hubungan kunjungan rumah terhadap kepatuhan perawatan pasien tuberkulosis suspect multi drug resistance


BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. A.    Latar Belakang Masalah

Perjanjian Millenium Development Goals (MDGs) telah ditandatangani 189 negara pada September tahun 2000 dalam mengatasi permasalahan (Tuberkulosis) TB. Salah satu tujuan pembangunan MDGs adalah untuk menurunkan rantai penularan serta mencegah terjadinya Multi Drug Resistance (MDR) TB, serta menargetkan penanggulangan TB dalam menemukan pasien baru TB (Basil Tahan Asam) BTA positif paling sedikit 70% dari perkiraan dan kesembuhan mencapai 85%. Target ini diharapkan dapat menurunkan tingkat prevalensi dan kematian akibat TB hingga separuhnya pada tahun 2010 dibandingkan tahun 1999, dan mencapai tujuan MDGs pada tahun 2015 (WHO, 2010).

Penyakit tuberkulosis (TB) disebabkan oleh kuman atau bakteri Mycobacterium Tuberkulosis. Bakteri ini pada umumnya menyerang organ paru-paru, seperti misalnya kelenjar getah bening, kulit, saluran pencernaan (usus), selaput otak, dan lain sebagainya (Anggraeni, 2011). Menurut WHO (2010) diperkirakan sekitar sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi oleh Mycobacterium Tuberkulosis.

Indonesia sebagai penyumbang TB terbesar nomor 3 di dunia setelah India dan Cina dengan jumlah kasus baru sekitar 539.000 dan jumlah kematian sekitar 101.000 pertahun  (Depkes, 2011). Hasil survei prevalansi TB di Indonesia tahun 2004 menunjukkan bahwa angka prevalansi TB BTA positif secara nasional 110 per 100.000 penduduk. Secara regional prevalansi TB BTA positif di Indonesia dikelompokkan dalam 3 wilayah, yaitu: 1) wilayah Sumatera angka prevalansi TB adalah 160 per 100.000 penduduk; 2) wilayah Jawa dan Bali angka prevalansi TB adalah 110 per 100.000 penduduk; 3) wilayah Indonesia Timur angka prevalansi TB adalah 210 per 100.000 penduduk. Khusus untuk provinsi Bali angka prevalansi TB adalah 68 per 100.000 penduduk. Mengacu pada hasil survei prevalansi tahun 2004, diperkirakan penurunan insiden  TB BTA positif secara Nasional 3-4% setiap tahunnya (Depkes R.I, 2006)

Ada 3 faktor yang menyebabkan tingginya kasus TB di Indonesia, yaitu  waktu pengobatan TB yang relatif lama (6–8 bulan) menjadi penyebab penderita TB sulit sembuh karena pasien TB berhenti berobat (drop) setelah merasa sehat meski proses pengobatan belum selesai. Selain itu, masalah TB diperberat dengan adanya peningkatan infeksi HIV/AIDS yang berkembang cepat dan munculnya permasalahan TB-MDR. Masalah lain adalah adanya penderita TB laten, dimana penderita tidak sakit namun akibat daya tahan tubuh menurun, penyakit TB akan muncul. Kerugian yang diakibatkannya sangat besar, bukan hanya dari aspek kesehatan semata tetapi juga dari aspek sosial maupun ekonomi. Dengan demikian TB merupakan ancaman terhadap cita-cita pembangunan meningkatkan kesejahteraan rakyat secara menyeluruh (Depkes RI, 2006).

Upaya – upaya yang telah dilakukan pemerintah untuk menanggulangi penyakit TB adalah melalui Program Pemberantasan TB yang telah dilaksanakan sejak tahun 1995 atas rekomendasi World Health organization (WHO) dengan strategi directly observed treatment shortcourse chemotherapy (DOTS) Program ini menekankan pada diagnosis yang benar dan tepat dilanjutkan dengan pengobatan OAT jangka pendek yang efektif serta pengawasan oleh pengawas menelan obat (PMO). Pengawas ini bisa anggota keluarga, kader, petugas kesehtan atau relawan. Umumnya penderita minum obat selama enam bulan untuk memastikan kesembuhan, namun pada beberapa keadaan dapat berbeda dan lebih lama (Depkes RI, 2006).

Ancaman TB yang lain adalah adanya  kasus TB MDR. TB MDR (Multi Drugs Resistance = kebal terhadap bermacam obat)  adalah Mycobacterium Tuberkulosis yang resisten minimal terhadap rifampisin dan (isoniazid) INH dengan atau tanpa obat anti tuberkulosis lainnya (Soepandi, 2010). Penyakit ini terjadi karena penderita TB tidak patuh dalam mengkonsumsi OAT secara teratur, hal ini disebabkan karena beberapa hal, salah satunya adalah kurangnya pengetahuan tentang pengobatan TB pada PMO dan penderita itu sendiri. Hal tersebut bisa terjadi akibat tidak tuntasnya pengobatan TB yang relatif lama dan kebosanan pada penderita dalam mengkonsumsi OAT karena pengobatan TB memerlukan waktu yang relatif lama. Dengan demikian untuk mendukung keberhasilan pemerintah dalam penyakit TB, prioritas utama ditujukan terhadap peningkatan mutu pelayanan, penggunaan obat yang rasional dan paduan obat yang sesuai dengan strategi DOTS (Rachmadi, 2010).

Survei WHO melaporkan ternyata angka TB MDR lebih tinggi dari yang diperkirakan. Enam negara dengan kekerapan TB MDR tinggi di dunia adalah Estonia, Kazakhstan, Latvia, Lithunia, bagian dari federasi Rusia dan Uzbekistan. WHO memperkirakan ada 300.000 kasus TB MDR baru per tahun (Soepandi, 2010).

Berdasarkan Global TB Report WHO 2011, Indonesia berada pada urutan kesembilan untuk beban TB MDR di dunia.  Prevalens TB di Indonesia tahun 2006 adalah 253/100.000 penduduk angka kematian 38/100.000 penduduk. TB kasus baru didapatkan TB MDR 2% dan TB kasus yang telah diobati didapatkan MDR TB 19%. Menurut Soepandi (2010) masalah resistensi obat pada pengobatan TB khususnya MDR menjadi masalah kesehatan masyarakat yang penting dan perlu segera ditanggulangi. Insiden resistensi obat meningkat sejak diperkenalkan pengobatan TB yang pertama kali pada tahun 1943.

Pasien TB MDR perlu mendapatkan pengawasan langsung agar minum obat secara teratur sampai sembuh serta meningkatkan pengetahuan pasien terhadap penyakit TB MDR dengan telah diberlakukan kegiatan kunjungan rumah kepada pasien penderita Tuberkulosis suspect multi drug resistance. Petugas kesehatan yang melakukan kunjungan rumah sebaiknya orang yang disegani dan dekat dengan pasien, misalnya keluarga, tetangga, atau kader kesehatan. PMO bertanggung jawab untuk memastikan pasien TB MDR minum obat sesuai anjuran petugas Puskesmas atau Unit pelayanan Kesehatan (UPK). Sedangkan kunjungan rumah digunakan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan serta sikap agar keluarga patuh dan mau merubah perilakunya sehubungan dengan TB (Depkes RI, 2006)

Diagnosa yang tepat pemilihan obat serta pemberian obat yang benar dari tenaga kesehatan ternyata belum cukup untuk menjamin keberhasilan suatu terapi jika tidak diikuti dengan kepatuhan pasien dalam mengkonsumsi obatnya. Adanya ketidakpatuhan pasien pada terapi penyakit ini dapat memberikan efek negatif yang sangat besar karena persentase kasus penyakit tersebut di atas di seluruh dunia mencapai 54% dari seluruh penyakit pada tahun 2001. Angka ini bahkan diperkirakan akan meningkat menjadi lebih dari 65% pada tahun 2020 (BPOM RI, 2006)

Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan pada tanggal 25 Februari 2013 di Puskesmas I Denpasar Utara diperoleh data dari laporan kunjungan tahun 2012 jumlah kasus susfect TB-MDR berjumlah  30  kasus, diperoleh data  46,7% pasien yang tidak patuh terhadap waktu pengobatan 33,3% akibat persediaan obat yang terputus, dan 20% akibat dosis yang kurang. Dari data di atas bisa disimpulkan bahwa masih tinggi angka kejadian suspect TB-MDR di wilayah Puskesmas I Denpasar Utara. Kegiatan kunjungan rumah di Puskesmas I Denpasar Utara untuk pasien TB yang dilaksanakan setiap bulan sekali oleh petugas kesehatan sebagai PMO. Hal-hal yang dilakukan dalam proses kunjungan rumah yaitu sesuai dengan peran atau tugas dari petugas PMO pada pasien tuberkulosis suspect multi drug resistance dengan syarat PMO mengikuti pelatihan singkat dari petugas kesehatan, mengenai penyakit atau bahayanya tuberkulosis, mengenai perlunya minum obat secra teratur dan penyelesaian pengobatan sesuai jadwal, perlunya evaluasi dahak dan efek samping obat, serta kapan harus meminta pertolongan, mengawasi minum obat harian di rumah, mencatat obat yang telah diminum dan mencatat keluhan yang dialami penderita, ikut serta dalam pengambilan obat berikutnya sebelum obat habis dan ikut dalam pemeriksaan dahak penderita, serta memberi motivasi pada penderita supaya tidak terjadi kegagalan berobat serta menjadi penyuluh kesehatan.

Berdasarkan fenomena tersebut di atas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang: ”Hubungan kunjungan rumah terhadap kepatuhan perawatan pasien tuberkulosis suspect multi drug resistance di Puskesmas I Denpasar Utara”.

 moree