5 Contoh Holistik Tradisional


5 Contoh Holistik Tradisional :

 

  1. AKUPUNTUR

Akupunktur adalah suatu cara pengobatan yang memanfaatkan rangsangan pada titik-titik akupunktur pada tubuh pasien, telinga, kepala, sekitar telapak kaki dan tangan untuk mempengaruhi/memperbaiki kesalahan aliran bioenergi tubuh yang disebut dengan Qi (dibaca: Chi). Qi ini mengalir melalui meridian (saluran) pada tubuh manusia yang berjumlah 12 meridian( termasuk 2 meridian ekstra didalamnya), sehingga tujuan pengobatan akupunktur adalah untuk mengembalikan  keseimbangan energi vital (homeostasis) serta mengoptimalkan terbentuknya antibodi pada tubuh pasien dengan adanya aliran Qi yang seimbang serta harmoni lalu lintas energi vital sesuai kaidah five element (teori lima unsur) sehingga gangguan kesehatan dapat diatasi. Berbagai penyakit yang dapat diatasi dengan akupunktur:
Segala macam penyakit yang menimbulkan nyeri seperti sakit Kepala/Sefalgia, rasa nyeri secara berkala pada daerah wajah/Trigeminal Neuralgia, sakit Kepala sebelah/Migrain, Kepala berputar/Vertigo, Gigi, Mulut dan Rongga Hidung, nyeri terbakar Persisten sepanjang distribusi syaraf kulit setelah serangan herpes zoster/Neuralgia pasca Herpetica, nyeri/Spasme Otot, Lumbago/nyeri Pinggang, Ischiagia/nyeri Pinggang ke bawah, nyeri pada Kanker, nyeri Haid dan bermacam macam nyeri lainnya. Insomnia/tidak dapat tidur atau sering terjaga malam hari dapat juga diatasi oleh Akupunktur selain itu juga penyakit yang dapat diatasi adalah penyakit radang (Sinusitis/Radang Sinus, Rinitis/Radang Mukosa hidung, Artritis/Radang Sendi), Hipertensi, Diabetes Melitus, Asma Bronkiale, Gastritis/Maag, Kelumpuhan Pasca Stroke, Kelumpuhan Muka/Bell’s palsy, Alergi, Impotensi, Obesitas/Kegemukan, Ketergantungan Obat Tertentu, Ketergantungan rokok, Autisme, Invertility( Treatment Kesuburan)/ gangguan Reproduksi.

Lamanya waktu pengobatan bervariasi, evaluasi prognosis dilakukan per 10 kali treatment guna mengukur efektifitas tindakan (Therapeutic Effect).

 

 

  1. AKUPRESUR

Akupresur adalah salah satu bentuk fisioterapi dengan memberikan pemijatan dan stimulasi pada titik-titik tertentu pada tubuh. Berguna untuk mengurangi bermacam-macam sakit dan nyeri serta mengurangi ketegangan, kelelahan dan penyakit. Salah satu bentuk dari pembedahan dengan menusukkan jarum-jarum ke titik-titik tertentu di badan, akupresur menyembuhkan sakit dan nyeri yang sukar disembuhkan – nyeri punggung, spondilitis, kram perut, gangguan neurologis, artritis dll. Pada titik-titik penekanan ini, lebih dari 1000 darinya sebenarnya merupakan syaraf kecil dengan diameter kurang lebih satu sentimeter, dengan kedalaman yang bervariasi antara seperempat hingga beberapa inci yang menempel atau dekat dengan otot atau tendon. Titik-titik akupresur terletak pada kedua telapak tangan begitu juga pada kedua telapak kaki. Di telapak kita terdapat titik akupresur untuk JANTUNG, PARU, GINJAL, MATA, HATI, KELENJAR TIROID, PANKREAS, SINUS DAN OTAK. Jika Anda tidak mengetahui secara tepat di mana titik -titik itu secara tepat di tangan Anda maka tepukkanlah tangan Anda selama dua menit dan tangan Anda akan mendapatkan tekanan yang diperlukan. Beberapa Shadus (Saint dari India) mengatakan bahwa saat menyanyikan lagu-lagu kebaktian pada Dewa terdapat ritual menepukkan tangan, di India ini diperkenalkan oleh orang-orang suci untuk menstimulasi titik titik ini (akupresur).

 

  1. PENGOBATAN HERBAL

Obat tradisional adalah bahan atau ramuan yang terbuat dari tumbuhan, hewan, mineral, atau kombinasi dari bahan-bahan tersebut yang diolah secara tradisional dan telah digunakan secara turun-temurun untuk pengobatan. Bentuk yang paling populer dari obat tradisional adalah dengan menggunakan herbal (tanaman obat). Obat tradisional seperti herbal terdiri dari beberapa golongan. Mari kita cermati masing-masing jenisnya.

Obat Tradisional dan Penggolongannya

Obat tradisional berupa herbal dapat digolongkan menjadi 3 macam, antara lain:

  1. Jamu-jamuan
    Obat bahan alam yang sediaannya masih berupa simplisia sederhana. Khasiat dan keamanannya baru terbukti secara empiris secara turun-temurun. Bahan-bahan jamu umumnya berasal dari semua bagian tanaman, bukan hasil ekstraksi atau isolasi bahan aktifnya saja.
  2. Herbal terstandar
    Bentuk sediaan obat sudah berupa ekstrak dengan bahan dan proses pembuatan yang terstandarisasi. Herbal terstandar harus melewati uji praklinis seperti uji toksisitas (keamanan), kisaran dosis, farmokologi dimanik (manfaat), dan teratogenik (keamanan terhadap janin).
  3. Fitofarmaka
    Herbal terstandar yang sudah melewati uji klinis (telah diujikan pada manusia). Saat ini yang paling banyak ditemukan di pasaran adalah obat tradisional dalam bentuk jamu, jamu pun ada banyak bentuknya mulai dari ‘jamu gendong’ sampai dalam bentuk kapsul. Produk berupa jamu umumnya dibuat berdasarkan resep atau pengetahuan turun-temurun, jadi khasiatnya dibuktikan berdasarkan pengalaman dari para penggunanya selama puluhan tahun atau bahkan ratusan tahun.

 

 

  1. AYURVEDA

Susastra Ayurveda merupakan ajaran bentuk pengobatan alternatif yang biasa dilakukan di India. Kata “Ayurveda” berasal dari gabungan kata āyus “hidup” dan veda “ilmu”, dan bisa diartikan menjadi “Ilmu Kehidupan”. Ayurveda mencakup pengukuran hidup yang sehat, dengan terapi yang berhubungan dengan fisik, mental, sosial, dan keselarasan spiritual. Kedokteran ilmiah tidak mengakui pengobatan Ayurveda, karena adanya penemuan pengobatan ini dapat menimbulkan risiko medis yang besar.

 

Ayurveda atau Ayurvedic adalah suatu pengobatan kuno yang berasal dari India yang meliputi seluruh aspek gaya hidup. Kata Ayurveda berasal dari bahasa Sansekerta, Ayudan Veda,yang secara harfiah berarti´Ilmu tentang umur, sehingga Ayurveda dapat dikatakan sebagai ilmu yang mengajarkan tentang kesehatan individu dan teknik-teknik  menyembuhkan penyakit,sehingga diharapkan kualitas hidup dan batas usia seseorang akan menjadi lebih baik€

Ayurveda adalah ilmu kesehatan preventif (menjaga kesehatan agar penyakit tidak mendapat kesempatan untuk menyerang kita) dan tentang kebiasaan hidup yang menyelaraskan antara fisik dan panggilan jiwa.

 

  1. APITHERAPI

Lebah adalah serangga luar biasa. Sengatan dan produk turunannya membantu mengatasi berbagai penyakit, dari alergi hingga gangguan saraf, dan meningkatkan daya tahan. Pengobatan dengan lebah dan produknya disebut apiterapi. Kata aphitherapy (apiterapi) adalah perpaduan bahasa Latin, aphis berarti lebah dan therapy, pengobatan. Apiterapi didefinisikan sebagai upaya pengobatan komplementer untuk tujuan prefentif, kuratif, dan rehabilitasi menggunakan lebah dan produk turunannya. Penggunaan madu lebah untuk kesehatan, kata Dr. Adji Suranto, Sp.A, dari Perhimpunan Dokter Indonesia Pengembang Kesehatan Tradisional Timur (PDPKT) DKI Jakarta, telah diketahui sejak ribuan tahun lalu. Lukisan karang zaman batu (6000 SM) memperlihatkan kegiatan honey hunting. Bukti tertua penggunaan madu untuk mengobati infeksi kulit dan luka, borok, penyakit mata dan telinga, tertulis dalam keramik bangsa Samaria (2000 SM). The Ebers Papyrus (1550 SM) mencatat resep-resep madu untuk pemakaian luar, yaitu untuk terapi kebotakan, luka bakar, abses, dan pereda nyeri. Madu juga dimanfaatkan untuk menyembuhkan luka usai pembedahan, termasuk sunat, supositoria, mengurangi peradangan, serta meredakan kaku sendi. Hingga tahun 1990, katun yang direndam dalam jus lemon dan madu masih digunakan sebagai alat kontrasepsi. Penggunaan sengat lebah untuk terapi nyeri sendi dan artritis telah lama dilakukan oleh bangsa Yunani. Pelopornya adalah bapak kedokteran modern, Hippocrates. Tahun 1888, Dr. Philip Tere dari Perancis meneliti hubungan antara sengat lebah dan rematik. Apipuntur Sebelumnya, tahun 1864, Prof. Libowsky melaporkan kesembuhan pasiennya yang menderita rematik dan neuralgia setelah diterapi dengan sengatan lebah. Pengobatan menggunakan sengat (bisa) lebah dikenal sebagai apipuntur. Apipuntur, kata Dr. Adji, adalah bagian dari apiterapi. Apipuntur memanfaatkan bee venom dan metode akupuntur. Lebah untuk terapi ini jenis Apis mellifera dan Apis cerana. Apipuntur sendiri merupakan bagian dari apiterapi. Sengat atau racun lebah sangat baik untuk menormalkan segala aktivitas pembuluh darah dan saraf. “Hasil penelitian menunjukkan bahwa sengat lebah mengandung melitin, apamin, peptida 401 (MDC), inhibitor protease, dan norepinephrine,” kata dokter yang mendalami pengobatan komplementer sejak tahun 1999 ini. Apiterapi secara umum dimanfaatkan untuk meredakan gangguan rematik, masuk angin, flu, salah urat, hingga penyakit berat, seperti darah tinggi, diabetes, dan kanker. Cara ini pun diklaim efektif untuk mengobati penyakit degeneratif, seperti stroke. Dalam praktik apipuntur, dituturkan Dr. Adji, sengat lebah yang dimasukkan ke dalam tubuh dilakukan dengan dua cara, yakni langsung (direct bee sting) dan lewat suntikan berisi racun lebah. “Racun lebah diambil dari antibodi murni seseorang yang sudah sering disengat lebah,” katanya. Jumlah sengatan tergantung pada jenis penyakit. Namun, satu sengatan di titik-titik tertentu dianggap cukup sebagai perkenalan
Sengatan lebah yang sedang bereaksi di tubuh ditandai dengan ketidaknormalan sejenak yang sifatnya individual. Reaksi pasien berbeda-beda, apakah sebelumnya pernah disengat lebah atau tidak. Biasanya pasien akan mengalami reaksi lokal dan sistemik. Ciri reaksi lokal adalah pembengkakan di sekitar lokasi sengatan, gejala klinisnya gatal, nyeri, dan kaku. Reaksi sistemik berupa demam, lemas, telinga berdengung, dan pusing. Menurut Dr. Adji, bila reaksi itu terjadi pada pasien yang sensitif, diganti dengan pemberian obat antihistamin selama 10 hari. Selanjutnya baru boleh dilakukan apiterapi lagi. Kondisi di atas, kata dokter lulusan FKUI 1988 ini, adalah alamiah karena racun lebah sedang bereaksi di dalam tubuh.

 

HIPNOTIS : SEBUAH PENGANTAR HIPNOTERAPI

 

Ilmu hipnotis modern dikenal sejak abad 18, Tokoh utamanya adalah Franz Anton Mesmer, dan disusul oleh James Braid, Charcot, Liebault, Bemheim, Sigmund Freud, Clark Haul, dan seterusnya. Di sisi lain, mungkin penggunaan hipnotis bisa jadi bermanfaat di dalam bidang kedokteran, psikiatri, atau psikologi. Dunia kedokteran mencatat bahwa dokter yang pertama kali menggunakan metode hipnotis secara medis adalah Frans Anton Mesmer pada tahun 1778 di Paris, Prancis. Contoh ide lain pemanfaatan hipnotis dalam bidang kedokteran adalah saat seorang wanita yang akan melahirkan, dihipnotis terlebih dulu agar tidak merasakan kesakitan. Pada tahun 1880-an pun, seorang ahli neurologi Prancis bernama Jean Martin Charcot, menggunakan hipnotis untuk menyingkirkan gejala histeria pasiennya. Dalam bidang psikologi hipnotis dapat digunakan sebagai sebuah metode terapi yang dikenal dengan hipnoterapi, seperti untuk menghilangkan phobia, melupakan sebuah kejadian traumatis dan menghilangkan kebiasaan yang tidak diinginkan seperti merokok, narkoba.Keadan hipnotis atau trans hipnotis dapat dialami secara tidak disadari.

Homeopathy memiliki definisi bahwa sesuatu benda atau barang yang jadi penyakit, namun bisa dipakai untuk mengobati penyakit itu sendiri dengan dosis yang ditentukan.

Salah satu bukti pengobatan model ini adalah penemuan pengobatan dengan menggunakan bisa ular seperti disebutkan di atas.

“Dosis yang dimaksud adalah dosis ekstrak bahan obat yang telah ditipiskan dengan menggunakan teknik penipisan bio molekuler,” ujar Soekarto, dokter spesialis kedokteran penerbangan yang telah mempelajari metode homeopathy melalui berbagai literartur asing dan berpraktik di RS Kramat, Jakarta Pusat.

Menurut keterangan Soekarto, homeopathy berbeda dengan jamu-jamuan. Meskipun pemilihan dan teknik pengambilan bahan obat sama dengan jamu, homeopathy tetap memiliki perbedaan dengan jamu.