komunikasi terapeutik


KOMUNIKASI TERAPEUTIK KEPERAWATAN

1. Definisi Keperawatan Terapeutik
Komunikasi adalah pengiriman pesan atau tukar menukar informasi atau ide / gagasan menurut Oxford Dictionary. Definisi Champbell dan Glasper, komunikasi bisa berbentuk komunikasi verbal, komunikasi nonverbal, dankomunikasi abstrak.
Komunikasi terapeutik merupakan hubungan interpersonal dimana perawatklien memperoleh pengalaman belajar bersama serta memperbaiki pengalamanemosional klien.
Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang mendorong proses penyembuhan klien. Dalam pengertian lain mengatakan bahwa komunikasi terapeutik adalah proses yang digunakan oleh perawat memakai pendekatan yang direncanakan secara sadar, bertujuan dan kegiatannya dipusatkan pada klien. Komunikasi terapeutik termasuk komunikasi interpersonal dengan titik tolak saling memberikan pengertian antara perawat dengan klien.
Persoalan yang mendasar dari komunikasi ini adalah adanya saling membutuhkan antara perawat dan klien, sehingga dapat dikategorikan ke dalam komunikasi pribadi di antara perawat dan klien, perawat membantu dan klien menerima bantuan.
Jadi komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang digunakan oleh perawat dengan memakai pendekatan secara sadar pada klien untuk mendorong proses penyembuhan klien.

2. Fungsi Komunikasi Terapeutik
Fungsi komunikasi terapeutik adalah untuk mendorong dan mengajarkan kerja sama antara perawat dan pasien melalui hubungan perawat dan pasien.
a. Perawat berusaha mengungkap perasaan, mengidentifikasi dan mengkaji masalah serta mengevaluasi tindakan yang dilakukan dalam perawatan.
b. Membantu pasien untuk memperjelas dan mengurangi beban perasaan dan pikiran serta dapat mengambil tindakan yang efektif untuk pasien.
c. Membantu mempengaruhi orang lain, lingkungan fisik dan diri sendiri. Kualitas asuhan keperawatan yang diberikan kepada klien sangat dipengaruhi oleh kualitas hubungan perawat-klien, Bila perawat tidak memperhatikan hal ini, hubungan perawat-klien tersebut bukanlah hubungan yang memberikan dampak terapeutik yang mempercepat kesembuhan klien, tetapi hubungan sosial biasa.

3. Tujuan Komunikasi Terapeutik
a. Membantu pasien untuk memperjelas dan mengurangi beban perasaan dan pikiran serta dapat mengambil tindakan untuk mengubah situasi yang ada bila pasien percaya pada hal-hal yang diperlukan.
b. Mengurangi keraguan, membantu dalam hal mengambil tindakan yang efektif dan mempertahankan kekuatan egonya.
c. Mempengaruhi orang lain, lingkungan fisik dan dirinya sendiri dalam hal peningkatan derajat kesehatan.
d. Mempererat hubungan atau interaksi antara klien dengan terapis (tenaga kesehatan) secara professional dan proporsional dalam rangka membantu penyelesaian masalah klien.
Menurut Stuart & Sudden, tujuan komunikasi terapeutik :
a. Realisasi diri, penerimaan diri dan peningkatan penghormatan diri. Yaitu Melalui komunikasi terapeutik diharapkan terjadi perubahan dalam diri klien. Klien yang menderita penyakit kronis ataupun terminal umumnya mengalami perubahan dalam dirinya, ia tidak mampu menerima keberadaan dirinya, mengalami gangguan gambaran diri, penurunan harga diri, merasa tidak berarti dan pada akhirnya merasa putus asa dan depresi.
b. Kemampuan membina hubungan interpersonal yang tidak superfisial dan saling bergantung dengan orang lain. Yaitu melalui komunikasi terapeutik, klien belajar bagaimana menerima dan diterima orang lain. Dengan komunikasi yang terbuka, jujur dan menerima klien apa adanya, perawat akan dapat meningkatkan kemampuan klien dalam membina hubungan saling percaya.
c. Peningkatan fungsi dan kemampuan untuk memuaskan kebutuhan serta mencapai tujuan yang realistis. Yaitu terkadang klien menetapkan ideal diri atau tujuan terlalu tinggi tanpa mengukur kemampuannya.
d. Rasa identitas personal yang jelas dan peningkatan integritas diri. Klien yang mengalami gangguan identitas personal biasanya tidak mempunyai rasa percaya diri dan mengalami harga diri rendah. Melalui komunikasi terapeutik diharapkan perawat dapat membantu klien meningkatkan integritas dirinya dan identitas diri yang jelas.
Tujuan terapeutik akan tercapai bila perawat memiliki karakteristik sebagai berikut :
1) Kesadaran diri.
2) Klarifikasi nilai.
3) Eksplorasi perasaan.
4) Kemampuan untuk menjadi model peran.
5) Motivasi altruistik.
6) Rasa tanggung jawab dan etik.

4. Fase-fase Kounikasi terapeutik
Dalam melakukan komunikasi terdapat 4 fase yang harus diperhatikan oleh seorang perawat yang antara lain menurut Stuart dan Sundeen, yaitu fase pra interaksi, fase perkenalan atau orientasi, fase kerja, dan terminasi. Setiap fase ditandai dengan serangkaian tugas yang perlu diselesaikan.
a. Fase Pra Interaksi
Pra interaksi mulai sebelum kontak pertama dengan klien. Perawat mengeksplorasikan perasaan, fantasi dan ketakutannya. Sehingga kesadaran dan kesiapan perawat untuk melakukan hubungan dengan klien dapat dipertanggungjawabkan. Tugas tambahan pada fase ini adalah mendapatkan informasi tentang klien dan menentukan kontak pertama.
b. Fase Perkenalan atau Orientasi
Fase ini dimulai dengan pertemuan dengan klien. Hal utama yang perlu dikaji adalah alasan klien minta pertolongan yang akan mempengaruhi terbinanya hubungan perawat klien. Dalam memulai hubungan, tugas utama adalah membina rasa percaya, penerimaan dan pengertian, komunikasi yang terbuka dan perumusan kontrak dengan klien. Elemen-elemen kontrak perlu diuraikan dengan jelas pada klien sehingga kerja sama perawat-klien dapat optimal. Tugas perawat dalam hal ini adalah mengeksplorasi pikirana, perasaan, perbuatan klien, dan mengidentifikasi masalah, serta merumuskan tujuan bersama klien.
c. Fase Kerja
Pada fase kerja, perawat dan klien mengeksplorasikan stresor yang tepat dan mendorong perkembangan kesadaran diri dengan menghubungkan persepsi, pikiran, perasaan dan perbuatan klien, perawat membantu klien mengatasi kecemasan, meningkatkan kemandirian, dan tanggung jawab diri sendiri dan mengembangkan mekanisme koping yang konstruktif. Perubahan perilaku maladaptif menjadi adaptif merupakan fokus fase ini.
d. Fase terminasi
Terminasi merupakan fase yang sangat sulit dan penting dari hubungan terapeutik. Rasa percaya dan hubungan intim yang terapeutik sudah terbina dan berada pada tingkat optimal. Keduanya, perawat dan klien akan merasakan kehilangan. Terminasi dapat terjadi pada saat perawat mengakhiri tugas pada unit tertentu atau klien pulang.
Apapun alasannya fase terminasi perawat akan menghadapi realitas perpisahan yang tidak dapat diingkari. Klien dan perawat bersama-sama meninjau kembali proses keperawatan yang telah dilalui dan pencapaian tujuan. Perasaan marah, sedih, penolakan perlu dieksplorasikan dan diekspresikan.

5. Manfaat Komunikasi Terapeutik
a. Untuk mendorong dan menganjurkan kerjasama antara bidan-pasien.
b. Mengidentifikasi, mengungkap perasaan dan mengkaji masalah serta mengevaluasi tindakan yang dilakukan bidan.
c. Memberikan pengertian tingkah laku pasien dan membantu pasien mengatasi masalah yang dihadapi.
d. Mencegah tindakan yang negatif terhadap pertahanan diri pasien.
6. Sikap Komunikasi Terapeutik
• Berhadapan.
• Mempertahankan kontak mata.
• Membungkuk ke arah klien.
• Mempertahankan sikap terbuka, tidak melipat kaki atau tangan menunjukkan keterbukaan untuk berkomunikasi.
• Tetap rileks.
• Tetap dapat mengontrol keseimbangan antara ketegangan dan relaksasi dalam memberi respon kepada klien.

7. Teknik Komunikasi
Teknik komunikasi terdiri dari:
a. Mendengarkan (Listening)
Merupakan dasar dalam komunikasi yang akan mengetahui perasaan klien. Teknik mendengarkan dengan cara memberi kesempatan klien untuk bicara banyak dan perawat sebagai pendengar aktif.
b. Pertanyaan terbuka (Broad Opening)
Memberikan inisiatif pada klien, mendorong klien untuk menyeleksi topik yang akan dibicarakan. Kegiatan ini bernilai terapeutik apabila klien menunjukan penerimaan dan nilai dari inisiatif klien dan menjadi non terapeutik apabila perawat mendominasi interaksi dan menolak respon klien.
c. Mengulang (Restating)
Teknik yang dilaksanakan dengan cara mengulang pokok pikiran yang diungkapkan klien, yang berguna untuk menguatkan ungkapan klien dan memberi indikasi perawat untuk mengikuti pembicaraan.
d. Penerimaan (Acceptance)
Penerimaan adalah mendukung dan menerima informasi dengan tingkah laku yang menunjukan ketertarikan dan tidak menilai. Penerimaan bukan berarti persetujuan. Menunjukan penerimaan berarti kesediaan mendengar tanpa menunjukan keraguan atau ketidak setujuan.
e. Klarifikasi
Teknik yang digunakan apabila perawat ragu, tidak jelas, tidak mendengar atau klien malu mengemukakan informasi dan perawat mencoba memahami situasi yang digambarkan klien.
f. Refleksi
Refleksi ini dapat berupa refleksi isi dengan cara memvalidasikan apa yang didengar, refleksi perasaan dengan cara memberi respon pada perasaan klien terhadap isi pembicaraan agar klien mengetahui dan menerima perasaanya.
g. Asertif
Asertif adalah kemampuan dengan cara meyakinkan dan nyaman mengekspresikan pikiran dan perasaan diri dengan tetap menghargai hak orang lain. Tahap-tahap menjadi lebih asertif antara lain menggunakan kata “tidak” sesuai dengan kebutuhan, mengkomunikasikan maksud dengan jelas, mengembangkan kemampuan mendengar, pengungkapan komunikasi disertai dengan bahasa tubuh yang tepat, meningkatkan kepercayaan diri dan gambaran diri dan menerima kritik dengan ramah.
h. Memfokuskan
Memilih topik yang penting atau yang telah dipilih dengan menjaga pembicaraan tetap menuju tujuan yang lebih spesifik, lebih jelas dan berfokus pada realitas.
i. Membagi persepsi
Merupakan teknik komunikasi dengan cara meminta pendapat klien tentang hal-hal yang dirasakan dan dipikirkan.
j. Identifikasi tema
Merupakan teknik komunikasi dengan cara mencari latar belakang masalah klien yang muncul dan berguna untuk meningkatkan pengertian dan eksplorasi masalah yang penting.
k. Diam
Dilakukan dengan tujuan untuk mengorganisir pemikiran, memproses informasi, menunjukan bahwa perawat bersedia untuk menunggu respon. Diam tidak dilakukan dalam waktu yang lama. Diam juga dapat diartikan sebagai mengerti atau marah.
l. Informing
Menyediakan tambahan informasi dengan tujuan untuk mendapatkan respon lebih lanjut. Beberapa keuntungan dari menawarkan informasi adalah akan memfasilitasi komunikasi, mendorong pendidikan kesehatan dan memfasilitasi klien untuk mengambil keputusan.

m. Humor
Humor sebagai hal yang penting dalam komunikasi verbal dikarenakan tertawa mengurangi stres, ketegangan dan rasa sakit akibat stres, serta meningkatkan keberhasilan asuhan keperawatan.
n. Saran
Teknik yang bertujuan memberi alternatif ide untuk pemecahan masalah. Teknik ini tidak tepat dipakai pada fase kerja dan tidak tepat pada fase awal hubungan.

8. Komunikasi Asertif
Komunikasi Asertif adalah komunikasi dua arah, dengan tegas dan positif mengekspresikan maksud kita tanpa maksud mengalah ataupun menyakiti orang lain. Asertif bukan berarti pasif, agresif, ataupun pasif-agresif.
Komunikasi asertif merupakan komunikasi yang berdiri pada titik tengah antara komunikasi pasif dan agresif dimana komunikasi ini mengedepankan cara pandang untuk mengemukakan pendapat dan perasaan tanpa memaksakan kehendak serta tidak melanggar hak-hak orang lain. Tipe komunikasi ini selalu mensinergikan sudut pandang yang berbeda sehingga tercipta suasana yang win-win solution diantara kedua belah pihak. Dalam berkomunikasi secara asertif memiliki pembelajaran-pembelajaran yang terkandung dan menghasilkan penjelasan-penjelasan yang baik, mendengarkan dan menghargai sudut pandang yang berbeda dengan melihat perbedaan dari sudut pandang positif.
Jadi Komunikasi Asertif adalah komunikasu dua arah yang dengan tegas dan positif mengespresikan maksdu tanpa menyakiti orang lain yang bukan berarti pasif, agresif atau pasif-agresif melainkan komunikasi yang berdiri ditengah antara komunikasi pasif dan agresif yang mengedepankan cara pandang dan perasaan dan tidak melanggar hak-hak orang lain.
Seorang yang asertif memiliki kriteria:
a. Merasa bebas untuk mengekspresikan perasaan, pikiran dan keinginan.
b. Mengetahui hak mereka.
c. Mampu mengontrol kemarahan. Tidak berarti me-repress perasaan ini, akan tetapi mengontrol dan membicarakannya kembali dengan logis dan tidak dilandasi emosi.
9. Perilaku Asertif
Perilaku asertif adalah menyatakan secara langsung suatu ide, opini, dan keinginan. Tujuan perilaku asertif adalah untuk mengkomunikasikan sesuatu pada suasana saling percaya. Konflik yang muncul dihadapi dan solusi dicari yang menguntungkan semua pihak. Individu yang asertif memulai komunikasi dengan cara sedemikian rupa sehingga dapat menyampaikan kepedulian dan rasa penghargaan mereka terhadap orang lain.
Tujuan komunikasi ini adalah untuk mengungkapkan pendapat diri sendiri dan untuk menyelesaikan masalah interpersonal tanpa merusak suatu hubungan. Perilaku asertif mengharuskan kita untuk menghormati orang lain sebagaimana kita menghormati diri sendiri. Konflik tidak dapat dihindari dalam hubungan dengan sesama manusia. Walaupun konflik biasanya dipandang sebagai sesuatu yang tidak diinginkan, tetapi proses penyelesaian konflik tersebut dapat membuat seseorang berkembang, meningkatkan pemahaman dan rasa hormat kepada orang lain, kendati terdapat perbedaan-perbedaan. Masalah timbul ketika konflik membuat kita memandang orang lain sebagai “musuh”, ketika perbedaan kekuasaan dieksploitasi, atau ketika diskusi untuk penyelesaian masalah menjadi tidak fokus dengan membawa persoalan lain untuk mengalihkan percakapan. Faktor penting untuk menjadi individu asertif adalah kemampuan untuk bertindak secara konsisten sesuai standar yang kita miliki untuk perilaku kita sendiri
Contoh perilaku asertif, antara lain:
1. ‘Saya berpendapat … bagaimana pendapat Anda?
2. ‘Masalah ini akan saya hadapi dengan cara ini. Bagaimana efeknya terhadap Anda?’

Ciri-Ciri Asertif
Komunikasi asertif memiliki cirri-ciri, sebagai berikut:
a) Terbuka dan jujur terhadap pendapat diri dan orang lain.
b) Mendengarkan pendapat orang lain dan memahaminya.
c) Menyatakan pendapat pribadi tanpa mengorbankan perasaan orang lain.
d) Mencari solusi bersama dan keputusan.
e) Menghargai diri sendiri dan orang lain dan mampu mengatasi konflik.
f) Menyatakan perasaan pribadi, jujur tetapi hati-hati.
g) Mempertahankan hak diri
Ada beberapa teknik yang berkaitan dan berhubungan dalam perilaku positif asertif antara lain:
a. Menggunakan ekspresi yang nyaman untuk dipandang, selalu menjaga pandangan mata secara baik.
b. Menjaga intonasi dalam memberikan ketegasan tapi dapat menyenangkan orang lain.
c. Mendengarkan secara baik lawan bicara yang sedang mengatakan sesuatu.
d. Menanyakan pertanyaan apabila membutuhkan penjelasan.
e. Selau berpandang untuk menemukan solusi yang terbaik dalam menyelesaikan suatu masalah.

10. Hak-hak dan Tanggung Jawab Individu yang Asertif
Hak-hak asertif manusia tersebut meliputi:
a. Hak bertindak yang tidak melanggar hak-hak orang lain
b. Hak rnenjadi asertif atau tidak asertif
c. Hak menentukan pilihan
d. Hak berubah
e. Hak mengontrol badan, waktu, dan kepemilikan
f. Hak menyatakan pendapat dan kepercayaan
g. Hak berpikiran baik terhadap diri sendiri
h. Hak mengajukan permintaan
i. Hak menyatakan hal-hal yang menyangkut seksualitas
j. Hak memiliki kebutuhan dan keinginan
k. Hak berfantasi
l. Hak memiliki atau memperoleh infbrmasi
m. Hak memperoleh barang ataupelayanan yang telah dibeli
n. Hak untuk tidak tergantung dan hidup menyendiri
o. Hak mengatakan “tidak”
p. Hak diperlakukan dengan hormat

11. Interaksi Sosial
Interaksi sebagai suatu kejadian ketika suatu aktivitas yang dilakukan oleh seseorang terhadap individu lain diberi ganjaran atau hukuman dengan menggunakan suatu tindakan oleh individu lain yang menjadi pasangannya. Konsep yang dikemukakan oleh Homans ini mengandung pengertian bahwa interaksi adalah suatu tindakan yang dilakukan oleh seseorang dalam interaksi merupakan suatu stimulus bagi tindakan individu lain yang menjadi pasangannya.
Pengertian Interaksi sosial menurut beberapa ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa, interaksi adalah hubungan timbal balik anatara dua orang atau lebih, dan masing-masing orang yang terlibat di dalamnya memainkan peran secara aktif. Dalam interaksi juga lebih dari sekedar terjadi hubungan antara pihak- pihak yang terlibat melainkan terjadi saling mempengaruhi.
Ciri – Ciri Interaksi Sosial
Menurut Tim Sosiologi ada empat ciri – ciri interaksi sosial, antara lain:
a. Jumlah pelakunya lebih dari satu orang
b. Terjadinya komunikasi di antara pelaku melalui kontak social
c. Mempunyai maksud atau tujuan yang jelas
d. Dilaksanakan melalui suatu pola sistem sosial tertentu

Bentuk – Bentuk Interaksi Sosial
Berdasarkan pendapat menurut Tim Sosiologi (2002), interaksi sosial dikategorikan ke dalam dua bentuk, yaitu (p. 49) :
1. Interaksi sosial yang bersifat asosiatif, yakni yang mengarah kepada bentuk – bentuk asosiasi (hubungan atau gabungan) seperti :
a. Kerja sama
Adalah suatu usaha bersama antara orang perorangan atau kelompok untuk mencapai tujuan bersama.
b. Akomodasi
Adalah suatu proses penyesuaian sosial dalam interaksi antara pribadi dan kelompok – kelompok manusia untuk meredakan pertentangan.
c. Asimilasi
Adalah proses sosial yang timbul bila ada kelompok masyarakat dengan latar belakang kebudayaan yang berbeda, saling bergaul secara intensif dalam jangka waktu lama, sehingga lambat laun kebudayaan asli mereka akan berubah sifat dan wujudnya membentuk kebudayaan baru sebagai kebudayaan campuran.
d. Akulturasi
Adalah proses sosial yang timbul, apabila suatu kelompok masyarakat manusia dengan suatu kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur – unsur dari suatu kebudayaan asing sedemikian rupa sehingga lambat laun unsur – unsur kebudayaan asing itu diterima dan diolah ke dalam kebudayaan sendiri, tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian dari
kebudayaan itu sendiri.
2. Interaksi sosial yang bersifat disosiatif, yakni yang mengarah kepada bentuk – bentuk pertentangan atau konflik, seperti :

a. Persaingan
Adalah suatu perjuangan yang dilakukan perorangan atau kelompok sosial tertentu, agar memperoleh kemenangan atau hasil secara kompetitif, tanpa menimbulkan ancaman atau benturan fisik di pihak lawannya.
b. Kontravensi
Adalah bentuk proses sosial yang berada di antara persaingan dan pertentangan atau konflik. Wujud kontravensi antara lain sikap tidak senang, baik secara tersembunyi maupun secara terang – terangan yang ditujukan terhadap perorangan atau kelompok atau terhadap unsur – unsur kebudayaan golongan tertentu. Sikap tersebut dapat berubah menjadi kebencian akan tetapi tidak sampai menjadi pertentangan atau konflik.
c. Konflik
Adalah proses sosial antar perorangan atau kelompok masyarakat tertentu, akibat adanya perbedaan paham dan kepentingan yang sangat mendasar, sehingga menimbulkan adanya semacam gap atau jurang pemisah yang mengganjal interaksi sosial di antara mereka yang bertikai tersebut.

12. Mengembangkan Konsep “Helping Relationship”
a. Genuineness
b. Empathy
c. Warmth
13. Keterampilan dalam Komunikasi
a. Confrontation
b. Immediacy
c. Self-disclosure