#tikusbesarbermain


Naik motor legenda astrea dari rumah, ku bonceng istriku.  Tepat di jalanan lurus di dekat pasar sebuah Toyota melaju kencang datang tepat debelakangku, mobil mewah itu seketika mementalkan aku dan istriku.

Bubar-bubar!!!. Paijo memukul-mukul preman yang tertinggal dari kawanannya. Bogem- bogem mentah terlayang kepada kepala-kepala pemberotak. Preman-preman yang umpatannya di takuti, bahkan tak kelihatan batang hidungnya. Puluhan anggota TNI menyerbu markas-markas PSK itu. Beberapa rumah mulai di geledah, dan di gasak habis. Beberapa yang baru mengetahui adanya pasukan yang datang lari terbirit-birit. Kawasan itu yang awalnya penuh dengan serba serbi music khas klub malam, sepi sekali. Satu dua orang saja yang terlihat melintas. Tidak ada aktivitas seperti sebelumnya.

Seminggu sebelum aksi penyerbuan itu. Riko  mulai adu mulut dengan anak dari ketua preman pemegang lokalisasi. Riko sering sekali datang ke klub malam, sekedar melepas penat atau sekedar melihat-lihat situasi. Datang setiap 2 hari di klub itu, sudah terlihat biasa oleh orang-orang disana, ia sudah memiliki akses plus. Psk langganannya pun sudah tahu jadwal pasti riko datang. Akhir-akhir ini, riko membuat masalah dengan anak preman ketua.  Preman ketua tak ambil pusing dengan hal itu. Penting baginya hanya uang. Selama Riko bisa memberikan uang ia boleh bermain di areanya.

3 hari sebelum penyerbuan itu. Riko tak membayar tagihan dari apa-apa yang di pesannya. Mengetahui hal itu ketua memanggil riko. “rik, aku tahu kau pelanggan tetap kami, bila seandainya kau tak membayar, bagaimana aku menyiapkan yang terbaik bagimu lagi” kata ketua. Ketua mengajak riko ke ruangannya. Disitu ketua membulak-balikan, sebuah revolver  kesayangannya. Riko sedikitpun tak panik.  Riko hanya terdiam. Mulai memijit mijit jarinya. ketua seketika berdiri, dan menaruh tepat di pelipis anak muda berbadan tegap itu, revolver yang sudah terkokang. Sedikit demi sedikit ditariknya pelatuk itu. Duarrrrghhhh… suara revolver menggelegar.