Perkembangan Sosial


BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.  Latar Belakang Masalah

Perkembangan yang terjadi pada anak meliputi segala aspek kehidupan yang mereka jalani baik bersifat fisik maupun non fisik. Perkembanmgan berarti serangkaian perubahan progresif yang terjadi sebagai akibat dari proses kematangan dan pengalaman.[1]

Menurut keyakinan tradisional sebagian manusia dilahirkan dengan sifat sos ial dan sebagian lagi tidak. Orang yang lebih banyak merenungi diri dan lebih su ka menyendiri daripada bersama-sama dengan orang lain atau introvert, secara ala miah memang sudah bersifat demikian. Mereka yang bersifat sosial dan pikirannya lebih banyak tertuju pada pada hal-hal diluar dirinya atau ekstrovert, juga sudah bersikap seperti itu karena alamiah yaitu faktor keturunan. Sedangkan orang ya ng menentang masyarakat yaitu orang yang antisosial, dan orang yang biasanya men jadi penjahat, diyakini oleh masyarakat tradisional sebagai warisan dari pada salah satu sifat buruk yang dimiliki oleh orang tuanya.

Kesepakatan para ahli menyatakan bahwa yang dimaksud dengan perkembangan itu adalah suatu proses perubahan pada seseorang kearah yang lebih maju dan lebih dewasa, naqmun mereka berbeda-beda pendapat tentang bagaimana proses perubahan itu terjadi dalam bentuknya yang hakiki. (Ani Cahyadi, Mubin, 2006 : 21-22).

Beberapa teori perkembangan manusia telah mengungkapkan bahwa manusia telah tumbuh dan berkembang dari masa bayi kemasa dewasa melalui beberapa langkah jenjang. Kehidupan anak dalam menelusuri perkembangnya itu pada dasarnya merupakan kemampuan mereka berinteraksi dengan lingkungan. Pada proses integrasi dan interaksi ini faktor intelektual dan emosional mengambil peranan penting. Proses tersebut merupakan proses sosialisai yang mendudukkan anak-anak sebagai insan yang yang secara aktif melakukan proses sosialisasi.

  1. B.  Rumusan Masalah

Sehubungan dengan latar belakang di atas, maka yang menjadi rumusan masalah di dalam makalah ini adalah :

  1. Apa makna perkembangan sosial?
  2. Bagaimana teori perkembangan social?
  3. Faktor – faktor apa saja yang mempengaruhi perkembangan sosial anak ?

C. Tujuan Penulisan

Penulisan makalah ini bertujuan untuk mengetahui makna perkembangan sosial anak, mengetahui teori perkembangan social dan mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan sosial anak.

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. A.      PENGERTIAN PERKEMBANGAN SOSIAL

Perkembangan social adalah tingkatan jalinan interaksi anak dengan orang lain, mulai dari orang tua, saudara, teman bermain, hingga masyarakat secara luas.  Sedangkan perkembangan emosional adalah luapan perasaan ketiak anak berinteraksi dengan orang lain.  Dengan demikian dapat dipahami bahwa perkembangan social emosional tidak dapat dipisahkan.  Dengan kata lain membahas perkembangan social harus melibatkan emosional.[2]

Berikut pengertian perkembangan sosial menurut beberapa ahli:

  1. Perkembangan sosial adalah kemajuan yang progresif melalui kegiatan yang terarah dari individu dalam pemahaman atas warisan sosial dan formasi pola tingkah lakunya yang luwes.  Hal itu disebabkan oleh adanya kesesuaian yang layak antara dirinya dengan warisan sosial itu.[3]
  2. Menurut Elizabeth B. Hurlock, perkembangan sosial adalah kemampuan seseorang dalam bersikap atau tata cara perilakunya dalam berinteraksi dengan unsur sosialisasi di masyarakat.
  3. Singgih D Gunarsah, perkembangan sosial merupakan kegiatan manusia sejak lahir, dewasa, sampai akhir hidupnya akan terus melakukan penyesuaian diri dengan lingkungan sosialnya yang menyangkut norma-norma dan sosial budaya masyarakatnya.
  4. Abu Ahmadi, berpendapat bahwa perkembangan sosial telah dimulai sejak manusia itu lahir. Sebagai contoh, anak menangis saat dilahirkan, atau anak tersenyum saat disapa. Hal ini membuktikan adanya interaksi sosial antara anak dan lingkungannya.

 

Jadi, dapat diartikan  bahwa perkembangan sosial akan menekankan perhatiannya kepada pertumbuhan yang bersifat progresif. Seorang anak atau individu yang lebih besar tidak bersifat statis dalam pergaulannya, karena dirangsang oleh lingkungan sosial, adat istiadat, kebiasaan-kebiasaan kelompok dimana ia sebagai salah satu anggota kelompoknya.

 

  1. B.           TEORI PERKEMBANGAN SOSIAL

Salah satu tokoh psikologi perkembangan yang merumuskan teori perkembangan sosial peserta didik adalah Erik Erison. Erik Erikson sangat terkenal dengan tulisaanya di bidang psikologi anak. Dia mengembangkan teori yang disebut teori perkembangan psikososial dimana ia membagi tahap-tahap perkembangan manusia menjadi delapan tahapan.

Berikut ini terori perkembangan sosial menurut Erik Erikson yang tergambar pada tahap-tahap perkembangan anak sebagai berikut:

Umur Fase Perkembangan Perkembangan Perilaku
0 – 1 Trust vs Mistrust Tahap pertama adalah tahap pengembangan rasa percaya diri kepada orang lain, sehingga mereka sangat memerlukan sentuhan dan pelukan.
2 – 3 Autonomy vs Shame Tahap ini bisa dikatakan sebagai masa pemberontakan anak atau masa “nakalnya”.  Namun kenakalannya tidak dapat dicegah begitu saja, karena tahap ini anak sedang mengembangkan kemampuan motorik dan mental, sehingga yang diperlukan justru mendorong dan memberikan tempat untukmengembangkan motorik dan mental. Pada saat ini anak sangat terpengaruh oleh orang-orang penting disekitarnya, misal orang tua atau guru.
4 – 5 Inisiative vs Guilt Mereka banyak bertanya dalam segala hal, sehingga terkesan cerewet.  Mereka juga mengalami perngembangan inisiatif/ide, sampai pada hal-hal yang berbau fantasi.
6 – 11 Indusstry vs Inferiority Mereka sudah bisa mengerjakan tugas-tugas sekolah dan termotivasi untuk belajar.  Namun masih memiliki kecenderungan untuk kurang hati-hati dan menuntut perhatian.
12 -18/20 Ego-identity vs Role on fusion Tahap ini manusia ingin mencari identitas dirinya.  Anak yang sudah beranjak menjadi remaja mulai ingin tampil memegang peran-peran sosial di masyarakat.  Namun masih belum bisa mengatur dan memisahkan tugas dalam peran yang berbeda.
18/19 – 30 Intimacy vs Isolation Memasuki tahap ini manusia sudah mulai siap menjalani hubungan intim dengan orang lain, membangun bahtera rumah tangga bersama calon pilihannya
31 – 60 Generation vs Stagnation Tahap ini ditandai dengan munculnya kepedulian yang tulus terhadap sesama. Tahap ini terjadi saat seseorang telah memasuki usia dewasa
60 ke atas Ego Integrity vs putus asa Masa ini dimulai pada usia 60-an, masa dimana manusia mulai mengembangkan integritas dirinya.

 

  1. C.      PERKEMBANGAN SOSIAL (BAYI, KANAK-KANAK, REMAJA, DEWASA)
    1. 1.    Perkembangan sosial pada masa bayi

Interaksi sosial dengan orang lain sudah dimulai sejak masa bayi dengan cara yang sangat sederhana.  Pada tahun pertama kehidupan, interaksi sosial anak sangat terbatas, yang utama dengan ibu dan pengasuhnya. Interaksi tersebut dilakukan dengan pandangan, pendengaran dan bau badan. Kepedulian terhadap lingkungan hampir tidak ada, sehingga apabila kebutuhannya sudah terpenuhi anak tidak peduli lagi terhadap lingkungan.[4]

 

  1. Reaksi sosial terhadap orang dewasa

Pada masa bayi ini bayi senang sekali bila diajak berhubungan atau berteman oleh orang lain, misalnya diajak berbicara, bermain dan sebagainya.  Makin besar anak makin membutuhkan tidak hanya kontak fisik namun juga kontak psikis.  Kontak fisik dapat diwujudkan dengan menggendong, menggandeng, mengelus rambut, mencium, memandikan.  Sedangkan kontak psikis dapat berupa pemberian perhatian, kasih sayang, dorongan.

Beberapa perilaku lazim yang sering muncul pada masa bayi antara lain[5]:

1)        Imitasi (peniruan), yakni bayi senang sekali meniru tingkah laku atau sikap orang-orang dewasa yang ada disekitarnya, misalnya menirukan orang tertawa, tersenyum, tepuk tangan dan sebagainya.

2)        Shyness (perasaan malu), yakni pada masa ini anak mudah sekali merasa alu atau takut terhadap orang-orang yang belum dikenalnya. Akan tetapi sebaliknya anak menjadi tidak mudah takut atau malu setelah dapat mengenal lebih terhadap orang tersebut.

3)        Dependency (ketergantungan), yakni anak tidak dapat hidup tanpa bantuan orang lain.

4)        Acceptance or the authority, menerima kekuatan atau kekuasaan yang melebihi dirinya yang ada diluar dirinya.

5)        Rivalry (persaingan dan resistant behavior). Resistant behavior bertujuan untuk menunjukkan kekuatan.

6)        Attention seeking (perhatian akan sesuatu). Pada masa ini timbul niat atau kemauan anak untuk mengenal lebih lanjut atas apa yang dilihatnya, misalnya bermain-main dengan jenggot anaknya.

7)        Cooperation behavior, manifestasi tingkah laku dapat diwujudkan dalam bentuk bermain bersama-sama temannya, bergurau dengan temannya, tergaul dan ergabung dengan teman-temannya.

 

  1. Implikasi pada pendidikan

Bayi membutuhkan perawatan dan pemberian kasih sayang, lingkungan perlu memberikan rangsangan motorik yang kontinyu untuk membantu perkembangan motorik.  Pemaksaan dan reaksi orang dewasa yang menolak dapat mengakibatkan kemunduran, anak akan menjadi takut dan tidak bahagia. Pemberian afeksi bagi bayi lebih dipentingkan daripada terus memaksa bayi melakukan sesuatu prilaku yang tidak mungkin dilakukan.

 

  1. 2.         Perkembangan sosial pada masa prasekolah

Selama masa prasekolah, banyak anak yang mulai mengadakan hubungan dekat dengan orang-orang non keluarga.  Pada saat anak menjelajahi dunia prasekolah mereka mengalami serangkaian situasi sosial yang baru dan bervariasi.  Beberapa situasi baru berhubungan dengan bermain.

Pada masa ini, anak sudah mulai membentuk masyarakat kecil yang anggotanya terdiri dari dua atau tiga anak. Mereka bermain bersama-sama walaupun kelempok itu hanya dapat bertahan dalam waktu yang relatif singkat.  Dalam perkumpulannya ia harus bergaul dan menyesuaikan dirinya dengan anak yang lain.  Kadang-kadang ia berkelahi dengan temannya sendiri.

Di lingkungn keluarga, anak suka menuntut kasih sayang ibunya hanya untuk diriya sendiri.  Dalam dirinya mulai timbul perasaan iri hati kepada orang seisi rumah khususnya kakak atau adik yang membutuhkan perhatian ibunya.

Dalam masa ini yang sangat menonjol adalah sikap simpatinya.  Rasa simpati sudah dikenal sangat sederhana, seperti sikap menolong, melindungi teman, membela teman yang lain dan sebagainya.  Ia tidak merasa takut atau malu jika berada diantara orang-orang yang disukainya.  Tetapi ia akna merasa takut berada diantara orang-orang yang tidak disukainya.

 

Implikasi dalam Pendidikan

ü  Sebagai pendidik perlu mengetahui bahwa bermain adalah sarana belajar yang luar biasa ampuh bagi anak kecil.

ü  Sebagai pendidik perlu mendorong anak menggunakan inisiatifnya pada pengalaman sehari-hari.

ü  Bila anak mengalami kesulitan bergabung dengan teman-teman sebayanya pendidik harus memberi contoh bagaimana cara berpartisipasi dan bergabung dalam kelompok.

 

  1. 3.      Perkembangan sosial pada masa sekolah

Perkembangan sosial dan kepribadian  mulai dari usia pra sekolah sampai akhir masa sekolah ditandai oleh meluasnya lingkungan sosial. Anak-anak mulai melepaskan diri dari keluarga dan makin mendekatkan diri pada orang-orang disamping keluarga.

  1. Kegiatan Bermain

Dibanding dengan masa sebelumnya anak pada usia sekolah ini mau tidak mau akan mengurangi waktu bermain daripada masa sebelumnya. Bermain sangat penting bagi perkembangan fisik, psikis dan sosial anak. Dengan bermain anak berinteraksi dengan teman yang akan memberikan berbagai pengalaman berharga.

  1. Interaksi dengan  anak-anak sebaya

Meluasnya lingkungan sosial bagi anak menyebabkan anak menjumpai pengaruh-pengaruh yang ada diluar pengawasan orang tua. Interaksi dengan teman sebaya merupakan permulaan hubungan persahabatan.  Persahabatan pada awal masa sekolah pada umumnya terjadi atas dasar aktivitas bersama. Hubungan persahabatan itu bersifat timbal balik dan memiliki sifat-sifat sebagai berikut: (a)ada saling pengertian, (b) saling membantu, (c) saling percaya, (d) saling menghargai dan menerima.

Teman sebaya pada umumnya adalah teman sekolah atau teman bermain di luar sekolah. Minat terhadap kegiatan kelompok mulai timbul. Mereka memiliki teman-teman sebaya untuk melakukan kegiatan bersama, seperti belajar bersama, melihat pertunjukan, bermain dan sebagainya.

Masa kanak-kanak akhir ini dibagi menjadi dua fase[6]:

1)        Masa kelas-kelas rendah Sekolah Dasar yang berlangsung antarausia 6/7 – 9/10 tahun, biasaya mereka duduk di kelas 1, 2, dan 3 Sekolah Dasar

2)        Masa kelas-kelas tinggi Sekolah Dasar yang berlangsung antarausia 9/10 – 12/13 tahun, biasaya mereka duduk di kelas 4, 5, dan 6 Sekolah Dasar.

Adapun ciri-ciri anak masa kelas-kelas rendah adalah

a)        Ada hubungan yang kuat antara keadaan jasmani dan prestasi sekolah

b)        Suka memuji diri sendiri

c)        Kalau tidak dapat menyelesaikan suatu tugas atau pekerjaan, tugas atau pekerjaan itu dianggapnya tidak penting

d)       Suka membandingkan dirinya dengan anak lain, jika hal itu menguntungkan dirinya.

e)        Suka meremehkan orang lain

Ciri-ciri anak masa kelas-kelas tinggi adalah:

a)         Perhatiannya tertuju kepada kehidupan praktis sehari-hari

b)        Ingin tahu, ingin belajar dan realistis

c)         Timbul minat kepada pelajaran-pelajaran khusus

d)        Anak memandang nilai sebagai ukuran yang tepat sebagai prestasi belajar

e)         Anak suka membentuk kelompok sebaya untuk bermain bersama, mereka membuat peraturan sendiri dalam kelompoknya.

 

  1. 4.         Perkembangan sosial pada masa remaja

Pada usia remaja pergaulan dan interaksi sosial dengan teman sebaya bertambah luas dan kompleks dibandingkan denga masa-masa sebelumnya termasuk pergaulan dengan lawan jenis.  Pemuasan interlektual juga didapatkan oleh remaja dalam kelompoknya dengan berdiskusi, berdebat untuk memecahkan masalah.  Mengikuti organisasi sosial juga memberikan keuntungan bagi perkembangan sosial remaja, namun demikian agara remaja dapat bergaul dengan baik dalam kelompoknya diperlukan kopentensi sosial yang berupa kemampuan dan ketrampilan berhubungan dengan orang lain.

Suatu penelitian longitudinal yang dilakukan oleh Bronson, menyimpulkan adanya tiga pola orientasi sosial, yaitu:

  1. a.      Withdrawal vs. Expansive

Anak yang tergolong withdrawal adalah anak yang mempunyai kecenderungan menarik diri dalam kehidupan sosial, sehingga dia lebih senang hidup menyendiri. Sebaliknya anak expansive suka menjelajah, mudah ergaul dengan orang lain sehingga pergaulannya luas.

  1. b.      Reaxtive vs aplacidity

Anak yang reactive pada umumnya memiliki kepekaan sosial yang tinggi sehingg mereka banyak kegiatan, sedangkan anak yang aplacidity mempunyai sifat acuh tak acuh bahkan tak peduli terhadap kegiatan sosial. Akibatnya mereka terisolir dalam pergaulan sosial.

  1. c.       Passivity vs Dominant

Anak yang berorientasi passivity sebenarnya banyak mengikuti kegiatan sosial namun mereka cukup puas sebagai anggota kelompok saja, sebaliknya anak yang dominant mempunyai kecenderungan menguasai dan mempengaruhi teman-temannya sehingga memiliki motivasi yang tinggi untuk menjadi pemimpin

 

1)        Tujuan perkembangan Sosial Remaja

a)      Memperluas kontak sosial

Remaja tidak lagi memilih teman-teman berdasarkan kemudahanya, apakan disekolah atau dilingkungan tetngga.  Remaja mulai menginginkan teman yang memiliki nilai-nilai yang sama, yang dapat memahami, membuat rasa aman, mereka dapat mempercayakan masalah-masalah dan membahas hal-hal yang tidak dapat dibicarakan dengan orangtua.

b)      Mengembangakan  identitas diri

Remaja dalam kehidupannya mulai ingin menjawab pertanyaan tentang dirinya, siapakah saya?

c)      Menyesuaikan dengan kematangan seksual

d)     Belajar menjadi orang dewasa

2)      Sikap Sosial Remaja

Perkembangan sikap sosial remaja ada yang disebut sikap konformitas dan sikap heteroseksual. Sikap konformitas merupakan sikap ke arah penyamanan kelompok yang menekankan remaja dapat bersifat positif dan negatif.  Sikap konformitas yang negatif seperti pengrusakan, mencuri dll.  Sedang konformitas positif misalnya menghabiskan sebagian waktu dengan anggota lain yang melibatkan kegiatan sosial yang beik (Santrock,1997).

Perubahan sikap dan prilaku seksual remaja yang paling menonjol adalah bidang heteroseksual ( Hurlock, 1991). Mereka mengalami perkembangan dari tidak menyukai lawan jenis, menjadi menyukai lawan jenis.  Kesempatan dalam berbagai kegiatan sosial  semakin luas, yang menjadikan remaja memiliki wawasan yang lebih luas.  Remaja semakin mampu dalam berbagai kemampuan sosial yang dapat meningkatkan kepercayaan diri.

Terkait dengan hubungan heteroseksual ada beberapa tujuan yang dicapai yaitu;

a)      Remaja dapat berlajar berinteraksi dengan lawan jenis, dimana akan mempermudah perkembangan sosial mereka terutama kehidupan keluarga.

b)      Remaja akan dapat melatih diri untuk menjadi mandiri, yaitu diperoleh dengan berbagai kegiatan sosial.

c)      Remaja akan mendapatkan status tersendiri dalam kelompok,

d)     Remaja dapat belajar melakukan memilih teman.

3)      Implikasi dalam Pendidikan

Pendidik harus membimbing remaja agar dapat mencapai hubungan baru dan yang lebih matang dengan teman sebaya baik pria maupun wanita, mencapai peran sosial pria dan wanita, menerima keadaan fisiknya dan menggunakan tubuhnya secara efektif, mengharapkan dan mencapai perilaku sosial yang bertanggungjawab, mempersiapkan karier ekonomi, mempersiapakn perkawinan dan keluarga, memperoleh perangkat nilai, serta sistem etis sebagai pegangan untuk berperilaku mengembangkan ideologi

 

  1. 5.     Perkembangan sosial pada masa dewasa

Masa dewasa menurut beberapa ahli Psilologi debagi menjadi tiga yaitu dewasa awal(18-40 tahun), dewasa madya (41-60 tahun), dan dewasa akhir yang disebut dengan usia lanjut pada rentang usia diatas 60 tahun.

  1. a.      Dewasa Dini

Pada masa dewasa dini, perkembangan emosi dan sosial sangat berkaitan dengan adanya perubahan minat.  Adapun kondisi-kondisi yang mempengaruhi perubahan minat pada masa ini adalah perubahan kondisi kesehatan, perubahan status sosial ekonomi, perubahan dalam pola kehidupan, perubahan peran seks, perubahan status dari yang belum menikah ke status menikah. Pemahaman akan makna cinta yang sebenarnya mempengaruhi bagaimana individu berinteraksi dengan pasangan, anak-anak, dan lingkungan si sekitarnya yang pada akhirnya mempengaruhi kebahagiaan individu tersebut.[7]

Untuk perkembangan sosialnya, sebagaimana yang ditekankan oleh Erikson, masa dewasa sini merupakan masa krisis isolasi (Hurlock, 1991).  Hal ini dikarenakan kegiatan sosial pada masa dewasa dini sering dibatasi karena berbagai tekanan pekerjaaan dan keluarga. Peran sosial sering terbatas, sehingga dapat juga mempengaruhi persahabatan, pengelompokan sosial serta nilai-nilai yang diberikan pada popularitas individu.

  1. b.      Dewasa Madya

Santrock (2002) menekankan bahwa perkembangan emosi sosial dan moral yagn menjadi titik perhatian pada masa ini adalah berkenaan dengan beberapa hal, yaitu:

1)        Pernikahan dan Cinta

Pada masa dewasa madya, fase kehidupan keluarga mempengaruhi ciri khas perkembangan emosinya. Pada fase ini berada pada taraf kestabilan dalam berumah tangga. Stabilitas dicapai karena perjuangn pasangan dalm memupuk cintanya selama bertahun-tahun dengan  dipengaruhi sikap toleransi antar pasangan.

2)        Sindrom sarang kosong

Sebuah peristiwa penting dalam keluarga apabila anak-anak yang beranjak dewasa mulai meninggalkan rumah menuju ke kedewasaan. Sindrom sarang kosong ini menyatakan bahwa kepuasan pernikahan akan menurun karena anak-anak mulai meninggalkan orangtuanya. Orangtua yang mengalami ini bilamana selama masa sebelumnya kepuasan ada pada interaksi bersama anak-anak.

3)        Hubungan Persaudaraan dan persahabatan

Hubungan dengan saudara semakin meningkat pada usia ini.  Pada masa ini biasanya individu dituntut untuk membimbing masa-masa sebelumnya.   Begitupun dengan persahabatan dengan beberapa teman, pada masa ini mengalami peningkatan. Berbagai aktivitas sosial maupun olahraga merupakan beberapa hal yang sering dilakukan bersama.

4)        Pengisian Waktu Luang

Individu pada masa dewasa madya atau tengah perlu menyiapkan diri unguk masa pensiun, baik secara keuangan maupun psikologis. Membangun dan memenuhi aktivitas-aktivitas luang merupakan bagian yang penting untuk persiapan masa pensiun, sehingga peralihan ke masa usia lanjut tidak begitu menekan individu yang dapat menyebabkan cemas.

5)        Hubungan antar generasi

Kedekatan antar generasi terlihat semakin dekatnya anak-anak yang beranjak dewasa dengan orangtuanya, terutama itu dan anak perempuan.


  1. c.       Dewasa Akhir
    1. Teori Sosial Lanjut Usia

Latrancois (1984) menyatakan bahwa pada dasarnya ada dua teori yang menerangkan hubungan antara umur manusia dengan kegiatannya:

a)      Teori disangrefement

Teori ini secara formal diajukan oleh Cumming dan Henry pada tahun 1961. Teori ini berpendapat bahwa semakin tinggi manusia akan diikuti secara berangsur-angsur oleh semakin mundurnya interaksi sosial, fisik dan emosi dengan kehidupan dunia.

b)      Teori Activity

Teori ini bertolak belakang dengan teori yang pertama, menyatakan bahwa semakin tua seseorang akan semakin memilihara hubungan sosial, fisik maupun emosionalnya.  Kepuasan hidup orang tua sangat tergantung pada kelangsungan keterlibatannya pada berbagai kegiatan

 

  1. Keluarga dan Hubungan Sosial

Pola kehidupan keluarga mengalami perubahan seiring meningkatnya usia seseorang.  Pensiun yang berarti berkurangnya pendapatan, kematian pasangan, keduanya juga mempengaruhi kehidupan dalam keluarga.  Semua perubahan menuntut penyesuaian.  Penyesuaian dalam keluarga yang dianggap penting dalam keluarga menurut Hurlock (1993:420) adalah :

a)      Hubungan dengan pasangan hidupnya

b)      Hubungan dengan anak

c)      Ketergantungan orang tua

d)     Hubungan dengan para cucu

Hubungan dengan orang lain cenderung dan berkurang atau menurun. Kontak sosial dengan teman atau sahabat yang masih terjalin memiliki efek yang sangat positif bagi lanjut usia.

Lanjut usia akan lebih menikmati waktunya dengan temannya daripada dengan keluarganya, karena dengan sesama lanjut usia mereka lebih dapat berdiskusi dengan masalah-masalah yang mereka hadapi bersama dan saling membantu memecahkan masalah masing-masing.[8]

 

  1. D.          Faktor – faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Sosial

Perkembangan sosial anak dipengaruhi beberapa faktor yaitu :

  1. Keluarga

Keluarga merupakan lingkungan pertama yang memberikan pengaruh terhadap berbagai aspek perkembangan anak, termasuk perkembangan sosialnya. Kondisi dan tata cara kehidupan keluarga merupakan lingkungan yang kondusif bagi sosialisasi anak. Proses pendidikan yang bertujuan mengembangkan kepribadian anak lebih banyak ditentukan oleh keluarga, pola pergaulan, etika berinteraksi dengan orang lain banyak ditentukan oleh keluarga.

  1. Kematangan

Untuk dapat bersosilisasi dengan baik diperlukan kematangan fisik dan psikis sehingga mampu mempertimbangkan proses sosial, memberi dan menerima nasehat orang lain, memerlukan kematangan intelektual dan emosional, disamping itu kematangan dalam berbahasa juga sangat menentukan.

 

  1. Status Sosial Ekonomi

Kehidupan sosial banyak dipengaruhi oleh kondisi sosial ekonomi keluarga dalam masyarakat. Perilaku anak akan banyak memperhatikan kondisi normatif yang telah ditanamkan oleh keluarganya.

  1. Pendidikan

Pendidikan merupakan proses sosialisasi anak yang terarah. Hakikat pendidikan sebagai proses pengoperasian ilmu yang normatif, anak memberikan warna kehidupan sosial anak didalam masyarakat dan kehidupan mereka dimasa yang akan datang.

  1. Kapasitas Mental : Emosi dan Intelegensi

Kemampuan berfikir dapat banyak mempengaruhi banyak hal, seperti kemampuan belajar, memecahkan masalah, dan berbahasa. Perkembangan emosi perpengaruh sekali terhadap perkembangan sosial anak. Anak yang berkemampuan intelek tinggi akan berkemampuan berbahasa dengan baik. Oleh karena itu jika perkembangan ketiganya seimbang maka akan sangat menentukan keberhasilan perkembangan sosial anak.

 

BAB III

PENUTUP

 

 Interaksi sosial dengan orang lain sudah dimulai sejak masa bayi sampai akhir hayat.  Menurut Erik H. Erikson (1963), perkembangan sosial terbagi menjadi beberapa tahapan yaitu :

  1. Infancy (0-1 tahun) : Trust VS Mistrust
  2. Early childhood (1-3 tahun) : Autonomy VS Shame, doubt
  3. Preschool age (3-6 tahun) : Inisiative VS Guilt
  4. School age (6-12 tahun) : Industry VS Inveriority
  5. Adolescence (12-20 tahun) : Identity VS Identity confusion
  6. Young adulthood (20-30 tahun) : Intimacy VS Isolation
  7. adulthood (30-65 tahun ) : Generativy VS Stagnation
  8. Senescence (>65 tahun) : Ego integrity VS Despair

Beberapa perilaku yang muncul pada massa bayi antara lain imitasi, shyness, pependancy, acceptance, or authority, revalry, attention seeking dan coorperation behavior. Pada masa prasek dan yang menonjol adalah sikap simpatinya. Pada masa remaja interaksi sosial dengan temaan sebaya bertambah luas dan kompleks. Perkembangan sosial pada masa dewasa dibagi menjadi tiga, yaitu dewasa dini, dewasa madya dan dewasa akhir.

Faktor – faktor yang mempengaruhi perkembangan sosial yaitu :

  1. Keluarga ; merupakan pengaruh terhadap berbagai aspek perkembangan sosialnya.
  2. Pematangan ; diperlukan agar dapat bersosialisasi dengan baik.
    1. Status Sosial Ekonomi ; kehidupan sosial banyak dipengaruhi oleh kondisi sosial ekonomi dalam keluarga.
    2. Pendidikan ; merupakan proses sosialisasi anak yang terarah.
      1. Emosi dan Intelegenci ; anak yang berkemampuan intelek tinggi akan berkemampuan berbaha dengan baik.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Prof. Dr. H. Djaali. 2007. Psikologi Pendidikan, Jakarta : Bumi Aksara

Eka Izzaty, Rita. 1997. Perkembangan Peserta Didik. Yogyakarta : UNY Press

Siswoyo, Dwi. 2007. Ilmu Pendidikan. Yogyakarta: UNY Press

Drs. Zulkifli L. 2009. Psikologi Perkembangan. Bandung : Remaja Rosdakarya.

F.J. Monks, A.M.P. Knoers, Dr. Siti Rahayu Haditono. 2006. PSIKOLOGI PERKEMBANGAN, Pengantar dalam berbagai bagiannya. Yogyakarta : UGM Press

Suyadi. 2009. Ternyata anakku Bisa Kubuat Genius!. Yogyakarta : Powerbooks

Dariyo, Agus. 2004. Psikologi Perkembangan Remaj. Jakarta : GHALIA Indonesia


[1] Prof. Dr. H. Djaali. 2007. Psikologi Pendidikan, Jakarta : Bumi Aksara. Hal:  49

[2] Suyadi. 2009. Ternyata anakku Bisa Kubuat Genius!. Yogyakarta : Powerbooks

[3] Prof. Dr. H. Djaali. 2007. Psikologi Pendidikan, Jakarta : Bumi Aksara. Hal : 48

[4] Eka Izzaty, Rita. 1997. Perkembangan Peserta Didik. Yogyakarta : UNY Press

 

[5] Eka Izzaty, Rita. 1997. Perkembangan Peserta Didik. Yogyakarta : UNY Press

 

[6] Eka Izzaty, Rita. 1997. Perkembangan Peserta Didik. Yogyakarta : UNY Press. Hal: 116

[7] Eka Izzaty, Rita. 1997. Perkembangan Peserta Didik. Yogyakarta : UNY Press. Hal : 161

[8] Eka Izzaty, Rita. 1997. Perkembangan Peserta Didik. Yogyakarta : UNY Press. Hal173