ego


Semakin mendekati akhir perjalanan saya menjadi pengurus legislatif di struktural kampus ternyata semakin mengkerucut konflik yang kerap terjadi. Dimulai dari konflik pribadi, hingga berujung kearah organisasi. Bagi saya konflik memang harus ada, namun ada penegasan batas dibalik konflik dan dinamika organisasi kemahasiswaan.. Satu kata penyebab semua ini adalah ego.

“Tanpa ego manusia akan kehilangan kreatifitas”

Itu statemen lugas yang disampaikan oleh moderator dalam diskusi bersama Mapala Cakra Bhuwana beberapa hari lalu. Pada dasarnya saya sepakat, mengingat manusia adalah mahluk yang paling egois. Karena demikian juga saya. Namun pertanyaannya sekarang adalah : “Sebatas mana?” Mengingat setiap hal yang berlebihanpun akan menimbulkan dampak negatif. Lalu? Bagaimana mengatisipasi keberlebihan dari “kewajaran” tersebut?

KESADARAN

Definisi kesadaran disini tidak berarti siuman ketika pingsan atau bermakna moksa (pelepasan jiwa dari ragawi dalam paham umat Hindu ). Akan tetapi kesadaran akan dimana ego berada. Bagi saya tidak ada salahnya sebuah ego begitu berapi-api pada fase organisasi kemahasiswaan. Karena poin dari semua kegiatan kemahasiswaan adalah “proses”, atau kata yang lebih gampang dipahami adalah “pembelajaran”. Lebih spesifik lagi, poin dari kesadaran-terhadap-ego-dalam-organisasi-kemahasiswaan adalah kesadaran terhadap pengelolaan ego itu sendiri. Mempergunakan ego pada ruang dan waktu yang tepat. Karena ego yang tidak terarah dapat mengahancurkan kita sendiri pada akhirnya. Ego adalah kekuatan besar, ego adalah pusaran yang sangat kuat. Ibarat pisau belati, ia dapat membantu ataupun dapat membunuh.

Mari kita melihat ego kita sendiri, sejauh mana kita telah mempergunakannya