oksimetri, pasang WSD.
    2. Pada pneumotorak tegangan : pertahankan jalan nafas dengan pemberian oksigen konsentrasi tinggi untuk mengatasi hipoksia, pantau nadi, monitor saturasi oksigen dengan oksimetri, pasang jarum berdiameter besar pada garis mid klavikula, ruang interkostal kedua pada sisi yang sakit untuk menghilangkan tekanan dan mengalirkan udara intratoraks keluar.
    3. Pada pneumotorak terbuka : pertahankan jalan nafas dengan pemberian oksigen konsentrasi tinggi untuk mengatasi hipoksia, pantau nadi, monitor saturasi oksigen dengan oksimetri, pasang selang dada yang dihubungkan dengan drainase water seal dipasang untuk memungkinkan cairan dan udara mengalir, berikan antibiotic untuk melawan infeksi.
    4. Pada hemothoraks :  pertahankan jalan nafas dengan pemberian oksigen konsentrasi tinggi untuk mengatasi hipoksia, pantau nadi, monitor saturasi oksigen dengan oksimetri, pasang selang dada yang dihubungkan dengan drainase water seal dipasang untuk memungkinkan darah dan udara mengalir.
    5. Pada trakeabronkial, harus segera dideteksi dan dilakukan pemeliharaan jalan napas. dan lakukan treatment yang tepat.
    6. Trakeobronkial : lakukan pembedahan
    7. Cedera diagfragma : lakukan pembedahan
    8. Rupture pada esophagus : antibiotic dan pembedahan.
    9. Fraktur iga : berikan analgetik untuk mengontrol nyeri
    10. Nyeri dada : pemberian ventilator dan analgetik untuk mengurangi nyeri, pantau nadi, monitor saturasi oksigen dengan oksimetri, lakukan rontgent dada.
    11. Temponade jantung : pertahankan jalan nafas dengan pemberian oksigen konsentrasi tinggi untuk mengatasi hipoksia, pantau nadi, monitor saturasi oksigen dengan oksimetri.
    12. Luka tusuk pada jantung :

a)      Lakukan perikardiosintesis untuk mencegah kemungkinan tamponade jantung.

  1. Trauma tumpul pada jantung :

a)             Pantau irama jantung

b)             Jika terjadi cedera pada katup lakukan pembedahan

  1. Luka tusuk pada pembuluh darah :

a)             Pertahankan cairan tubuh dengan pemberian cairan IV,sesuai kebutuhan. Pantau tanda-tanda vital, karena peningkatan tekanan darah dapat mengakibatkan rupture pada pembuluh darah dan terjadi perdarahan.

b)             Semua pasien pada kasus ini harus dilakukan pembedahan

 

DAFTAR PUSTAKA

Bagus, Risang.2009.Gawat Darurat Panduan Kesehatan Wajib Di Rumah Anda.Yogyakarta: Aulia Publishing

…..Basic Trauma-Cardiac Life Support.Jakarta: Yayasan Ambulans Gawat Darurat 118

PMI.2005.Pedoman Pertolongan Pertama.Jakarta : Markas Pusat Palang Merah Indonesia

http//:www.chandrarandy.wordpress.com/2012/10/08/konsep-trauma-thorax/