#kacamataAB


Janji merupakan hal yang harus ditepati. Jika tidak akan jadi sebuah hutang. Begitulah kurang lebih orang tua kita mengajarkan kesederhanaan sebuah janji. Hampir seluruh koloni bumi pernah berjanji. Entah itu janji yang tergolong gedongan atau tergolong sekedar ucap. Bagaimanapun janji harus dibayar. Bukan begitu?. Kita akan menyimak ceritera tentang jono. Itupun kalau anda juga ingin menyimak kisah ini. kisah yang di saksikan lewat kaca mata seorang AB.
Si Jono. Anda mungkin sudah akrab dengan orang ini. jono memiliki adik bernama Joni. Jono memiliki isteri bernama Dina. Ya jika anda sudah membaca kisah kacamata AB sebelumnya mungkin anda sudah mengetahui apa pekerjaan jono. Bagi anda yang belum mengetahui silahkan baca kacamata AB, itupun jika anda sedang berminat untuk membacanya. Seperti di kisahkan jono adalah si golongan darah AB. Si aneh yang di bilang aneh oleh orang lain. Yang kadang pola pola hidupnya tidak dapat dimengerti dan tidak mudah untuk menebak apa yang sedang atau ingin dipikirkannya. 6 bulan setelah perjalanannya ke kota. jono sekarang lebih banyak diam. Jono sedang menunggu sesuatu. Sesuatu yang penting di dalam hidupnya. Pengumuman hasil ujian masuk perguruan tingginya. Perguruan tinggi yang sangat di inginkannya. Di impikannya saat dulu. Saat ayah jono masih ada. Saat jono masih sangat kecil. Saat jono sedang berlibur bersama ayahnya. Ia ingat saat bahagia sangat dekat dengannya. Saat langit masih sangat bersahabat. Saat hutan masih sangat lebat. Saat itu persis hujan seperti saat ini. Hujan yang datang gerimis. Air turun begitu indah dan lembut mengelus seluruh halaman rumah jono. Jono getir sekali. Jono kecil sempat mengucap janji kesatria. Janji seorang AB sejati. Ia berjanji kepada ayahnya akan masuk kuliah di perguruan tinggi itu. Di universitas ternama itu. Ayah jono menyetujui, menyeringai kecil menimpali janji anaknya. Janji masa kecil jono. Saat aku masuk disini aku akan memotong rambut ayah. Itu janjinya. Janji yang lantas harus ditepati. Janji yang hampir dilupakan. Janji yang dia sendiri hampir tak ingat. Kalau saja Saat merapikan rumah, tak menemukan kaleng itu, mana mungkin dia bergelora lagi. Janji yang hampir mati. Janji yang saat ia kecil seperti sudah kepastian akan masuk di universitas itu. Aku akan memotong rambut katanya. Sepertinya kecil sekali janji itu. Dibalik hal kecil itu, di balik semua perkataan kecilnya itu. Hal besar segera menantang untuk dilaluinya. 2 tahun yang lalu jono menemukan kaleng itu. Waktu 2 tahun bagi jono adalah waktu yang sangat sedikit. Jono harus membagi waktunya. Belajar. Mengurus sapi. Mengurus ladang. Bahkan mengurusi keluarganya sendiri. Ibu jono sakit-sakitan. Adik jono butuh biaya sekolah. Jono kerja banting tulang plus belajar. Bukan perkara mudah bagi jono. Saat ayahnya meninggal. Jono adalah anak sulung yang harus menggantikan sosok ayah itu. Umurnya baru 9 saat itu. Sudah seperti lupa apa itu kenakalan remaja. Di saat orang lain duduk dikantin sekolah, menyapu berpuluh-puluh batang rokok, mencoba menikmati hidupnya kenakalan remaja. Jono harus banting tulang. Berdua bersama si joni. Ada rasa jengkel di hati ketika duo jon ini harus bertanggung jawab terhadap kehidupannya. Baru sejak kelas 3 SMA ia merasa tenang.
Semenjak kelas 2 SMP ia menggeluti padi, menjadi pemborong. Menjadi pebisnis padi. Sekarang jono kecil sukses. Sepertinya tuhan bermurah hati ke jono. Sukses bukan kepalang. Cara berpikirnya berkonsep. Jono belajar. Jono cerdas. Jono memang sempat menjadi buruh di sebuah tempat penelitian padi. Disitu sumber ilmu padi di dapatnya. Memilih benih sampai cara-cara lainnya dipelajari dengan baik. Jono belajar bisnis dari ibunya. Dulu ibunya sempat membuka sebuah toko yang sederhana. Jono kini meneruskan toko itu dan menjadi semakin besar denga cara-caranya. Di desa itu tidak ada yang tidak kenal jono. Anak SMA berpenghasilan besar. Jono dan joni 2 pemuda kecil yang di segani dedesa itu. Saat ia mulai akan lupa dengan janji kecilnya. Kaleng itu seperti datang padanya. Sejenak setelah membaca surat semasa kecilnya ia tertegun, mengernyitkan dahi. Mengusap-ngusap mata seperti berkaca-kaca. Teringat kenangan kecilnya bersama ayah. Saat itu seperti berpikir keras bahwa ia harus. Dan harus. Ia terkenal dengan ketepatan janjinya. Kedisiplinannya. Itu hal yang membuatnya berhasil. Ia berfikir. Sudah saatnya ia menyerahkan urusan di desa itu ke adiknya joni. Dan ia akan ke kota masuk perguruuan tinggi yang telah menjadi janjinya. Suksesnya harus merambah ke dunia akademik dan bisnis di kota. Di kota saja ia sudah merencanakan sesuatu yang besar. Besar sekali. Perencanaan yang amat matang untuknya. Sudah dipikirnya masak-masak beberapa bulan terakhir. Membayar janjinya adalah hal besar lainnya yang termasuk dalam rencana kepergian bersekolah di kota. Rencana besar itu seperti kosong . tidak ada yang bisa melihat perencanaan itu bahkan ibunya sendiripun tidak. Orang desa dan seluruh kenalannya pun tidak. 6 bulan yang lalu. Rencana itu sedikit demi sedikit di lancarkan. Menanam benih perencanaan. Melakukan segalanya yang diperlukan.dan Untuk bisa masuk universitas itu jono belajar. Jono seperti marasa kiamat. Jono belajar seperti tidak ada hari lain lagi. Pontang panting. Melihat kakaknya joni hanya perlu mendukung. Seperti yang dilakukannya selama ini. Tidak ada ambisi yang gagal. Ia menantang kejamnya dunia, Bahkan semenjak masih ingusan. 2 hari lagi hari pengumuman tiba. Seperti biasa dalam proses menunggu, ia melakukan apa saja seperlunya. Hasil yang akan datang 2 hari lagi itu bukan masalah lagi. Sudah tuntas bahkan semenjak 2 tahun yang lalu. Baginya tuhan pasti berbaik hati. Tersenyum melihat pengorbanannya yang tak sekalipun menyerah. Seorang petarung sejati. Seorang AB sejati.
Hari ini gerimis jam 5 pagi. Tukang koran akan datang jam 7 pagi. Seperti biasa jono hanya terdiam. Ya menunggu si loper koran berteriak di depan gerbang. Hari ini adalah hari kelulusannya. Meskipun tahu ia akan lulus. Ia tetap getir. Menunggu si loper koran. Aroma kopi memenuhi hidung jono. Ia sengaja duduk di depan rumah kontrakannya. Hah rumah kontrakan!!. ia bahkan sudah mengontrak sebuah rumah dengan jangka waktu 5 tahun. Apa yang sebenarnya di pikirkan si calon mahasiswa itu. Sudah ku bilang kan. Tidak ada yang tahu apa yang dipikirkannya. Tepat pukul 6.30 saat seruputan kopi terakhir gerimis itu mereda. Berganti cerah berpelangiria. Indah sekali pagi itu. Si loperkoran datang tepat setelah pelangi mulai agak mengabur seperti terusir matahari. Jam menunjukan pukul 7. Koran di lempar kehalaman. Pelan tapi pasti langkahnya tegap menuju ke arah koran jatuh. Mengambilnya. Kemudian bergegas ke arah kursi di beranda rumah. Pelan-pelan ia membuka koran itu. Sampai pada halaman yang di tuju ya halaman 7. Di sana terlihat jelas tertuis 560 anak yang diterima di universitas itu. Ia tak susah mencari namanya. Ada di urutan 1 sebagai penerima beasiswa 5 tahun. Tidak ada yang menarik lagi dikoran itu. Sudah cukup baginya. Cukup. Menaruh koran. Lalu menuju ke sebuah ruangan. bergegas mengambil motor. Berkeliling kota mencari salon atau tempat bercukur. Sayang sekali. Tukang cukur dimana-mana sedang tutup. Sepertinya ia sedang tidak bisa bertemu dengan tukang cukur. Tukang cukur seperti barang langka. Seketika menjadi barang mewah. Bahkan untuk membayar mahalpun tak apa. Demi memenuhi janji itu. Ia bahkan tersesat-sesat. Tidak ada. Sama sekali tidak ada. Entah mengapa di tengah keputusasaannya ia malah mengebutkan motor menuju rumah kontrakan. Pulang. Mandi. Yang ia lakukan bukan mencari tukang cukur lagi.ia tersenyum aneh. Aneh sekali. Anehnya seorang AB. Ia mengambil pisau dapur. Memotong rambut paling panjangnya. Kemudian ia tertawa tawa.

Hahahahahahahaha. Tuhan pun sedang tertawa melihat tingkahnya. Ya ampun tuhan sampai terpingkal-pingkal. Melihat jono yang sedang dikerjainNYA. Lihat saja anak itu menemukan solusinya. Semuda itu berpikiran sederhana yang sangat cerdas dan megah. Hei lihat cara berpikir si AB. Saat anak lain yang berjanji memotong rambut. Bingung mencari tukang potong. Dan saat tidak menemukan tukang. Malah menunda untuk memotong. Anak ini. Si AB ini malah cuman potong ujung rambutnya saja. Baginya sudah terbayarkan. Coba dipikir2 emang sudah lunas kan ya. Potong cuman pake pisau dapur lagi. Ia sempat berbisik. Aku sudah memenuhi janjiku ayah. Aku memenuhi janjiku untuk potong rambut. Bukan untuk masuk di universitas ini. Aku sudah memenuhi perjanjian masuk universitas ini 2 tahun yang lalu saat aku sudah bertekad ayah. Janjiku saat pengumuman tiba adalah potong rambut. Itu janji terbesarku. Hampir saja aku terkecoh Tuhan ayah. Hahahaha. Ia mengarahkanku berbipikir beda. Terimakasih ayah. Dukunglah aku. Senyum jono merekah sekali.