#kacamataAB


Hari ini dina pergi ke tempat kursus bahasa jepang. Dina tidak lagi di datangi  sang samurai yang berhadapan di depan pintu yang melihat kea rah kaki jono.  Mobil pak rey sedang rusak jadinya jono yang nganterin dina. Naik mobil jeep klasik mobil baru kesayangan jono. Hari ini vespa jono menganggur lagi.

Polusi pagi memang terihat lebih sedikit di langit langit biru denpasar. Sekitaran jalan jendral su, pahlawan pengusir penjajah dahulu. Dina turun dari mobil jeep jono. Entahlah mengapa dina seperti terburu buru hari ini. jono tak mau mengucap sepatah katapun. Ketakutan akan sebuah kesalahan itu membuatnya bungkam di seribu kabut pagi yang menggelantung.  Tidak ada sedikitpun keinginan untuk mengusik hati dina. Takut kata kata terseubung itu keluar lagi. Walaupun jono beum mengerti betul ungkapan misteri seribu Tanya itu. Jono tak mau ambil pusing.

Hari ini aku terambat. Sepatah kata keluar dari dina. Ketika tiba di depan kelas di dekat sebuah gallon besar 2 berjejer. 1 berisi air dan satu lagi kosong.  Biasanya saat ujian seperti ini sensei datang tepat waktu. Entah karena macet yang tidak bisa di jadikan alasan, atau apalah, sensei lebih terlambat di bandingkan dina.

Duduk di bangku depan dina menyapa jeni. Hey jen, sudah belajar kau jen??. Hari ini dimulai dengan kotoba tesuto (tes kosa kata = berasal dari dua suku kata, kotoba artinya kosa kata dan tesuto berarti tes, kata serapan dari bahasa asing) yaah jenn?. Yoi, jeni menjawab tanya dari dina. Goi dalam bahasa Indonesia adalah (kosa kata), dan tango juga memiliki arti yang sama (kosa kata).

Di sebuah Negara dimana agama di anut. Manusia aneh itu cenderung membandingkan apa yang diyakininya dengan apa yang di yakini oleh orang lain. Dan lucunya, di tunggangi pihak tak bertanggung jawab. Orang yang lebih tahu malah cenderung memperbudak pihak lain untuk saling menghancurkan. Alangkah hebatnya dunia jika damai itu lebih prioritas di bandingkan dengan minyak, uang atau kedudukan.

Anda mungkin sudah tahu kelanjutan cerita dina. Dari penjelasan di atas. Endang(karakter berwibawa dengan nama perempuan tetapi ia adalah lelaki tulen gagah ganteng).  Dari tengah sleding Iko menyela pembicaraan jeni dan dina. Jeni hari ini tuh bukan kotoba tesuto, tapi  dimulai dengan tango tesuto.  Di pinggir sebelah kiri dengan cepat gita menyela pembicaraan mereka. Hey yang bener tuh goi tesuto.  Endang menengahi pembicaraan itu dengan penjelasan bahwa semua itu sama. Tetap saja mereka tak terima. Menggerutu, seakan merka sendirilah yang benar. Sampai sensei datang lalu mengucapkan goi tesuto di mulai. Dari pinggir kiri gita merasa yang terbaik karena merasa di benarkan pernyataannya walau secara tidak langsung. Sesaat setelah ujian usai ending mengkonfirmasi kembali kepada sensei. Penjelasan yang di berikan oleh senseipun sama dengan penjelasan ending. Dari situlah pemikiran baru kemudian terbuka. pertanyaannya di kehidupan saat ini, masih adakah orang seperti endang , kemudian masih adakah orang seperti sensei.