SAP(satuan acara penyuluhan) KDRT (kekerasan dalam rumah tangga)


SATUAN ACARA PENYULUHAN PADA PRIAKU KEKERASAN KDRT

 

Pokok Bahasan                       : Prilaku kekerasan KDRT

SUB Pokok Bahasan              : Pengetahuan tentag prilaku kekerasan

Sasaran                                    : mahasiswa

Hari / Tanggal                         : selasa, 4 juni 2013

Waktu                                     : 30 menit

Tempat                                    : 405

 

  1. I.     LATAR BELAKANG

Salah-satu bentuk kejahatan itu adalah kekerasan terhadap sesame manusia. kekerasan merupakan suatu konsep yang makna dan isinya sangat tergantung pada masyarakat sendiri. Selain faktor kekuatan, kekerasan juga muncul karena adanya kekuasaan yang diabsahkan secara hukum dalam pengertian yang luas. Kekerasan bisa terjadi dalam berbagai bidang, baik politik, ekonomi, social budaya dan pemikiran agama. lebih jauh lagi kekerasan itu telah memasuki ruang lingkup yang paling kecil dan eksklusif yaitu keluarga. Di dalam keluarga, kekerasan terhadap perempuan bisa terjadi antara anggota keluarga.  Di tengah masyarakat modern yang dibangun atas prinsip rasionalitas, demokrasi dan humanisme yang secara teori dapat menekan tindak kekerasan namun budaya kekerasan ini menjadi sebuah fenomena yang tidak dapat dipisahkan. Segala bentuk kejahatan terhadap martabat manusia dan kekerasan, terutama kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) merupakan pelanggaran hak asasi manusia yang harus dihapuskan.

Biasanya yang menjadi korban dalam KDRT adalah kebanyakan perempuan. Di Indonesia sebagai negara yang sedang berkembang banyak terjadi pelanggaran hak asasi manusia diantaranya adalah hak-hak perempuan. Data dari Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), memperlihatkan bahwa pada sepanjang tahun 2003 telah terjadi 5.934 kasus kekerasan terhadap perempuan. Sebanyak 2.703 diantaranya adalah kasus KDRT, dengan korban terbanyak adalah istri yaitu 2.025 kasus atau 75%.4 Bahkan dalam pengamatan Kompas, kasus KDRT cenderung meningkat.5 Seperti halnya fenomena gunung es, kasus-kasus yang dilaporkan diyakini jauh lebih sedikit daripada yang  tersembunyi dan tidak terungkap.

Untuk itulah kami inggi melakukan penyuluhan megenai prilaku kekerasan KDRT utuk dapat meminimalisir dan mencegah terjadinya prilaku kekerasan.

 

  1. II.                               TUJUAN UMUM

Setelah mendapat penyuluhan selama 30 menit di harapkan mahasiswa dapat memahami tentang prilaku kekerasan dan dapat meakukan sosialisasi pada masyarakat agar prilaku kekerasan tidak terjadi lagi di masyarakat.

 

III. TUJUAN KHUSUS

Setelah diberikan penyuluhan selama 30 menit mahasiswa diharapkan :

  1. Mampu menjelaskan mengenai Pengertian dari KDRT
  2. Mampu menjelaskan mengenai Bentuk kekerasan dalam rumah tangga
  3. Mampu menjelaskan mengenai Factor pemicu terjadinya kekerasan
  4. Mampu menjelaskan mengenai Dampak dari kekerasan

 

IV. METODE :

  1. Ceramah
  2. Tanya jawab

 

 

  1. V.    MEDIA :
    1. Brosur
    2. Ceramah dengan menggunakan leflet

 

VI. ISI MATERI :

  1. Pengertian dari KDRT
  2. Bentuk kekerasan dalam rumah tangga
  3. Akar kekerasan dalam rumah tangga
  4. Factor pemicu terjadinya kekerasan
  5. Proses kekerasan dalam kekerasan
  6. Dampak dari kekerasan
  7. Upaya pemulihan dan preentif
  8. Merahasiakan terjadinya kekerasan

 

VII. PROSES PELAKSANAAN

No Waktu Kegiatan Sasaran  
    Penyajian Pasien dan Keluarga pasien
1 5 menit Pembukaan

  1. a.  Salam pembuka
    1. Perkenalan
    2. Menyampaikan tujuan
    3. Kontrak waktu
    4. Melakukan apersepsi
  • Penyaji mengucapkan salam pembuka
  • Menyampaikan tujuan
  • Kontrak waktu
  • Melakukan apersepsi
  • Peserta membalas salam penyaji
  • Mendengar tujuan yang disampaikan
  • Menyetujui kontrak waktu
  • Mendengarkan apersepsi
2 20 menit Penyampaian materi

 

  • Penyaji menyampaikan materi dengan baik, jelas dan mudah dimengerti peserta penyuluhan
    • Peserta mendengarkan materi yang disampaikan penyaji
3 5 menit Penutup

  1. Sesi Tanya jawab
  2. Melakukan evaluasi
  3. Menyimpulkan materi yang didiskusikan
  4. Mengakhiri kegiatan dengan salam
  • Penyaji memberikan pertanyaan kepada peserta penyuluhan
  • Penyaji melakukan evaluasi dan menyimpulkan
  • Mengakhiri dengan salam
    • Peserta menjawab pertanyaan dengan benar
    • · Peserta membalas salam penyaji

 

 

  1. VIII.       SETTING TEMPAT

 

PAPAN

TULIS

KETUA     PENYAJI                                             MODERATOR           SEKRETARIS

 

 

LAPTOP,LCD

 

PESERTA                                                                               PESERTA

 

PESERTA                                                                               PESERTA

 

IX. PENGORGANISASIAN

 

Ketua              : Desak Made Suryani

Moderator       : Ni Made Juliani

Fasilitator        : Gusti Ayu Trisna Dewi

Observer          : Ni Luh Putu Shinta Ardani

Penyaji            : Gusti Ayu Novilia Sukma

Sekretaris          : Ni Wayan Putri Meliantini

 

  1. X.    REFERENSI

Gail Wiscart Stuart, Sandra J. Sundeen.2002. Buku Saku Keperawatan Jiwa, Edisi 3 .Jakarta: EGC

Isaacs, Ann.2004.Keperawatan Kesehatan Jiwa & Psikiatrik.Edisi 3.Jakarta:EGC

Wahdatunnisa, Norvadewi dan Lina Revilla. 2010.Journal penelitian Jurnal Penelitian P3M STAIN Samarinda . diperoleh dari http//journal penelitian prilaku kekerasan KDRT/ diakses tanggal 28 maret 2012 pukul 20.00 WIB

http://www.indoforum.org/t165716/#ixzz1qNJ8Tq56/ stop +KDRT. Diakss tanggal 28 maet 2012 pukul 19.00 WIB.

http://www.google.com/search?ie=UTF-8&oe=UTF 8&sourceid=navclient&gfns=1&q=prilaku+kekerasan+KDRT //diakses tanggal 28 maret 2012 jm 20.00 WITA

 

XI. EVALUASI

  1. Struktur :
    1. Persiapan media

Media yang digunakan dalam penyuluhan semuanya lengkap

  1. Materi disiapkan dalam bentuk makalah dan ditulis dalam brosur serta disajikan dengan leaflete .
  2. Proses penyuluhan :
    1. Penyuluhan mengenai prilaku kekerasan berjalan dengan lancar, mahasiswa mengerti tentang penyuluhan yang diberikan.
    2. Di dalam proses penyuluhan diharapkan terjadi interaksi antar penyuluh dengan mahasiswa yang menerima penyuluhan.
    3. Hasil penyuluhan

Peserta penyuluhan mengetahui dan mengerti dari apa yang disampaikan dengan kriteria mampu menjawab pertanyaan yang akan diberikan oleh penyuluh.

  1. Hasil Tanya jawab :

Peserta mampu menjawab pertanyaan yang diberikan dengan kriteria jawaban sebagai berikut :

  1. Mampu menjelaskan pengertian dari KDRT
  2. Mampu menjelaskan bentuk kekerasan dalam rumah tangga
  3. Mampu menjelaskan factor pemicu terjadinya kekerasan
  4. Mampu menjelaskan dampak dari kekerasan
  5. Mampu menjelaskan upaya pemulihan dan preentif

 

 

 

 

 

 

 

LAMPIRAN I

MATERI PENYULUHAN  PRILAKU KKERASAN

TENTANG KDRT

 

  1. A.    DEFINISI

Konselor Pernikahan Jan Held LPC menjelaskan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) adalah sebuah perilaku manipulatif dan mengontrol yang dilakukan pasangan. Perilaku kekerasan tersebut mencakup empat hal:

  1. Kekerasan Fisik: Anda disebut mengalami kekerasan fisik jika pasangan melakukan pemukulan, ditampar, menarik rambut, mencekik atau melakukan sentuhan (secara kasar) yang tidak diinginkan.
  2. Kekerasan Seksual: Sentuhan secara seksual, hubungan seksual yang tak diinginkan adalah bentuk dari kekerasan seksual.
  3. Kekerasan Psikis: Anda diisolasi atau dijauhkan dari keluarga dan teman-teman, setiap aktivitas dipantau pasangan, pasangan terlalu posesif atau kerap disakiti dengan kata-kata kasar,Jika iya, artinya Anda sudah mengalami kekerasan psikis.
  4. Kecemburuan: Pasangan suka mengancam dan mengintimidasi, pasangan kerap membuat Anda tersakiti dengan merendahkan atau mengucapkan kata-kata kasar, pasangan kerap membuat Anda merasa tidak bisa hidup sendiri, adalah bagian dari kecemburuan.

 

 

 

Kerap kali para pelaku KDRT membuat pasangannya sulit melepaskan diri dari mereka. Pelaku ini bisa melakukan berbagai cara misalnya dengan menguasai atau tidak memberi uang, mencabut akses komunikasi dan tranportasi. Para pelaku KDRT ini pun punya sikap yang naik turun. Berikut tiga tahapan sikap mereka:

 

  1. Tahap Membangun Emosi: pada saat ini biasanya pelaku akan merasa tidak berdaya. Pelaku merasa pasangan yang menjadi korban KDRT seharusnya menenangkan dan pelaku merasa mereka memiliki beberapa cara untuk mengatasi stres.
  2. Tahap Meledak: ketika stres sudah tidak bisa diatasi, pelaku akan kehilangan kontrol diri, pelaku pun akan menyalahkan pasangan atas kekerasan yang mereka lakukan.
  3. Tahap ‘Bulan Madu’: di tahapan ini si pelaku akan insyaf mendadak. Mereka akan minta maaf dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya. Pelaku juga akan memberikan korbannya hadiah. Pelaku mengurangi KDRT-nya. Untuk mengatasi perasaan bersalah, pelaku akan mengalihkan ke hal lain dengan minum alkohol atau memukul orang/benda lain.

 

Untuk korban KDRT, sangat penting dipahami kalau kekerasan yang dilakukan pelaku bukanlah kesalahan Anda. Pelaku biasanya akan melakukan hal tersebut agar tindakan mereka dianggap rasional.

 

 

  1. B.     BENTUK KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA

 

  1. Kekerasan Fisik yaitu perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit, jatuh sakit, atau luka berat. Misalnya perbuatan memukul, menempeleng, meninju, menampar, menendang, mendorong, melempar sesuatu, menjambak rambut, mencekik, dan penggunaan senjata tajam
  2. Kekerasan Psikis, yaitu perbuatan yang bersifat verbal yang mengakibatkan ketakutan, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak, rasa tidak berdaya, dan/atau penderitaan psikis berat pada seseorang. Misalnya mengejek, mencela, menghina, memaki dengan kata-kata kotor, mengancam akan menyiksa, membawa pergi anak-anak, akan membunuh, melarang berhubungan dengan keluarga, atau dengan kawan dekat, atau melakukan intimidasi bahkan isolasi.
  3. Kekerasan Seksual, yaitu pemaksaan hubungan seksual yang dilakukan terhadap orang yang menetap dalam lingkup rumah tangga, dan pemaksaan hubungan seksual terhadap salah seorang dalam lingkup rumah tangganya dengan orang lain untuk tujuan komersial dan/atau tujuan tertentu. Misalnya pemerkosaan,Penelantaran Rumah Tangga(Kekerasan Ekonomi), yaitu perbuatan menelantarkan orang dalam lingkup rumah tangganya, padahal menurut hukum yang berlaku baginya atau karena persetujuan atau perjanjian ia wajib memberikan kehidupan, perawatan, atau pemeliharaan kepada orang tersebut. Misalnya: membatasi pemberian nafkah, tidak merawat anak-anak, meninggalkan rumah tangga dengan tidak bertanggung jawab, memaksa anak-anak mengemis, memaksa anak/isteri melakukan prostitusi.

 

 

  1. C.    AKAR KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA

Untuk melihat persoalan kekerasan terhadap perempuan dan KDRT, maka alat analisinya adalah Analisis Jender. Jender adalah hasil konstruksi sosial-budaya yang membedakan peran perempuan dan laki-laki baik dalam keluarga maupun dalam masyarakat. Pemahaman demikian diturunkan secara kultural dan terinternalisasi menjadi kepercayaan/keyakinan secara turun temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya sehingga diyakini sebagai suatu idiologi.. Sebagai hasil konstruksi sosial-budaya, jender tidak abadi, jender bisa berubah dan bisa diubah dari waktu kewaktu, dan sangat dipengaruhi oleh budaya, pendidikan, kelas sosial, agama, dan ras. Jender juga berhubungan dengan tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak. Karena jender melahirkan perbedaan sosial antara perempuan dan laki-laki yang sering diyakini sebagai kodrat, dan tidak bisa diubah, maka konsep jender mempengaruhi keyakinan tentang bagaimana seharusnya perempuan dan laki-laki berpikir dan bertindak. Misalnya pembawaan perempuan lemah lembut, patuh, emosional, rapuh, sementara laki-laki kuat, gagah, rasional, tegas, dan berkuasa. Perbedaan posisi perempuan dan laki-laki akibat konsep jender tersebut, ternyata menciptakan ketidakadilan dalam bentuk subordinasi, dominasi, diskriminasi, beban kerja berlebihan, marginalisasi dan stereotipe yang merupakan sumber atau akar utama munculnya tindakan kekerasan terhadap perempuan.

Keyakinan bahwa kodrat perempuan itu halus, posisinya di bawah laki-laki, melayani, dan bukan kepala rumah tangga, menjadikan perempuan sebagai properti milik laki-laki yang berhak memperlakukan apa saja, termasuk juga melakukan kekerasan. Hal yang istimewa dimiliki laki-laki sebagai akibat dari konstruksi jender, menempatkan laki-laki pada posisi yang memiliki kekuasaan(power) lebih tinggi daripada perempuan. Pola hubungan demikian membentuk sistem yang disebut dengan PATRIARKI. Idiologi patriarki ini berlangsung dari kehidupan keluarga, masyarakat, dan kehidupan bernegara, bahkan dalam kadar tertentu diperkuat oleh “tafsir: dari ajaran agama. Dalam masyarakat patrilineal(faham patriarki-kebapaan) masyarakat menempatkan pria lebih tinggi, lebih berkuasa, dan sebagai kepala, sedangkan perempuan harus patuh pada suami dan hanya mengurus rumah tangga dan anak-anak. Sistem dalam pemerintahan kitapun masih menganut sistem faternalistik. Inilah akar budaya yang melegitimasi tindakan kekerasan terhadap perempuan dan KDRT.

 

 

  1. D.    FAKTOR PEMICU TERJADINYA KDRT

Ada beberapa faktor yang sering dipandang sebagai pemicu KDRT, yaitu:

  1. Pertengkaran masalah uang, suami mengetatkan uang belanja,  memberi uang belanja pas-pasan, sementara isteri banyak kebutuhan lainnya.
  2.  Cemburu karena isteri bekerja dan memiliki kedududukan dan penghasilan lebih tinggi daripada suaminya.
  3.   Problem/kelainan seksual seperti impotensi, hiperseks, frigid, dan sadisme seksual.
  4.   Pengaruh miras, narkoba, perjudian, dan utang.
  5.  Pertengkaran tentang anak, ketidak serasian cara pandang terhadap cara pendidikan anak,
  6.  Suami di PHK atau menganggur,
  7.  Isteri ingin meningkatkan pendidikan atau sibuk dalam organisasi/bisnis, sering bila isteri bekerja isteri mulai besar kepala karena tidak merasa tegantung lagi pada suami secara ekonomi.
  8.  Kehamilan yang tidak dikehendaki atau kemandulan,
  9.  Poligami dan perselingkuhan, dan lain-lain.

 

 

  1. E.     PROSES KEKERASAN

Kekerasan yang terjadi dalam rumah tangga tidaklah selalu muncul dengan seketika, tetapi terjadi melalui proses tertentu. Secara umum proses terjadinya adalah sebagai berikut:  muncul masalah yang memicu ketegangan, dilanjutkan dengan ungkapan verbal yang kasar kepada suami/isteri atau anak-anak, kata-kata kasar dilanjutkan dengan penyiksaan,  dalam posisi ini perlawanan justru akan meningkatkan ledakan emosi,  setelah puas melampiaskan emosinya, ketegangan menurun, dan diikuti penyesalan dari pelaku.

Biasanya kekerasan dalam rumah tangga khususnya antara suami dan isteri, isteri sebagai korban senantiasa ada dalam posisi yang terpojok, karena isteri senantiasa memiliki beban moral untuk menyelamatkan ikatan keluarga, daripada berusaha untuk menyelamatkan diri sendiri.

 

 

  1. F.     DAMPAK DARI KEKERASAN

Beberapa dampak yang mungkin timbul akibat terjadinya KDRT adalah: Dampak pada istri:perasaan rendah diri, malu dan pasif,gangguan kesehatan mental seperti kecemasan yang berlebihan, susah makan dan susah tidur, mengalami sakit serius, luka parah dan cacat permanen,gangguan kesehatan seksual.

  • Dampak pada anak-anak: mengembangkan prilaku agresif dan pendendam, mimpi buruk, ketakutan, dan gangguan kesehatan,kekerasan menimbulkan luka, cacat mental dan cacat fisik.
  • Dampak pada suami: merasa rendah diri, pemalu, dan pesimis. pendiam, cepat tersinggung, dan suka menyendiri.

 

Korban sebagai perwujudan dampak psikis dari kekerasan yang ia alami. Ketakutan, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak, rasa tidak berdaya, dan/atau penderitaan psikis berat dapat tampil dalam perilaku-perilaku berikut ini:

  1. Kehilangan minat untuk merawat diri, yang tampil dalam perilaku menolak atau enggan makan/minum, makan tidak teratur, malas mandi atau berdandan, tampil berantakan seperti rambut kusut, pakaian awut-awutan.
  2. Kehilangan minat untuk berinteraksi dengan orang lain, yang tampil dalam perilaku mengurung diri di kamar, tidak mau berhubungan dengan orang lain, cenderung diam, dan enggan bercakap-cakap.
  3. Perilaku depresif, tampil dalam bentuk pandangan mata kosong seperti menatap jauh ke depan, murung, banyak melamun, mudah menangis, sulit tidur atau sebaliknya terlalu banyak tidur, dan berpikir tentang kematian
  4. Terganggunya aktivitas atau pekerjaan sehari-hari, seperti sering menjatuhkan barang tanpa sengaja, kurang teliti dalam bekerja yang ditunjukkan dengan banyaknya kesalahan yang tidak perlu, sering datang terlambat atau tidak masuk bekerja, tugas-tugas terlambat tidak sesuai tenggat waktu, tidak menyediakan makanan untuk anak padahal sebelumnya hal-hal ini dilakukannya secara rutin
  5. Ketidakmampuan melihat kelebihan diri, tidak yakin dengan kemampuan diri, dan kecenderungan membandingkan diri dengan orang lain yang dianggapnya lebih baik. Contohnya menganggap diri tidak memiliki kelebihan meski fakta yang ada menunjukkan hal sebaliknya, atau sering bertanya apakah yang ia lakukan sudah benar atau belum
  6. Kehilangan keberanian untuk melakukan tindakan yang ditunjukkan dengan tidak berani mengungkapkan pendapat atau tidak berani mengingatkan pelaku jika bertindak salah
  7. Stres pascatrauma, yang tampil dalam bentuk mudah terkejut, selalu waspada; sangat takut bila melihat pelaku, orang yang mirip pelaku, benda-benda atau situasi yang mengingatkan akan kekerasan, gangguan kilas balik (flash back) seperti tiba-tiba disergap bayangan kejadian yang telah dialami, mimpi-mimpi buruk dan atau gangguan tidur
  8. Kebingungan-kebingungan dan hilangnya orientasi, yang tampil dalam bentuk merasa sangat bingung, tidak tahu hendak melakukan apa atau harus bagaimana melakukannya, seperti orang linglung, bengong, mudah lupa akan banyak hal, terlihat tidak peduli pada keadaan sekitar, tidak konsentrasi bila diajak berbicara
  9. Menyakiti diri sendiri atau melakukan percobaan bunuh diri
  10. Perilaku berlebihan dan tidak lazim seperti tertawa sendiri, bercakap-cakap sendiri, terus berbicara dan sulit dihentikan, pembicaraan kacau; melantur, berteriak-teriak, terlihat kacau tak mampu mengendalikan diri, berulang-ulang menyebut nama tertentu, misalnya nama pelaku tanpa sadar
  11. Perilaku agresif, seperti menjadi kasar atau mudah marah terhadap anak/pekerja rumah tangga/staf atau rekan kerja, membalas kekasaran pelaku seperti mengucapkan kata-kata kasar, banyak mengeluhkan kekecewaan terhadap pelaku
  12. Sakit tanpa ada penyebab medis (psikosomatis), seperti infeksi lambung, gangguan pencernaan, sakit kepala, namun dokter tidak menemukan penyebab medis, mudah merasa lelah, seperti tidak bertenaga, dan pegal/sakit/ngilu, tubuh sering gemetar
  13. Khusus pada anak, dampak psikis muncul dalam bentuk:
    1. Mundur kembali ke fase perkembangan sebelumnya seperti kembali mengompol, tidak berani lagi tidur sendiri, kembali ingin terus berdekatan dengan orang lain yang dirasa memberi rasa aman, harus selalu ditemani
    2. Gangguan perkembangan bahasa seperti keterlambatan perkembangan bahasa, gangguan bicara seperti gagap.
    3. Depresi yang tampil dalam bentuk perilaku menolak ke sekolah; prestasi menurun; tidak dapat mengerjakan tugas sekolah atau pekerjaan rumah dengan baik yang ditandai dengan banyaknya kesalahan, kurangnya perhatian pada tugas atau pada penjelasan yang diberikan orang tua/guru, dan berbagai keluhan fisik.

 

Dampak kekerasan psikis di atas perlu dipahami dalam arti ada perubahan perilaku dari yang tadinya tidak pernah atau hanya sedikit ditampilkan menjadi mulai ditampilkan atau sering tampil pada diri korban. Selain itu, salah satu kesulitan aparat penegak hukum adalah korban mungkin saja datang dengan tidak menampilkan satu pun dari dampak-dampak di atas. Dalam hal ini, penegak hukum diharapkan dapat menggali dampak psikis dengan sabar dan empatis.

 

  1. G.          MERAHASIAKAN TERJADINYA KEKERASAN

Hingga saat ini masih sangat sedikit kasus KDRT muncul ke permukaan. Menurut Masri Singarimbun(1990) paling sedikti ada 8 faktor mengapa perempuan lebih suka merahasiakan terjadinya berbagai bentuk kekerasan terhadap diri mereka sendiri, yaitu:

  1. Citra diri perempuan rendah
  2. Percaya suatu saat suami akan berubah
  3. Ketergantungan ekonomi pada suami
  4. Kebutuhan anak-anak akan dukungan ekonomi dari ayah mereka
  5. Ragu apakah mereka dapat hidup sendiri
  6. Perceraian membawa malu/aib
  7. Sulit mendapatkan pekerjaan bagi wanita yang punya anak
  8. Buta hukum dan tidak tahu kemana harus mengadu.

 

 

 

  1. H.          UPAYA PEMULIHAN DAN PREVENTIF

Beberapa upaya/langkah pemulihan dan preventif terhadap kekerasan terhadap perempuan dan KDRT adalah:

  1. Dharma Wanita/BKOW atau LSM yang perduli pada perempuan  membuka HOTLINE sebagai wadah curhat dan konsultasi para korban kekerasan.
  2. Dharma Wanita/BKOW atau LSM yang perduli tentang perempuan mengkoordinir suatu wadah atau asosiasi para korban kekerasan. Wadah seperti ini mengadakan pertemuan secara rutin untuk bertukar pikiran, berdiskusi, dan sharing tentang berbagai masalah yang dihadapi dan bagaimana jalan keluar yang baik dari masalah yang ihadapi oleh perempuan.
  3. Menjalin hubungan keluarga yang harmonis dan terbuka antara suami- istri-anak dan keluarga lainya.
  4. Menanamkan nilai-nilai agama
  5. Perempuan agar berpakaian yang sopan dan tidak mengundang birah dan kejahatan.
  6. Perempuan harus berani dan tegas dalam menghadapi laki-laki agar mereka merasa segan pada perempuan.
  7. Anak-anak gadis harus bisa berpikir kritis dan rasional apabila teman  lelakinya ingin berbuat yang tidak pada tempatnya
  8. Kendatipun suami dan isteri sama-sama sibuk, cobalah beri perhatian pada anak-anak dan luangkan waktu untuk berdiskusi dan bercanda dalam keluarga
  9. Dalam rumah usahakan agar anak laki-laki dan anak perempuan tidak tidur sekamar setelah usia 01 tahun ke atas. Demikian juga kakek dan cucu perempuannya.
  10. Perhatikan kamar mandi agar tidak ada lobang yang bisa tempat mengintip
  11. Biasakan selalu mengunci kamar pada saat ganti pakaian dan tidur
  12. Biasakan merajia kamar anak-anak pada saat mereka tidak ada untuk mengetahui apakah ada obat-obatan terlarang, VCD porno, majalah porno dan lain-lain.
  13. Jangan menghadapi masalah dalam rumah tangga dengan emosi, atau  menaruh curiga yang berlebihan pada istri/suami.
  14. Bila salah satu pasangan sedang marah/emosi, sebaiknya yang lain menggunakan ilmu Silence is golden, baru kemudian mendiskusikannya pada saat-saat yang memungkinkan.

 

  1. I.             HEALTH EDUCATION KLIEN KDRT

            Healty education yang bisa kita beri kepada klien yang mengalami KDRT adalah :

  1. Setiap Anda mengalami kekerasan, abadikan bekas-bekas kekerasan itu dalam sebuah foto. Hal ini akan sangat membantu Anda karena bisa dijadikan sebagai bukti yang konkrit.
  2. . Buatlah catatan tiap kali kekerasan menimpa Anda.
  3.  Hubungi orang terdekat atau mereka yang bisa dipercaya. Jika memungkinkan, keluarlah dari rumah dan cari perlindungan.
  4. KDRT sudah memiliki hukum yang jelas di Indonesia. Para pelaku bisa mendapatkan balasan yang setimpal. Jangan ragu untuk menghubungi pihak berwajib, jika memang jiwa Anda terancam.
  5.  Mulailah melepaskan ketergantungan terhadap pelaku kekerasan. Jika dalam hal ini si pelaku adalah pasangan, maka jangan biarkan dia menyebut Anda seseorang yang tak berguna. Jangan sampai ia meyakinkan Anda bahwa tak bisa melakukan apa-apa tanpanya. Yakinkan pada diri Anda, bahwa tanpa orang yang menyakiti, hidup Anda pasti lebih baik.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PENUTUP

Tindak kekerasan terhadap perempuan dan KDRT tidak kenal usia, status, etnis, warna kulit, tempat dan waktu. Selalu mungkin saja terjadi, bukan saja karena ada niat, tetapi juga terbukanya peluang untuk melakukan tindak kekerasan tersebut. Berbagai bentuk tindak kekerasan seperti dalam rumah tangga, perkosaan, pelecehan seksual, perdagangan perempuan, kejahatan perkawinan dan tenaga kerja. Jenis kekerasan seperti kekerasan fisik dan nonfisik(psikologis). Berbagai tindak kekerasan ini terjadi tentunya karena adanya relasi atau interaksi sosial yang semakin terbuka dan dipengaruhi oleh berbagai nilai demokrasi, modernisasi dan nilai-nilai global yang semakin melemahkan nilai-nilai budaya dan moral kita. Adalah tanggung jawab kita semua untuk memahami permasalahan kekerasan terhadap perempuan dan KDRT. Satu hal yang perlu kita sadari bahwa kekerasan terhadap perempuan/KDRT oleh suami, misalnya, sering sekali adalah akibat prilaku istrinya sendiri yang terlalu emosional dan tidak rasional tatkala menghadapi masalah dalam rumah tangga. Laki-laki, bukan hanya perempuan perlu instrospeksi diri untuk melihat sumber-sumber pemicu kekerasan dalam rumah tangga antara suami dan isteri dan anak-anak. Kita perlu sadar hukum, perlu berani bertindak, dan terbuka. Demikian pula tidak menabukan masalah pendidikan seks kepada anak-anak