Cerita kabaret yang terlantar untuk oshogatsu


Kata temen sekamar, udah tuh cerita posting aja siapa tahu ada yang comot lumayan berkah juga kan.. Dari pada udah di buat gag di pakek… kadang temen sekamar emang top hahaha… silahkan comot.. kisah ini sudah pernah di coba hanya berdurasi 8 menit gag lebihh.. pas untuk pementasan dengan durasi yang super pendek…

Alkisah seorang bapak dan anak. Di sebuah desa.

Kernet: pasar minggu, kebon jati, kampong rambutan, yooo yooo naik naik be, nyak, non, tante.

 Naik be nyak, cepet. Pasar minggu kebon jati kemayoran kampong rambutan. (teriak teriak).

Ayah: (mengangkat tangan)

Lalu ayah dan anak masuk ke dalam bus. Tak berselang lama pengamen kurus tinggi banci pula naik ke dalam bus.

Kernet : nyok naik be (logat betawi)

Pengamen: bapak ibu semua para penumpang, maaf kan saya atas ketidak nyamanan kalian (gaya  banci ). Dari pada saya nyopet nyuri, mending saya nyanyi. Dari pada saya nipu, jual diri mendingan saya nyanyi. Bagi bagi rejeki bagi yang membutuhkan mudah mudahan bapak ibu masuk surga. ( nyanyi bentar langsung ngambilin duit)

Diah : (ngasih duit).

Pengamen: kiri pir (Si bancipun turun)

Anak: yahh, lihat yaahhhh, lihatlah pohon pohon bergerakk, ayahhh lihatt. (gaya super lebay)

Ayah: (tersenyum dan mengangguk sambil mengelus ngelus kepala sang anak).

Anak: yaaahh lihat lagi lihat lah burungnya terbang yaahh, burungnya terbang. Kawaiii (gaya super lebay)

Ayah: (tersenyum dan mengangguk sambil mengelus ngelus kepala sang anak).

Tukang rumpi 1 : duh itu anak gila kali ya. (menampakan muka ketidak sukaan)

Tukang rumpi 2 : emang tuh dari tadi lebay sekali. Suka ribut.

Tukang rumpi 3 : tuh anak penampilannya gitu lagi. (ikut nimbrung dengan tukang rumpi 1 dan 2).

Mereka bertiga terus saja berbicara di beakang sang ayah.

Anak: ayah lihat lihat ada mataharii, lihat lihat ada pohon dan burung. (super lebay)

Ayah : (tersenyum dan mengangguk sambil mengelus ngelus kepala sang anak).

Tukang rumpi 1 : pak pak. Anaknya bawa ke dokter sana. Begitu kok di biarin.

Tukang rumpi 2 : iya pak, aneh sekali. Saya ada kenalan psikolog kkalau bapak mau. Tunggu saya ambil

kan kartu namanya.

Tukang rumpi 2: nihh pak. ( member kartu nama seorang psikolog)

Ayah: maaf bu, saya baru datang dari dokter. Maafkan kelakuan anak saya. Anak saya baru sembuh dari operasi matanya. sejak kecil ia sudah mengalami kebutaan. Hari ini adalah hari pertamanya melihat dunia. Hari ini baru saja ia bisa memandang dunia. (Berbicara sambil tersenyum)

 

Semua orang di dalam bus terdiam,

Lalu mbak diah berjalan seperti turun dari bus di ikuti ayah dan anak dan di ikuti pula semua kru, saling bergandengan tangan . mereka semua terdiam, menatap penonton lamat lamat. Kemudian sang anak tersenyum melihatkan giginya.(rencana gigi diisi coklat)

Mbak diah : Terlalu sering kita menilai sesuatu, terlalu hebat untuk menjadi hakim. Lalu bagaimana hidup orang yang kita hakimi(seperti bertanya). Bertanyalah pada diri sendiri.

Cerita ini hanya sebuah konsep.. bila hanya di baca tak akan menarik. Kurang lebih begitu