Untuk Setiap hela nafas anak adam dia telah berkorban,..

Tidak perlulah lagi di sebutkan apa pengorbanan ayah dan ibu,..

Ayah ibu layaknya daun yang menghidupi kehidupan tuhan…

Memelihara kebaikan,… melanjutkan kebaikan,..

Seperti daun yang jatuh, ingatkah kita daun pernah muda, lalu menjadi kecoklatan kemudian jatuh renta, berujung di atas tanah,…

Dimasanya ,ia menyumbang oksigen untuk kebaikan paru dan organ.

Udara sepertinya murah dan gratis.

Namun di balik itu semua yang di anggap tak seberapa, ada pengorbanan daun yang rela terkena sinar mentari , menua lalu jatuh. Tertiup angin yang berisikan oksigen.. angin rela,… Ia angin rela,…

Apakah daun marah… tidak, bahkan ia senang, ia berjumpa dengan tanah, lalu rela menyuburkan tanaman…rela menjadi makanan dari cacing cacing,..

Apakah kita rela menutup mata pengorbanan ayah ibu?? Entahlahh, hanya sanubari yang dapat menjawabnya,… aku rindu memeluk ibu dan ayah,… seperti angin yang tak pernah malu memeluk dedaunan yang jatuh,…

Semut diantara daun mencari secercah makanan sisa,.. yang di buang manusia,….

Untuk sanak saudara di koloninya,… jangan Tanya seberapa keras hidupnya… pernahkah ia mengeluh,.. sudah tentu kita semua tahu,.. tidak pernah ada keluh dari sang semut,.. seberapa besarpun beban pikulnya,..

Lorong panjang yang harus di tapaki seperti menapaki kehidupan… tidak ada yang mudah,..

Jika tidak keras maka kehidupanlah yang berkeras,… sudah terlanjur jauh menapak,.. akankah pulang kembali,.. tidak tidak usahlah jawabannya,….

Alam sekitar mengajari kita bagaimana kita memaknai hidup yang sesungguhnya,…